Lihatlah Kepada Mereka yang Ada di Bawahmu, Maka Kau Akan Tetap Bahagia

Ilustrasi. (Foto: aquila-style.com)

Ilustrasi. (Foto: aquila-style.com)

Syahida.com – Beberapa tahun yang lalu aku berada di Palestina, Gaza, setelah pengeboman. Dan kami bertemu seorang pria. Pria ini punya 6 putri! ENAM PUTRI! Dan sebuah bom menghancurkan rumahnya, setiap orang tak sadarkan diri. Sang ayah berkata, “Aku terbangun, dan mencari-cari putri-putriku.” Dari keenam putrinya, lima orang meninggal. Dia berkata, “Aku menyingkirkan puing-puingnya. Putriku yang tertua sangat dicintai di lingkunganku; Dia adalah seorang yang sangat murah hati. Setiap malam dia pergi tidur dengan tangannya mendekap dua adiknya. Setiap malam!”

Dia berkata, “Ketika kami menyingkirkan puing-puingnya dan kami menemukan jasad mereka, aku menemukan mereka dalam posisi yang benar-benar sama, dia mendekap kedua adiknya dengan tangannya.” Orang-orang yang ada di sana mulai menangis. Sang ayah yang kehilangan anak-anaknya itu datang, dia berdiri dan mulai menasihati orang-orang di sana. Dia berkata, “Janganlah menangis. Karena demi Allah mereka ada di surga. Untuk mereka adalah jannah (surga)!”

Kalian tahu, bahwa terkadang kita menghadapi cobaan dan musibah, kita berpikir bahwa musibah yang menimpa begitu sulit, kita tidak bisa menerimanya. Kenyataannya adalah, jika kalian melihat orang lain, dan ini adalah sunnah Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Lihatlah kepada mereka yang berada di bawahmu, maka kau akan tetap bahagia.” Lihatlah berapa banyak orang di masa sekarang yang tidak tahu kapan mereka bisa makan.

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aku punya seorang keponakan. Putera dari abang tertuaku. Dia menderita sakit motor neuron. Kondisinya parah, sampai-sampai dia tidak bisa menggerakkan tangannya, dia tidak bisa menggerakkan kakinya, dia tidak bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya, dan keadaannya terus memburuk. Sebelum aku datang menjenguknya, aku memikirkan berbagai hal yang mengkhawatirkan dalam hidupku. Tetapi ketika aku melihatnya, aku berpikir, “Subhanallah, betapa tidak bersyukurnya aku!” Kau lihat keadaannya, dan kau lihat apa yang telah diberikan Allah kepada kita.

Minggu lalu aku pergi ke Suriah, aku berada di perbatasan Turki. Satu hari di perbatasan Turki dan hari berikutnya di Suriah. Aku pergi ke sebuah kemah, cuacanya membeku, lebih dingin daripada di Inggris. Cuacanya, temperaturnya minus. Aku pergi ke kemah ini, ada 10.000 orang tinggal di kemah-kemah. Lebih dari 20% dari anak-anak itu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, berjalan dengan sendal. Dapatkah kalian bayangkan, tidak ada air hangat. Aku harus shalat di sana, dan aku harus berwudhu. Tapi kita masih saja mengeluh bahwa kita masih kekurangan, kita masih saja tidak bersyukur kepada Allah SWT. Dan inilah mengapa Rasulullah SAW bersabda bahwa di dunia bandingkan diri kalian dengan orang-orang yang berada di bawah kalian dan kalian akan bahagia. Karena jika kalian membandingkan diri kalian dengan orang-orang yang memiliki lebih daripada kalian, maka kalian tak akan pernah bahagia. Apa yang akan terjadi adalah kalian akan stres. Kalian akan menderita depresi karena orang-orang selalu mempunyai lebih banyak hal-hal duniawi daripada kalian.

Dan Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang mempunyai dua bukit emas, maka dia tetap menginginkan yang ketiga.” Dan kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Satu-satunya hal yang akan membuat puas seseorang adalah tanah di kuburan.”

Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Ketika dia ditempatkan dalam kubur, maka barulah dia terpuaskan. Barulah nafsunya berhenti. Dan inilah kehidupan, saudara/saudariku. Hidup itu pendek. Pergilah ke pemakaman, lihatlah tanggal di atas nisan-nisan. Lihatlah tanggalnya: 1850, 1900. Kalian menyadari bahwa orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu dalam kubur, di bawah tanah, daripada di atasnya. Dan inilah kenyataan kita. Itulah kenyataan manusia. Bahwa kita datang ke dunia, tidak ada seorang pun yang memilih terlahir ke dunia.

Apakah kalian memilih untuk terlahir ke dunia? Kalian tidak memilih. Ini terjadi begitu saja. Dan akan datang hari dimana kalian akan meninggalkan dunia, dan kalian tidak memilih waktunya. Tidak ada visa yang kalian ajukan untuk waktu kalian, “Aku ingin pergi ke jannah (surga) sekarang.” Tidak pakai visa. Kematian datang secara tiba-tiba. Dan kalian meninggalkan dunia ini begitu saja. Kalian lahir ke dunia tidak bisa memilih, dan kalian meninggalkan dunia ini juga tidak bisa memilih. Jadi apa yang membuat kalian berpikir bahwa kalian punya hak di antara kedua periodenya?

Periode itu, Allah membawa kalian ke dunia dan Allah akan mengambil kalian suatu hari nanti. Tapi Allah memberikan kalian waktu yang singkat ini, karena Allah ingin melihat apa yang hamba-hamba-Nya lakukan dengan kehidupan yang diberikan-Nya. Apakah dia akan ingat Allah atau apakah dia hanya mengikuti nafsunya? Dan inilah pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri sendiri. [Syahida.com/ANW]

==

Sumber: Syekh Zahir Mahmood

Advertisements
loading...