Kisah Hikmah Kematian Tamu yang Miskin

Ilustrasi

Ilustrasi

Syahida.com – Suatu hari Abu Ishaq al-Harawi bersama Ibnul-Khayuthi di Basrah. Ibnul-Khayuthi mengajaknya pergi ke Ublah. Sesudah sampai di pantai dekat Ublah di waktu malam yang disinari rembulan, mereka melintas di depan sebuah  istana milik seorang prajurit.

Di dalamnya seorang budak wanita tengah memainkan alat musik. Sementara di samping istana, juga di bawah cahaya rembulan, terlihat seorang pria miskin dengan pakaian compang camping.

Budak wanita itu bernyanyi.

“Setiap hari engkau mengubah warnamu

Yang selain itu lebih baik bagimu”

Orang miskin itu berterikan, “Ulangi, itu adalah keadaanku bersama Allah Ta’ala!”

Si prajurit, pemilik budak wanita itu, memperhatikannya lalu berkata kepadanya, “Tinggalkanlah alat musikmu itu dan dekatilah orang itu. Ia seorang sufi!”

Kemudian wanita itu kembali bernyanyi, dan orang miskin itu kembali berseru pula. “Itu adalah keadaanku bersama Allah Ta’ala!” Budak wanita itu mengulang-ulanginya hingga si miskin itu berteriak sekali lagi kemudian pingsan. Abu Ishaq al-Harawi bersama Ibnul-Khayuthi menggerak-gerakkannya, namun ia telah meninggal.

Tatkala mendengar kematiannnya, pemilik istana turun dan memasukkannya ke istana. Abu Ishaq al-Harawi geram. “Orang ini akan mengafaninya tanpa adanya hak.”

Prajurit itu naik kembali dan merusak semua yang ada di hadapannya.

“Setelah ini tidak akan ada selain kebaikan!!” seru Abu Ishaq al-Harawi dan Ibnul-Khayuthi.

Keduanya lalu meneruskan perjalanan ke Ublah untuk bermalam dan memberitahu orang banyak.

Keesokan harinya mereka melintasi istana itu. Ternyata orang-orang berduyun-duyun datang dari segala penjuru untuk melayat jenazah si miskin di atas, seakan kematiannya diumumkan di Basrah. Bahkan para hakim, ulama, dan tokoh-tokoh lainnya juga turut melayatnya.

Si prajurit berjalan mengiring jenazah tanpa memakai alas kaki dan tutup kepala hingga si miskin itu selesai dikuburkan.

Pada saat orang-orang akan bubar si prajurit berkata kepada qadhi dan para saksi, “Persaksikan oleh kalian; semua sahaya wanitaku aku merdekakan untuk mendapat ridho Allah Ta’ala! Seluruh tanah dan kebunku aku sedekahkan di jalan Allah dan aku punya sebuah peti yang berisi 4.000 dinar; ia juga untuk jalan Allah!”

Lalu ia menanggalkan pakaian yang dipakainya dan melemparkannya. Yang tersisa hanyalah celananya.

Qadhi berkata, “Aku punya dua potong pakaian, kamu mau menerimanya?”

Prajurit menjawab, “Terserah Anda!” Ia ternyata mengambilnya; memakai salah satunya dan menyelempangkan yang lain, lalu ia pergi.

Dan tangisan orang-orang di atasnya lebih dahsyat dari tangisannya untuk mayit tersebut.*) (syahida/anw)

*)Diriwayatkan dari ‘Abdul Wahid bin Bakr dari Muhammad bin Daud as-Dinawari dari Abu Ishaq al-Harawi

Sumber : Kitab At-Tawwabin, Menuju Surga-Mu

Share this post

PinIt
scroll to top