Rahasia Kecerdasan Melalui Al-Qur’an

Ilustrasi. (Foto : voqonline.com)

Ilustrasi. (Foto : voqonline.com)

Syahida.com – Istilah ‘cerdas’ seringkali dilekatkan pada hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan atau pelajaran sekolah. Jika gagal dalam hal tersebut, anak pun dikatakan tidak pintar. Padahal, cerdas yang membawa kesuksesan sangat bergantung pada terkumpulnya kemampuan, pengelolaan emosi, bakat dan kematangan spiritual seseorang.

Wow.. tampaknya susah, ya, mencapai kecerdasan yang begitu banyak? Jangan khawatir, Al-Qur’an ternyata mampu membuat seseorang memiliki multi kecerdasan.

Intelegensi yang Mumpuni

Dr H Ahmad Kusyairi Suhail, MA mengatakan, anak yang di back-up dengan Al-Qur’an akan ahli di bidang apa saja. Sebuah tesis di Arab Saudi membuktikan bahwa hampir semua anak yang mendapat peringkat tertinggi di kelasnya adalah anak yang ikut halaqah Qur’an, ini merupakan petunjuk dan sejarah lahirnya para ulama.

Membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, perlu konsentrasi penuh. Semakin tinggi pemahaman seorang Muslim tentang tajwid, ditambah ilmu lainnya, seperti tata bahasa dan bahasa Arab, maka akan semakin bertambah cerdas lagi otaknya. Dengan berlatih atau membiasakan diri membaca Qur’an, otak terbiasa bekerja multitasking saat membaca sekaligus berkonsentrasi pada banyak informasi lain dalam setiap huruf, seperti hukum tajwid, terjemahannya, juga alunan irama yang dilantunkan.

“Nah, sekarang bagaimana kita sosialisasikan kepada para orang tua agar mendidik anaknya untuk dekat dengan Al-Qur’an sejak dini. Minimal setiap sore anak dibiasakan masuk halaqah Qur’an seperti TPA,” tegasnya.

Menghafal Qur’an yang berbuah keberhasilan dalam studi dirasakan langsung oleh si kembar penghafal Qur’an, Muhammad Ismail dan Muhammad Ishaq. Mereka mulai menghafal Qur’an saat kelas 4 SD di Pesantren Darul Faiz, Lampung dan merampungkannya di kelas 1 SMP Darul Qur’an Internasional, Bandung.

“Saya melihat betul kecerdasan keduanya meningkat pesat selama berproses menghafal Qur’an. Sampai-sampai banyak beasiswa mengalir dari dalam dan luar negeri karena mereka berhasil menjuarai sekian perlombaan dari berbagai cabang ilmu,” jelas ayahanda si kembar, Agus Sudjatmiko.



Kecerdasan Plus: Emosi dan Spiritual

          Kusyairi menuturkan bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an tak hanya meningkatkan kecerdasan intelektual, tapi juga hati, akal dan pikiran akan diterangi dengan cahaya Al-Qur’an. Menurutnya lagi, anak yang sukses tanpa Al-Qur’an adalah sukses yang semu. Keluarga yang berhasil tanpa Al-Qur’an juga merupakaan keberhasilan yang semu. Tentu banyak kita lihat orang yang sukses, titelnya berderet, kekayaan berlimpah, namun tidak memperoleh kebahagiaan dalam rumah tangga akibat perilaku dan akhlak anggota keluarga yang tidak membawa kedamaian.

Proses hidup yang bersumber pada Al-Qur’an akan melahirkan anak yang cerdas pada sisi kognitif dan akhlak. “Sejak awal, Qur’an sudah menuntun proses orangtua menghadapi anaknya, seperti mengazani dan mengaqiqahkannya,” ujar Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darul Hikmah ini.

Ia pun mengutip syair Imam Syafi’i yang menjelaskan betapa orang yang menjelaskan betapa orang yang menghafal Qur’an tak mungkin dekat dengan maksiat, “Aku mengadu pada Kyai, buruknya hafalan. Maka guru menasihatiku untuk menjauhkan diri dari maksiat. Karena ilmu adalah cahaya sebagaimana Al-Qur’an juga sebagai cahaya. Maksiat penyebab lupa atau hilangnya hafalan lain.”

Terapi Kecerdasan Otak dengan Al-Qur’an

Untuk mendapatkan anak yang cerdas, tambah Kusyairi, ibu harus menstimulasinya sejak anak masih dalam kandungan. Saat si ibu hamil, janin sering diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Lalu ketika ia lahir, rutin perdengarkan ayat-ayat Qur’an yang pendek. Bila anak mulai bisa diajak bicara, biasakanlah berbicara dengan kalimat-kalimat yang terkandung dalam Qur’an.

“Al-Qur’an dengan ayat-ayat hakiki menjadi sebuah teman dongeng yang hakiki. Anak diberi pengetahuan tentang kisah-kisah nabi, kemudian dimasukkan ke halaqah Al-Qur’an dan diperdengarkan murattal untuk membantunya menghafal,” sarannya lagi.

Namun yang paling efektif adalah keteladanan orangtua dalam berinteraksi. Akan sulit menstimulasi anak dengan hal-hal di atas sementara orangtua sendiri tidak menekuni Al-Qur’an.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain membeirkan keteladanan, beliau pun sangat gemar membangkitkan semangat para sahabat para sahabatuntuk menuntut ilmu. Nabi juga selalu menyambut gembira anak-anak yang mau belajar Al-Qur’an dengan berkata, “Marhaban ya, Muthalib.” Rasa gembira ini juga patut kita contoh. Misalnya ketika anak berhasil mengkhatamkan Iqra atau Al-Qur’an, wujudkan rasa sukacita keluarga dengan berkumpul dan mendoakannya bersama. Ini akan menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat untuk melanjutkan interaksinya dengan Al-Qur’an.

Ilmuwan Pembelajaran Qur’an

          Para ilmuwan Muslim dahulu, sebelum mendalami suara ilmu, mereka lebih dulu menekuni dan menghafal Al-Qur’an. Hingga sekarang bermanfaat dan masih digunakan.

  • Ahli matematika Al-Khawarizmi, yang memecahkan teori algoritma, tak pernah jauh dari murajaah Qur’an. Tak hanya satu cabang ilmu, ilmuwan asal Persia ini pun menguasai astronomi, astrologi dan geografi.
  • Ibnu Sina, yang buku dan karya tulisnya menjadi rujukanpp ilmu kedokteran di dunia, senantiasa menghafal Qur’an sebelum mempelajari ilmu lainnya. Luar biasanya, ia juga ahli fiqih, tafsir dan bahasa Arab.
  • Al Biruni, pembelajaran Qur’an bernama lengkap Abu Rayhan Muham mad Ibnu Ahmad Al Biruni ini menguasai beragam ilmu; fisika, antropogi, psikologi, kimia astrologi, sejarah, geografi, geodasi, matematika. Farmasi, kedokteran dan Filsafat. Ia juga mampu berbahasa Arab, Turki, Persia, Sansekerta Yahudi dan Suriah. [Syahida.com]

Sumber: Majalah Ummi No. 6 | XXVI

Share this post

PinIt
scroll to top