Kisah Perjuangan Ibunda Nabi Musa AS (Bagian ke-1)

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

Syahida.com – Kisah ibunda nabi Musa AS adalah sebagian dari kisah nabi Musa AS. Kisah nyata yang terdapat dalam surat Thaaha dan surat Al-Qashash ini, menceritakan tentang kondisi ibunda ketika sedang mengandung Musa AS dan kondisi Musa AS pada saat setelah dilahirkan.

Pada saat itu terdapat seorang penguasa yang sombong, zhalim, dan perusak, yaitu Fir’aun. Ia meneror orang-orang Bani Israil dengan sangat sadis, yaitu dengan menyembelih anak-anak lelaki dari Bani Israil dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Untuk itu ia senantiasa mengawasi persalinan kaum perempuannya. Jika seorang perempuan melahirkan anak laki-laki, serta merta algojo langsung merebutnya lalu menyembelihnya. Sedangkan jika perempuan itu melahirkan anak perempuan, mereka membiarkannya hidup.

Allah SWT berfirman,

أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ [٢٨:٤]

“(Fir’aun) menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)

Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan sebagaimana yang diterangkan dalam ayat di atas. Hingga kini Fir’aun menjadi model penguasa yang zhalim dan angkara murka, di mana seharusnya seorang penguasa itu melindungi dan memelihara nyawa dan darah rakyatnya, terlepas dari apapun tingkat atau status masyarakat tersebut.

Ketika ibunda Musa AS akan melahirkan, ia merasa takut terhadap Fir’aun dan bala tentaranya karena jika melahirkan bayi laki-laki maka ia tidak akan hidup, para tentara Fir’aun pasti akan merampasnya untuk mereka bunuh. Jika dia menyembunyikan bayi laki-lakinya itu di rumahnya, maka apakah mungkin dapat menjamin hidupnya? Karena bayi bukanlah perabotan rumah tangga yang tidak bergerak dan diam, seorang bayi itu pasti suka menangis, yang mungkin dapat memancing perhatian bala tentara Fir’aun. Bayi itu pun tidak mungkin memahami kondisi ibunya lalu berhenti menangis, bayi pasti akan menangis apapun yang terjadi.

Ketika ibunda melahirkan, ternyata bayinya laki-laki, itulah Musa sang bayi. Ia lahir dalam kondisi bahaya yang mencekam.



Lalu Allah SWT berfirman,

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ

“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia!”” (Al-Qashash: 7)

Dalam ayat lain peristiwa ini juga diceritakan,

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّكَ مَا يُوحَىٰ [٢٠:٣٨]

“… Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu (hai Musa) suatu yang diilhamkan…” (Thahaa: 38)

Allah SWT mengilhamkan ibunda Musa dengan cara Rabbani yang terjamin, yang dengannya Musa AS terpelihara dan terhindar dari kebengisan Fir’aun. Sebagaimana kita ketahui bahwa bayi yang disusui biasanya tidak akan menangis.

Ilham dari Allah SWT kepada ibunda Musa selengkapnya adalah sebagai berikut,

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [٢٨:٧]

“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”” (Al-Qashash: 7)

Ayat di atas mengandung 2 perintah, 2 larangan, dan 2 kabar gembira untuk ibunda Musa AS, yaitu:

  • Dua perintah itu adalah: “Susuilah dia” dan “jatuhkanlah dia ke sungai (Nil)”.
  • Dua larangan itu adalah: “janganlah kamu khawatir” dan “janganlah (pula) bersedih hati”.
  • Dua kabar gembira itu adalah: “sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu” dan “menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.

Dalam ayat lain Allah SWT juga mengabarkan kepada kita,

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّكَ مَا يُوحَىٰ [٢٠:٣٨]

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ ۚ

“… Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu (hai Musa) suatu yang diilhamkan, Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya…”” (Thahaa: 38-39)

Dalam ayat di atas Allah SWT memberikan ilham kepada ibunda Musa AS untuk berbuat demi menyelamatkan anak laki-lakinya dengan cara yang unik dan menegangkan, yaitu meletakkan Musa sang bayi ke dalam peti kemudian dilemparkan ke sungai Nil. Allah SWT telah menakdirkan bahwa sungai itu pasti akan membawa petinya ke tepi, supaya diambil oleh Fir’aun, musuh Allah SWT dan musuh nabi Musa AS. Sungai Nil termasuk sungai terpanjang di dunia, panjangnya mencapai 6.650 km.

Setelah Musa sang bayi dihanyutkan oleh sungai Nil, akhirnya dia dipungut oleh keluarga Fir’aun.

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun…” (Al-Qashash: 8)

Memang benar bahwa Allah SWT memberikan kabar gembira kepada ibunda Musa melalui ilham bahwa bayi laki-lakinya akan berada dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah SWT, dan tidak seorang pun akan dapat menjahatinya karena Allah akan melindunginya. Namun ibunda Musa tidak menyangka kalau sungai itu justru akan mengantarkan Musa ke istana Fir’aun.

Kegamangan, rasa was-was, dan kecemasan meliputi perasaan ibunda Musa, sementara setan berusaha untuk melancarkan godaan dan hasutan kepadanya, sebagaimana yang Allah SWT firmankan,

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا ۖ إِن كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَن رَّبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿١٠﴾

“…Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)….” (Al-Qashash: 10)

— Bersambung…

Share this post

PinIt
scroll to top