Tips Menghadapi Orang yang Berwatak Pemarah (Bag-2)

Ilustrasi. (Foto: menshealth.com)

Ilustrasi. (Foto: menshealth.com)

Syahida.com Jadikanlah sehelai rambut Mu’awiyah sebagai penyambung atau pemelihara hubungan Anda dengan setiap orang.

Syahdan, suatu hari Mu’awiyah r.a. ditanya oleh seseorang seperti ini: “Bagaimana Anda bisa memimpin manusia sebagai gubernur selama dua puluh tahun dan kemudian engkau sebagai khalifah selama dua puluh tahun juga?”

Ia menjawab, “Saya membentangkan di antara diriku dan mereka sehelai rambut; salah satu ujungnya aku pegang dan ujung yang satunya lagi mereka pegang. Kemudian, apabila mereka menariknya ke arah mereka maka aku mengendorkan tarikanku, sehingga rambut itu tidak putus. Sebaliknya, bila mereka mengendorkan tarikan mereka maka aku yang mengencangkannya dari arahku.”

Sungguh benar dan bijak sekali apa yang dikatakannya tersebut!

Atas dasar itu, dapatlah kita simpulkan bahwasanya sepasang suami-istri tidak mungkin akan bisa menjalani kehidupan dengan harmonis apabila keduanya sama-sama bersifat keras dan pemarah. Demikian halnya dengan dua orang sahabat yang sama-sama berwatak keras dan tidak yang mau mengalah; hubungan keduanya tidak mungkin bisa bertahan lama.

Ada pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika menyampaikan sebuah ceramah di sebuah penjara. Pada waktu itu saya berceramah di depan para narapidana khusus pembunuhan.

Setelah acara ceramah selesai, para narapidana tersebut pun bubar dan kembali ke sel masing-masing. Kemudian, salah seorang pengurus penjara menghampiri saya dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Dia juga memperkenalkan dirinya dan menjelaskan bahwa kegiatan ceramah ini merupakan salah satu tanggung jawabnya.

Setelah berbicara beberapa saat, saya bertanya kepadanya tentang penyebab terbesar yang menjadikan mereka tega melakukan pembunuhan. Dia menjawab, “Kebanyakan adalah karena tidak bisa mengendalikan emosi dan amarah.”

Lalu ia menambahkan, “Ya Syaikh, bahkan ada beberapa orang diantara mereka yang membunuh orang lain hanya gara-gara memperebutkan uang beberapa riyal dengan seorang penjaga pom bensin atau pelayan sebuah toko.”

Mendengar jawaban tersebut, saya langsung teringat dengan sabda Rasulullah s.a.w. yang berbunyi:

“Orang yang kuat itu bukanlah orang yang mampu berkelahi, tetapi orang yang mampu mengendalikan nafsunya tatkala marah.”

Dan benar, bahwa orang yang gagah bukanlah orang yang berbadan kuat dan tidak pernah kalah dalam perkelahian. Sebab, bila tolak ukurannya adalah hal tersebut, niscaya seluruh binatang dan hewan buas akan menjadi lebih mulia dari manusia.

Akan tetapi, orang yang gagah adalah orang berakal yang mengetahui cara bermuamalah yang baik dalam berbagai macam keadaan dan kondisi. Artinya, dia akan bisa selalu berhubungan baik dengan istri, anak-anak, pimpinan, dan teman kerjanya tanpa harus pernah kehilangan mereka.

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Hendaklah seorang hakim tidak memutuskan suatu perkara dalam keadaan marah.

Dan pada riwayat lain disebutkan bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada kita, agar membiasakan diri dengan sifat sabar. Beliau s.a.w. pernah bersabda, “Sesungguhnya kesabaran itu dicapai dengan membiasakan diri untuk selalu bersabar.”

Ya, dengan membiasakan diri untuk selalu bersabar. Sebab, pada kali pertama Anda menahan amarah, beban yang harus Anda pikul mungkin berjumlah 100%. Tetapi, pada kali kedua, beban tersebut pasti akan berkurang menjadi 90%, dan kemudian menjadi 80% misalnya pada kali ketiga.

Demikianlah beban tersebut akan terus berkurang setiapkali Anda berusaha untuk selalu bersabar. Dan cepat ataupun lambat, dengan membiasakan diri dengan kesabaran tersebut dalam berbagai kesempatan dan keadaan, niscaya kesabaran akan menjadi tabiat dan karakter Anda. [Syahida.com/ANW]

===

(Sumber : Buku “Enjoy Your Life”)

 

About these ads
loading...