Tawadhu’nya Rasulullah Saat Mendapatkan Kemenangan

Ilustrasi. (Foto: aqlislamiccenter.com)

Ilustrasi. (Foto: aqlislamiccenter.com)

Syahida.com – Setiap kali Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar dari kepungan musuh, maka beliau akan memasuki area kemenangan, yang juga disusul dengan kemenangan-kemenangan lain dari pasukan musuh yang dikirim ke berbagai tempat. Dalam keadaan seperti itu manusia (musuh) ada tiga macam: Beriman, menyerahkan diri dan takut kepada beliau.

Tapi Allah telah menabur benih kesabaran di ladang, sebagaimana firman-Nya,

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (Al-Ahqaf: 35).

Tatkala beliau memasuki Makkah dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelum dan sesudahnya, yang di sekeliling beliau ada orang-orang Mujahirin dan Anshar, tidak ada yang berbeda pada diri beliau kecuali pancaran mata, sementara para shahabat berada pada kedudukan masing-masing, para malaikat ada di atas kepala mereka, Jibril mondar-mandir menghampiri beliau dan Allah, maka Allah menyerahkan tanah suci kepada beliau, yang tidak pernah diserahkan kepada siapa pun selain beliau seperti itu. Sangat jauh perbedaan antara saat itu dan saat dulu beliau diperdaya, hendak dibunuh dan diusir, lalu pengusiran itu pun masih terjadi sekali lagi. Saat itu beliau masuk Makkah, sedang dagu beliau menyentuh sandaran pelana bagian depan, karena merunduk dan merendahkan diri kepada Dzat yang telah mengenakan pakaian kemuliaan ini kepada beliau, yang justru orang lain akan mendongakkan kepala jika mendapatkannya dan yang sangat diimpi-impikan para raja. Beliau memasuki Makkah sebagai seorang penguasa yang unggul dan menang. Bilal seketika naik ke atas Ka’bah, yang dulunya dia diseret ke tengah padang pasir yang membara dan ditindihi batu, yang hanya mampu berkata, “Ahad, Ahad.” Kini dia mengeraskan suara adzannya, yang kemudian disahuti oleh berbagai kabilah di segala penjuru. Seketika itu mereka mengikuti suara adzan yang diserukannya, lalu mereka masuk agama Allah secara berbondong-bondong, yang sebelumnya mereka masuk Islam sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi.

Setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk di atas singgasana kemuliaan ini, para raja mengulurkan lehernya untuk tunduk kepada beliau. Di antara mereka ada yang menyerahkan kunci kekayaan seluruh negerinya, ada pula yang meminta pengukuhan perjanjian damai, ada pula yang bersedia membayar jizyah, namun ada pula yang menghimpun kekuatan untuk melancarkan serangan. Mereka tidak tahu bahwa apa yang beliau lakukan itu bukan untuk mengumpulkan harta rampasan dan mendapatkan tawanan.

Kemenangan Yang Sempurna dan Kenikmatan Surga

Ketika kemenangan dapat diraih secara sempurna, beliau dapat menyampaikan risalah secara leluasa dan menyampaikan amanat, maka datang stempel pengesahan dari Allah,

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (Al-Fath: 1-3).

Setelah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan setelah manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka datanglah utusan Allah seraya mengabarkan kepada beliau antara hidup di dunia dan perjumpaan dengan-Nya. Maka beliau memilih perjumpaan dengan Allah, karena beliau sudah rindu kepada-Nya. Maka surga pun berhias untuk menyongsong ruh beliau yang mulia, seperti kota yang berhias karena raja akan mendatanginya.

Jika ‘Arsy Allah Yang Maha Pengasih berguncang karena kematian sebagian pengikut beliau, karena rasa gembira atas kedatangan ruhnya, lalu bagaimana keadaan ‘Arsy itu karena kedatangan pemimpin semua manusia? Tentu saja sulit untuk menggambarkannya secara tepat. Engkau akan mengetahui saat dikumpulkan pada hari kiamat, rahasia macam apa yang akan ditampakkan kepadamu. [Syahida.com/ANW]

==

Sumber: Kitab Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu, Karya; Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

Advertisements
loading...