Setelah Tidak Dapat Disadarkan dengan Cobaan Kesengsaraan, Allah Akan Menguji dengan Cobaan yang Lebih Berat, Yaitu Cobaan Kesenangan

Syahida.com

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ ﴿٤٢

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُم بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَـٰكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿٤٣﴾ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ﴿٤٤

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٤٥

Ilustrasi. (Foto: passeandopelavida.com)

Ilustrasi. Romawi Kuno. (Foto: passeandopelavida.com)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am: 42-45)

Allah menurunkan kesusahan dan kesengsaraan agar mereka insaf dan sadar; melakukan introspeksi terhadap hati dan realita mereka, semoga dengan kesulitan itu mereka merendahkan diri di hadapan Allah, membuang kesombongan mereka dan memohon kepada-Nya dengan hati yang tulus agar cobaan dan kesulitan itu dihilangkan, dan membukakan kepada mereka pintu-pintu rahmat. Tapi, mereka tidak mau melakukan hal yang sepatutnya dilakukan. Mereka tidak mau berlindung kepada Allah, dan tidak mau mundur dari pembangkangan. Kesusahan dan kesengsaraan itu tidak dapat menyadarkan dan melunakkan hati mereka. Hal itu karena setan telah mengelabui mereka, sehingga mereka menganggap kesesatan dan pembangkangan itu sebagai sesuatu yang baik:

وَلَـٰكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿٤٣

“….Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang mereka selalu kerjakan.” (43)

Hati yang tidak bisa disadarkan dengan kesengsaraan dan kesulitan adalah hati yang sudah membatu dan kering sehingga tidak ada tetes air yang bisa diperas oleh kesengsaraan! Sudah mati sehingga tidak bisa lagi merasakan sesuatu! Perangkat penerima (reciver) pada hati ini sudah rusak. Karena itu tidak dapat menangkap peringatan yang datang dari Allah. Suatu peringatan yang mampu menyentuh hati yang hidup. Kesengsaraan adalah cobaan Allah terhadap seorang hamba. Siapa yang hatinya masih hidup, pasti kesengsaraan itu akan menyadarkannya, membukakan katup-katup hatinya, dan membawanya kembali kepada Rabbnya. Sehingga kesengsaraan itu menjadi rahmat baginya di antara rahmat yang telah ditetapkan Allah terhadap dirinya. Tapi, bila hati sudah mati, maka kesengsaraan dan cobaan apa pun tidak mampu menyadarkannya. Karenanya, orang seperti ini berhak mendapat siksaan dan azab-Nya!

Berbagai bangsa yang kisahnya diceritakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya dan umat yang datang sesudahnya, tidak dapat disadarkan dengan kesusahan dan kesengsaraan. Mereka tidak mau merendahkan diri kepada Allah. Tidak mau menghentikan kesombongan dan keberpalingan yang ditampakkan indah oleh setan. Setelah itu Allah menguji mereka dengan kesenangan, sampai mereka terjebak dan tenggelam dalam kemewahan:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ﴿٤٤

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٤٥

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (44-45)

Cobaan Kesenangan, Lebih Berat dari Cobaan Kesusahan

Di samping cobaan dengan kesusahan dan kesulitan, Allah menguji manusia dengan kesenangan dan kenikmatan. Cobaan ini lebih berat dan lebih berbahaya ketimbang kesusahan! Allah menguji dengan kesusahan sebagaimana menguji dengan kesenangan. Allah menguji orang-orang yang taat dan orang-orang yang durhaka dengan kesenangan dan kesusahan. Orang mukmin bila diuji dengan kesusahan maka ia bersabar, dan bila diuji dengan kesenangan maka ia bersyukur. Sehingga apa pun yang dihadapinya, ia tetap berada dalam kebaikan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Sungguh mengagumkan orang Mukmin itu. Sesungguhnya semua perkaranya menjadi kebaikan baginya. Hal ini hanya dialami oleh orang beriman. Bila mendapati kesenangan maka dia bersyukur sehingga hal ini menjadi kebaikan baginya. Bila mengalami kesulitan dan kesusahan maka dia bersabar, sehingga hal ini menjadi kebaikan baginya.” 1

Sedangkan berbagai bangsa yang telah mendustakan para Rasul dan diceritakan Allah di sini, sesungguhnya ketika mereka tidak mengindahkan peringatan Allah dan Allah mengetahui bahwa mereka pasti akan binasa, tidak dapat disadarkan dengan kesulitan dan kesusahan.., maka Allah membukakan kepada mereka pintu segala sesuatu, untuk di-istidraj (diberi kesenangan untuk dihancurkan) sesudah diberi cobaan berat…

Ungkapan Al Qur’an:

فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ

“……Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka….” ( 44)

Ungkapan ini menggambarkan mengalirnya rezeki, kekayaan, kesenangan dan kekuasaan… bagaikan air bah, tanpa terhalang dan terikat sesuatu! Semua itu datang kepada mereka tanpa susah payah dan kerja keras, bahkan tanpa mengerahkan upaya!

Suatu pemandangan yang mengagumkan, yang menggambarkan suatu keadaan dalam suatu gerakan, dalam suatu metode pengungkapan yang mengagumkan. 2

حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا

“….Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka….” (44)

Ilustrasi, Yunani Kuno (Foto: antikjmbho.blogspot.com)

Ilustrasi, Yunani Kuno (Foto: antikjmbho.blogspot.com)

Mereka hidup dalam gelimang harta kekayaan dan rezeki yang berlimpah ruah hingga tenggelam dalam kesenangan dan bergembira ria dengan semua itu, tanpa bersyukur dan mengingat Allah. Hati mereka tidak pernah terdetik untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat dan tidak pula takut kepada-Nya. Perhatian mereka sepenuhnya tercurah kepada kesenangan dan kenikmatan. Mereka tenggelam dalam memenuhi keinginan hawa nafsu. Kehidupan mereka penuh hura-hura, sehingga tidak pernah berpikir tentang perkara-perkara besar, sebagaimana kebiasaan orang-orang yang tenggelam dalam kesenangan dan hura-hura. Hal ini diperburuk oleh rusaknya sistem dan aturan. Setelah didahului oleh rusaknya perilaku dan moral. Kondisi seperti ini membawa mereka kepada suatu akibat logis yaitu rusaknya semua sisi kehidupan.. Saat itulah datang janji Allah yang terekam dalam sunnah-Nya yang tidak pernah berubah.

أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“…….Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (44)

Allah menimpakan azab kepada mereka secara tiba-tiba, ketika mereka dalam keadaan mabuk dan lalai. Mereka terkejut, putus asa dan tidak mampu berpikir untuk menyelamatkan diri. Mereka dihancurkan semuanya dan tidak satu orang pun yang tersisa.

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ

Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya…” (45)

Dimusnahkan sampai ke akar-akarnya artinya dihancurkan secara total, sehingga tidak seorang pun tersisa. Yang dimaksud dengan orang-orang zalim di sini adalah orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah. Al Qur’an sering mengungkapkan orang musyrik dengan orang zalim dan begitu pula sebaliknya.

وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“….Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (45)

Ilustrasi. Pompeii. (Foto: university.langantiques.com)

Ilustrasi. Pompeii. (Foto: university.langantiques.com)

Ini adalah susulan (ulasan) terhadap pemusnahan total orang-orang zalim (musyrik) sesudah istidraj Ilahi dan tipu daya yang kokoh.. Apakah Allah dipuji atas suatu nikmat? Memang, Dia dipuji atas nikmat pembersihan bumi dari orang-orang zalim. Ataukah dipuji atas rahmat yang lebih mulia dari rahmat-Nya kepada para hamba-Nya dengan pembersihan ini?

Allah telah membinasakan kaum Nuh, Hud, Shaleh dan Luth. Seperti halnya Dia juga telah membinasakan kaum Fir’aun, bangsa Yunani, dan Romawi, serta kaum-kaum lainnya dengan sunnah-Nya tersebut. Semua kaum itu dihancurkan ketika mereka berada di puncak kejayaan peradaban mereka. Itulah rahasia ghaib dari kekuasaan Allah dan ketentuan yang tampak dari sunnah-Nya. Itulah tafsir Robbani tentang realita sejarah yang telah dikenal tersebut.

Berbagai bangsa itu mempunyai peradaban dan kekuasaan di muka bumi. Mereka hidup senang dan mewah. Mereka tenggelam dalam kesenangan dan kekuasaan, seperti halnya bangsa-bangsa yang hidup di masa sekarang. Bahkan dalam beberapa sisi mereka lebih unggul. Mereka tertipu oleh kemegahan kehidupan dunia, dan menipu orang-orang yang tidak mengerti sunnatullah dalam keadaan senang dan susah.

Sunnatullah, Adanya Istidraj

Bangsa-bangsa tersebut tidak menyadari bahwa di atas sana ada sunnatullah. Mereka tidak merasakan bahwa Allah melakukan istidraj (memberi tempo) terhadap mereka sesuai dengan  sunnatullah itu. Orang -orang yang mengikuti jejak bangsa-bangsa tersebut terpukau oleh kemewahan, kesenangan dan kekuasaan mereka. Mereka tertipu oleh berbagai kesenangan dan kekuasaan yang diberikan Allah kepada  bangsa-bangsa tersebut padahal mereka tidak menyembah Allah, atau tidak mengenal-Nya. Padahal mereka membangkang terhadap kekuasaan Allah dan mengklaim bahwa mereka mempunyai sifat ketuhanan. Padahal mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan berlaku zalim kepada umat manusia, setelah menentang kekuasaan Allah…

Ilustrasi. Piramid. (Foto: arvindadyah.blogspot.com)

Ilustrasi. Piramid. (Foto: arvindadyah.blogspot.com)

Ketika berada di Amerika Serikat, saya menyaksikan sendiri bukti kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka.” (44)

Pemandangan yang ditampilkan oleh ayat ini menggambarkan bahwa mereka menikmati berbagai kesenangan dan kemewahan tanpa batas! Mereka hampir menikmati semua kemewahan yang ada di muka bumi!

Saya menyaksikan keterpedayaan bangsa Amerika akibat kesejahteraan dan kemewahan yang mereka nikmati. Mereka menganggap bahwa kesejahteraan dan kesenangan itu adalah warisan milik bangsa kulit putih. Sehingga mereka memperlakukan bangsa kulit berwarna dengan perlakuan semena-mena dan keji! Kesombongan mereka terhadap penduduk dunia lainnya melebihi kesombongan Nazi yang menghina dan merendahkan bangsa Yahudi. Orang-orang Amerika kulit putih memperlakukan bangsa kulit berwarna jauh lebih buruk dan kejam, khususnya bila kulit berwarna itu dari kalangan kaum muslimin.

Saya menyaksikan semua itu, lalu saya ingat kepada firman Allah di atas, dan saya memprediksikan berlakunya sunnatullah tersebut. Nyaris saya menyaksikan derap langkah sunnatullah itu sedang mendekati orang-orang yang lalai tersebut:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (44-45)

Walaupun Allah telah meniadakan siksaan penghancuran secara total setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, namun masih terdapat berbagai bentuk siksaan lain. Umat manusia, khususnya mereka yang diberi berbagai kenikmatan, sering merasakan bermacam siksaan tersebut. Meskipun mereka hidup berkecukupan dari segi rezeki dan lainnya.

Siksaan kejiwaan, kesengsaraan rohani, penyimpangan seks dan kemerosotan moral yang dialami oleh berbagai bangsa sekarang hampir menutupi kemewahan, kesenangan dan limpahan produk yang ada. Bahkan nyaris mewarnai semua sisi kehidupan mereka dengan kebencian, kecemasan, dan kesengsaraan. 3 Hal ini di samping berbagai peristiwa yang menunjukkan kepada berbagai persoalan moral politik, seperti menjual rahasia negara yang merupakan pengkhianatan terhadap bangsa sendiri, dengan imbalan pemenuhan keinginan hawa nafsu atau penyimpangan…

Semua itu merupakan awal dari jalan kehancuran.. Sungguh benar Rasulullah SAW dengan sabdanya:

“Bila kamu melihat Allah memberi kesenangan duniawi kepada seseorang, sementara dia membangkang kepada-Nya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj (jebakan).” 4

Kemudian Nabi SAW membaca Firman Allah:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44) (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim).

Perlu diketahui bahwa sunnatullah dalam menghancurkan “kebatilan” adalah bahwa “kebenaran” itu harus tegak di muka bumi dan tercermin pada suatu “umat”.. Kemudian Allah melemparkan kebenaran itu kepada kebatilan lalu kebenaran itu melumatkannya dan membuatnya lenyap… Karena itu para pendukung kebenaran tidak boleh berpangku tangan dan bermalas-malasan, hanya menantikan berlakunya sunnatullah, tanpa mau berupaya dan bersusah payah. Bila mereka berpangku tangan dan berdiam diri, maka mereka bukan orang-orang yang mewujudkan kebenaran dan bukan penegak kebenaran.. Mereka adalah orang-orang yang malas dan berpangku tangan.. Kebenaran itu tidak akan terwujud kecuali dalam suatu bangsa yang tegak untuk mengukuhkan kekuasaan Allah di muka bumi dan menyingkirkan para perampas kekuasaan itu di kalangan orang-orang yang mengklaim mempunyai sifat-sifat ketuhanan.. Inilah kebenaran yang pertama dan orisinal..

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّـهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (Al Baqarah: 251). [Syahida.com/ANW]

————

Catatan kaki

1 Shahih, diriwayatkan oleh Muslim, ad-Darami, Ahmad dan Abu Ya’la dengan lafazh yang hampir sama. Lihat: Jami’ al-Ushul, 9/369 dan as-Silsilah ash-Shahihah, 1/228

2 Baca pasal Thariqat al-Qur’an dalam buku at-Tashwir al-Fanni fi Al-Qur’an, Dar asy-Syuruuq.

3 Baca pasal Takhabbuth wa Idthrab dalam buku: Al-Islam wa Musykilat al-Hadharah, Dar asy-Syuruuq

4 Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abi Dunya, al-Khara’ithi dan ath-Thabrani, dengan tiga sanad yang lemah tetapi saling menguatkan. Lihat: Al-Musnad, 4/145, Musnad al-Imam Ahmad, 1/469. Al-Mu’jam al-Kabir, 17/330, Tafsir Ibnu jarir, 11/361 – Syakir, asy-Syukru, Ibnu Abi Dinya, hal. 80 nomor 32, Fadhilah asy-Syukr, al-Khara’ithi, hal. 58 nomor 70, Tafsir Ibnu Katsir, 3/251, 7/219, Ihya’ Ulum ad-Din, 4/132, as-Silsilah ash-Shahihah, 1/700 nomor 413.

===

Sumber: Kitab Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an Di Bawah Naungan Al Qur’an, Karya: Sayyid Quthb, Penerjemah: M.Misbah, Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc., Penerbit: Robbani Press

Advertisements
loading...