Kisah Nyata : Air Mata Kesedihan dan Penyesalan

Ilustrasi. (Foto : powerfulintentions.org)

Ilustrasi. (Foto : powerfulintentions.org)

Syahida.com –  Aku tidak ingin kalian menulis kepedihan ini dengan judul ‘Setetes Air Mata Penyesalan’. Akan tetapi, tulislah dengan judul ‘Air Mata Kesedihan dan Penyesalan’. Air mata yang mengucur selama bertahun-tahun. Air mata yang mengalir karena berbagai macam kepedihan yang aku rasakan. Penghinaan dan pandangan sinis disebabkan dosa yang pernah aku lakukan terhadap diriku dan keluargaku. Dan sebelum yang pertama dan kedua adalah dosa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhanku.

Aku seorang gadis yang tidak berhak dikasihani atau disayangi. Sungguh, aku telah berbuat buruk kepada ibuku dan saudara-saudaraku. Aku telah membuat pandangan mata mereka selalu tertunduk ke bawah. Mereka tidak kuasa mengangkatnya karena rasa malu.

Semua itu karena diriku. Aku telah mengkhianati kepercayaan yang mereka berikan[1] gara-gara telepon terkutuk. Manusia tidak punya hati yang telah mengecohkanku dengan ucapannya yang bermadu. Dia mempermainkan perasaanku, sehingga aku berjalan bersamanya di atas jalan yang buruk.

Sedikit demi sedikit dia berhasil menggiringku kepada hubungan yang paling rendah. Akibat dari cinta palsu yang telah membutakan kedua mataku dari kebenaran. Akhirnya aku pun kehilangan sesuatu yang paling dibanggakan oleh para gadis, dan dibanggakan oleh orang tuanya ketika mereka menyerahkannya anak gadisnya kepada pemuda yang datang ke rumah dengan jalan halal.

Aku telah menyia-nyiakan kehormatanku bersama manusia yang tidak memiliki kehormatan. Seorang manusia yang telah menjual hatinya dan kemanusiaan setelah merampas segala sesuatu dariku, lalu membuatku menderita dan merana sendiri. Padahal sebelumnya dia telah mengenyam kenikamatan sesaat bersamaku. Dia mencampakkan diriku dalam penderitaan panjang, setelah mengetahui kehamilanku. Pada waktu itu tidak seorang pun yang mengetahui nasib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketika aku mencoba mencarinya, dia selalu menghindar dariku. Itu sangat lain dengan sikapnya sebelumnya, sebelum ia mengambil kehormatanku.

Sungguh, aku merasa hidup di dalam siksa. Neraka selama empat bulan. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui penderitaan batin yang aku alami akibat kemaksiatanku kepada Tuhanku dengan melakukan dosa itu.

Kehamilan telah membuat jiwaku memikul beban berat. Aku berpikir bagaimana diriku kembali ke keluarga dengan aib yang sekarang bergerak-gerak di dalam perutku. Ayahku orang yang lemah. Dia menderita dan bersusah payah dalam hidupnya demi kami, anak-anaknya. Gajinya hampir-hampir tidak mencukupi. Ibuku adalah wanita yang baik. dia menyediakan segala sesuatu untukku supaya aku bisa menyelesaikan belajarku dan aku bisa meraih derajat yang mulia.

Aku telah memupuskan harapan ibu. Aku telah berdosa besar kepadanya. Dosa yang sulit untuk diampuni, sampai kini aku masih menelan rasa pahit dosa itu.



Akhirnya hati pemuda biadab itu melunak, setelah aku terus memburunya, dia bersedia berbicara lewat telepon. Manakala dia mengetahui aku hamil, dia menawarkan bantuan untuk menggugurkan janin yang bergerak di dalam perutku. Aku hampir gila. Ia tidak berpikir untuk datang menikahiku, untuk memperbaiki apa yang telah ia rusak.[2] Ia memberi dua pilihan yang sama-sama pahit: membiarkanku menanggung sendiriku, atau menggugurkan kehamilan agar selamat dari aib dan rasa malu.

Hari-hari berlalu dan dia tidak datang untuk melamarku. Aku memutuskan untuk melaporkannya ke kepolisian tentang apa yang telah diperbuatnya kepadaku. Dua bulan sesudah aku melapor, polisi berhasil menemukannya setelah mencarinya di segala tempat. Hal itu karena dia telah memberiku nama palsu[3]. Akhirnya polisi berhasil menangkapnya. Ternyata dia pria berkeluarga dengan empat orang anak. Dia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Ketika aku mengetahui dia itu pria beristri, aku pun mengetahui betapa dungunya diriku yang mengekor kepadanya seperti wanita buta. Akan tetapi, apa gunanya itu semua setelah aku terbenam di jurang penderitaan yang paling dalam?

Dia masih mengira kalau diriku masih seperti dulu, yang bisa dibutakan oleh bualannya. Dia mengutus seorang wanita untuk membawa pesan. Jika aku mengingkari di depan hakim bahwa dia telah merenggut kehormatanku, maka dia akan menikahiku setelah keluar dari penjara. Aku menolak tawaran murahan ini.

Aku menulis cerita ini setelah aku keluar dari penjara polisi menuju penjara yang lebih besar, yaitu rumahku. Aku terkurung di dalamnya. Tidak seorang pun mau berbicara dan melihatku. Penyebabnya adalah kenistaan yang aku timpakan kepada keluargaku. Aku telah menghancurkan kemuliaannya dan menodai nama baiknya.

Ayahku menjadi seperti bayangan, yang berjalan tertatih-tatih dan hampir terjatuh karena beban yang berat. Ibuku menjadi kurus kering. Mulutnya meracau. Dia mengurung diri di dalam rumah, karena takut dengan ucapan dan pandangan orang.”

Gadis ini menutup suratnya,

“Dari pengasingnya yang menyedihkan ini aku menulis keadaanku yang getir kepada kalian. Aku menangis siang-malam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. Doakanlah diriku agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dan meringankan penderitaanku.”[4] Adakah pelajaran sesudah pelajaran ini? Adakah tangisan sesudah tangisan ini? Kecuali orang yang ditulis takdirnya menderita. Naudzubillah.

Hikmah : Wahai gadis muslimah! Mengapa engkau kehilangan kontrol diri, hanya karena mendengar bisikan hina dan pujian palsu dari pemuda yang melihat dirimu sebatas onggokan daging yang indah tanpa jiwa? Wahai wanita Islam, sebuah fitnah besar telah dirancang demi mengubah dirimu, bermain-main dengan tubuh dan kehormatanmu. Berlindunglah kepada Tuhanmu! Karena tidak ada yang dapat menyelamatkanmu kecuali Allah Ta’ala.

Kisah nyata ini adalah fakta besar. Betapa gadis-gadis muslimah di negeri-negeri Islam yang memegang tradisi tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan syar’i bisa terenggut kesuciannya oleh para pemuda yang hatinya keras, gelap dan busuk. Jika demikian, betapa mudahnya merampas kesucian gadis-gadis muslimah yang dengan sukarela, bahkan sebagian dengan dukungan orang tua, keluar rumah bersama pemuda pujaannya untuk bermalam minggu, nonton, belanja ke mall dan lain-lain.

 

========

  1. Kepercayaan mutlak yang diberikan oleh sebagian orang tua kepada anak-anaknya merupakan salah satu faktor penting yang membuat mereka menyelewengan dan terjerembab di dalam kubangan keburukan dan kerusakan.
  2. Tidak boleh berakad nikah dengan wanita hamil hingga dia melahirkan. Jika wanita itu adalah pezina, maka tidak boleh menikahi wanita pezina hingga dia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang benar. Begitu pula tidak boleh menikahkan wanita dengan laki-laki pezina hingga dia bertaubat nasuha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.” ( An-Nur: 3)
  3. Lihatlah betapa gadis ini hidup diatas hayalan.
  4. Wahmul Hub, hlm 24-27

 

Sumber: Khalid Abu Shalih (Waspadalah Putriku, Serigala Mengintaimu!)

Share this post

PinIt
scroll to top