Celaan Atas Tindakan Memecah Belah Agama

Ilustrasi. (Foto: wallpapersafari.com)

Ilustrasi. (Foto: wallpapersafari.com)

Syahida.com

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّـهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ ﴿١٥٩﴾

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. 6: 159).

Menurut Mujahid, Qatadah, adh-Dhahhak dan as-Suddi, ayat ini turun berkenaan dengan Yahudi dan Nasrani. Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya,

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan.” Yaitu bahwa Yahudi dan Nasrani berselisih sebelum Muhammad SAW diutus, lalu mereka berpecah belah. Ketika Muhammad SAW diutus, Allah menurunkan kepadanya,

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.”

Secara zhahir, ayat ini berlaku umum untuk setiap orang yang memecah belah agama Allah dan menyelisihinya. Sebab, Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya atas seluruh agama. Syari’at-Nya satu dan tidak ada perselisihan di dalamnya. Barangsiapa yang berselisih padanya, “Dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan,” yakni bersekte-sekte, seperti para pengikut aliran-aliran sesat, maka Allah telah membebaskan diri Rasulullah SAW dari apa yang mereka perbuat. Ayat ini seperti firman-Nya,

“Dia telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu,” hingga akhir hayat. (QS. Asy-Syuuraa: 13).

Dalam hadits disebutkan,

Kami para Nabi adalah saudara sebapak dan berlainan ibu, namun agama kami satu.” [HR. Al Bukhari (No. 3443).

Inilah jalan yang lurus (ash-shiraatul mustaqim), yaitu ajaran yang dibawa oleh para Rasul berupa penghambaan kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan berpegang teguh dengan syari’at Rasul yang terakhir. Adapun yang bertentangan dengannya, maka semua itu adalah kesesatan, kebodohan, pendapat dan hawa nafsu, sedangkan Rasul berlepas diri darinya, sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.” Dan firman-Nya,

“Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” Sebagaimana firman-Nya,

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Hajj: 17). Kemudian Allah menjelaskan kelemah lembutan-Nya dalam kebijaksanaan dan keadilan-Nya pada hari Kiamat. [Syahida.com /ANW]

==

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Advertisements
loading...