Di Mana Saja Kamu Berada, Kematian Akan Mendapatkan Kamu, Kendatipun Kamu di Dalam Benteng yang Tinggi Lagi Kokoh

Ilustrasi. (Foto: fakta.co.id )

Syahida.com

 أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh……..…” (QS. An-Nisaa: 78)

Inilah peringatan kepada orang-orang lemah iman dan telah merasa diri senang aman-aman, tak usah berperang lagi. Dalam hati sanubari mereka, telah terasa takut mati, padahal mati pasti datang. Walaupun bersembunyi di sebuah puri atau benteng yang kuat, tempat bersembunyi dan bertahan orang-orang yang hendak mengelakkan mati. Padahal kemana pun lari, kalau tiba waktu mati, mesti mati juga. Alangkah hinanya mati karena lari dan karena sembunyi. Kalau hendak mati juga, alangkah baiknya mati dalam kemuliaan.

Berapa banyak orang yang merendahkan diri mengejar maut dengan gagah berani, tidak mati sebab belum ajal. Berapa banyak pula orang yang ngeri melihat peluru, lalu lari, maka peluru pun mengejar dia. Pengalaman tentara-tentara atau prajurit di medan perang sangat banyak dalam hal ini.

Bagi orang yang beriman sangatlah besar kesan ayat ini. Lantaran ayat ini seorang beriman tidak merasa takut menghadapi maut. Ke mana mereka akan lari? Padahal ke manapun lari, di sana maut menunggu. Meskipun bersembunyi ke dalam sebuah peti rahasia. Di sana pun kita akan mati karena udara tidak masuk. Kita lari ke dalam laut, di sana pun kita akan mati karena tidak dapat bernapas.

Ada orang yang takut naik kapal terbang sebab ada orang yang mati karena kapal terbangnya terbakar. Padahal orang tidak dapat mengelak dari tidur di atas kasur, sedang orang yang mati di atas kasur lebih banyak daripada yang mati di tempat lain.

Sekarang ayat ini menjelaskan bahwa kita tidak akan bisa mengelak dari maut walaupun bersembunyi ke atas puri yang tinggi. Laksana putri raja-raja di Eropa di zaman pertengahan, yang membangunkan purinya di puncak-puncak bukit yang curam dan diberi parit besar di sekeliling untuk menjaga musuh jangan sampai masuk. Namun mereka tidak dapat menghambat datangnya malaikat maut. Mendirikan benteng untuk penangkis malaikat maut adalah percuma. “Adalah satu tanda yang tidak pernah berubah di langit, yaitu Allah. Dan adalah satu tanda pula yang tidak bisa berubah di bumi, yaitu kubur.” Demikian dikatakan oleh pujangga Mesir terkenal, Sayyid Musthafa Syadiq.

Ibnu Jarir dalam tafsirnya, disertai oleh Ibnu Abi Hatim menceritakan satu kisah yang mereka terima dari mujahid, “Ada seorang perempuan di zaman dahulu. Seorang tukang tenung mengabarkan kepadanya bahwa dia akan mati dibunuh oleh seekor laba-laba (‘Ankabut). Mendengar kata tukang tenung itu, suami perempuan itu membuatkannya sebuah puri yang kukuh di puncak bukit yang teramat tinggi untuk memelihara istrinya yang tercinta itu dari gigitan laba-laba.”

Pada suatu hari, duduk-duduklah mereka suami istri dan kawan-kawan yang lain dalam puri yang kukuh itu. Tiba-tiba kelihatanlah seekor laba-laba sedang membuat sarangnya di loteng puri. Berkata suaminya, “Coba lihat! Itu dia laba-laba itu!” Melihat itu berkatalah perempuan tersebut, “Inikah dia yang kita takuti itu? Sehingga kakanda buatkan saya tempat setinggi ini untuk memelihara diri darinya?”

“Demi Allah aku mesti membunuhnya!” Lalu laba-laba itu pun dikaitkannya sampai diturunkan ke bawah. Lalu dengan murkanya perempuan itu menginjak laba-laba itu dengan jari induk kakinya, sehingga mati. Tetapi bisa laba-laba itu telah menjalar masuk ke dalam kukunya, mengalir terus ke seluruh tubuhnya (infeksi), gembung dan hitamlah kakinya tidak dapat diobati. Lalu matilah dia. [Syahida.com / ANW]

==

Sumber: Kitab Tafsir Al-Azhar, Jilid 2, Karya: Prof. DR. Hamka, Penerbit: Gema Insani

 

Advertisements
loading...