Kisah Nabi Nuh (Bagian Ke-3) : Nuh Adalah Rasul Pertama Bagi Penduduk Bumi

Ilustrasi. (Foto : ahmadsamantho.wordpress.com)

Ilustrasi. (Foto : ahmadsamantho.wordpress.com)

Syahida.com – Intinya, disaat kerusakan menyebar di bumi, dan penyembahan berhala terjadi di segala penjuru, Allah mengutus hamba dan rasul-Nya Nuh A.S, menyeru untuk beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dan melarang menyembah apa pun selain-Nya.

Nuh adalah rasul pertama yang diutus Allah di muka bumi, seperti disebutkan dalam kitab Shahihain dari hadist Ibnu Hibban, dari Abu Zur’ah bin Amr bin Jarir, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW dalam hadist syafaat, Nabi SAW bersabda, “Mereka (ahli mauqif) datang menemui Adam lalu mengatakan, ‘Wahai Adam, engkau ayah manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan sebagian ruh (ciptaan)-Nya padamu, memerintahkan para malaikat sujud padamu, dan menempatkanmu di surga, tidakkah kau memberi syafaat kepada kami (untuk menemui) Rabb-mu ‘Azza wa Jalla?’ Adam menjawab, ‘Hari ini Rabb-ku sangat marah, belum pernah Ia marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini setelahnya. Jiwaku (yang seharusnya diberi syafaat), jiwaku (yang seharusnya diberi syafaat),” Abu Hurairah meneruskann kisah hadist ini hingga tuntas secara panjang lebar, seperti yang disebutkan Imam Bukhari dalam kisah Nuh.

Saat Allah mengutus Nuh, Nuh menyeru kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, tidak menyembah berhala, patung, ataupun thagut bersama-Nya, mengakui keesaan-Nya, tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan sebenarnya) dan tiada Rabb selain-Nya, seperti yang Allah perintahkan kepada para rasul setelah Nuh yang merupakan keturunannya. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (Ash-Shaffat: 77). Allah SWT berfirman terkait Nuh dan Ibrahim, “Dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan kitab.” (Al-Hadid: 26). Artinya, seluruh nabi setelah Nuh berasal dari keturunannya. Seperti itu juga Ibrahim.

Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36). “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, ‘Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?” (Az-Zukhruf: 45). “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Rabb (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Al-Anbiya: 25).

Karena itulah Nuh berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali  tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’ Sesungguhnya, (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)’.” (Al-A’raf: 59). “Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya, aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.” (Hud: 26). “Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Al-Mukminun: 23). “Wahai kaumku! Sesungguhnya, kau ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,” sampai pada firman-Nya, “Dan sungguh, Dia telah menciptakan kaum dalam beberapa tingkatan (kejadian)“ (Nuh: 3-14).

Disebutkan, Nuh menyeru mereka menuju Allah dengan berbagai macam dakwah tanpa mengenal waktu, siang dan malam, kala sepi ataupun ramai, sesekali dengan kabar gembira dan kadang dengan ancaman. Namun semua itu tidak membawa hasil. Sebagian besar dari mereka justru tetap sesat, berlaku semena-mena, menyembah patung dan berhala, memusuhi Nuh setiap saat , menghina Nuh dan para pengikut yang beriman padanya, mengancamkan rajam dan pengusiran pada mereka, menyakiti Nuh dan para pengikutnya secara berlebihan.

“Pemuka-pemuka kaumnya berkata,” yaitu para pemimpin dan pembesar di antara mereka, “Sesungguhnya, kami memandang kamu benar-benar berada dalam kessatan yang nyata.”

“Dia (Nuh) menjawab, ‘Wahai kaumku! Aku tidak sesat; tetapi aku ini seorang Rasul dari Rabb seluruh alam’.” Yaitu aku tidak seperti yang kalian katakan bahwa aku berada dalam kesesatan. Sebaliknya, aku berada di atas petunjuk yang rasul dan aku adalah seorang rasul dari Rabb seluruh alam yang mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah!” maka jadilah dia. “Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” Seperti itulah seorang Rasul yang harus fasih, tiada jemu menyampaikan nasihat dan paling mengenal Allah ‘Azza wa Jalla.

Mereka berkata kepada Nuh, “Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seroang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.” (Hud: 27).

Mereka merasa aneh jika ada Rasul dari golongan manusia, mencela para pengikut yang dalam pandangan mereka adalah orang-orang hina. Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang lemah akal dan golongan lemah, seperti dikatakan Heraklius, “Mereka (orang-orang lemah) adalah pengikut para rasul. Itu karena tidak ada halangan apa pun bagi mereka untuk mengikuti kebenaran.”

“Yang lekas percaya,” yaitu dengan sekedar diajak, mereka langsung menerima seruanmu tanpa pikir panjang. Tuduhan yang mereka sampaikan ini justru ini yang membuat para pengikut rasul mendapat pujian baik, karena kebenaran tentu telah jelas, tidak perlu dipikirkan terlalu panjang, wajib diikuti dan harus tunduk padanya saat kebenaran terlihat.

Karena itulah Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Setiap kali aku menyeru seorang pun menuju Islam, ia pasti ragu, kecuali Abu Bakar, ia tidak berpikir panjang (untuk masuk Islam).” Karena itu, pembaiatan terhadap dirinya di Saqifah Bani Sa’idah juga berlangsung dengan cepat, tanpa ada yang berpikir panjang, karena Abu Bakar dimata para sahabat adalah yang terbaik diantara yang lain. Untuk itu, saat Rasulullah SAW bermaksud untuk menulis wasiat berisi penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah, namun niat itu beliau urungkan kembali, beliau mengatakan, “Allah dan orang-orang mukmin enggan (memilih khalifah) selain Abu Bakar.”

Kata-kata kaum Nuh yang kafir terhadap para pengikutnya yang beriman, “Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami,” yaitu tak ada hal istimewa yang kami miliki, “Bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.’ Dia (Nuh) berkata, ‘Wahai kaumku! Apa pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diberi rahmat dari sisi-Nya, sedangkan (rahmat itu) disamarkan bagimu. Apa kami akan memakasa kamu untuk menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya?”

Nuh menyampaikan kata-kata tersebut kepada mereka dengan lemah lembut kala menyeru mereka menuju kebenaran, seperti yang Allah sampaikan di tempat berbeda, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44). Dan firman-Nya, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125). Cara dakwah yang disampaikan Nuh di atas termasuk bagian dari yang Allah sampaikan ini.

Nuh berkata kepada mereka, “Wahai kaumku! Apa pendapatmu jika kau mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diberi rahmat dari sisi-Nya,” yaitu kenabian dan risalah, “Sedangkan (rahmat itu) disamarkan bagimu,” yaitu tidak kalian pahami dan kalian tidak mendapat petunjuk kesana, “Apa kami akan memaksa kamu untuk menerimanya, “ yaitu apakah kami harus memaksa kalian untuk menerimanya, “Padahal kamu tidak menyukainya?” yaitu aku tidak punya cara ataupun kuasa untuk itu karena kalian tidak menyukainya. “Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah Allah,” yaitu aku tidak menginginkan imbalan atas seruan yang aku sampaikan kepada kalian, seruan yang membawa guna bagi kalian di dunia dan akhirat, aku hanya menginginkan pahala dari Allah, pahala-Nya lebih baik bagiku dan lebih kekal dari imbalan yang kalian berikan padaku.

Firman-Nya melalui lisan Nuh,”Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sungguh, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh,” mereka sepertinya meminta Nuh untuk mengusir para pengikutnya dan berjanji akan bertemu dengan Tuhannya,” karena itu aku takut mengusir mereka. Tidakkah kalian mau mengambil pelajaran?

Untuk itu, saat orang-orang kafir Quraisy meminta Rasulullah SAW untuk mengusir orang-orang mukmin lemah dari dekat beliau, seperti Ammar, Shuhaib, Bilal, Khabbab dan lainnya, Allah melarang beliau melakukan hal itu, seperti yang telah kami jelaskan dalam surah Al-An’am dan Al-Kahfi.

“Dan aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat,” yaitu aku hanya seorang hamba yang diutus, kau tidak mengetahui apa pun dari Allah, selain yang Ia ajarkan padaku, aku tidak mampu melakukan apa pun selain izin dan pertolongan-Nya, aku tidak kuasa memberikan manfaat ataupun menolak mara bahaya dari diriku selain yang dikehendaki Allah. “Dan aku tidak (juga) mengatakan kepada orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu,” yaitu para pengikutnya, “Bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui  apa yang ada pada diri mereka. Sungguh, jika demikian aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim,” yaitu aku tidka menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kebaikan disisi Allah pada hari kiamat, Allah lebih mengetahui mereka, Ia akan memberi mereka balasan sesuai dengan apa yang ada dalam diri mereka.

Balasan baik akan diterima jika ada dalam diri mereka baik, dan balasan buruk akan diterima jika yang ada dalam diri mereka buruk, seperti yang mereka katakan di sejumlah ayat lainnya, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?’ Dia (Nuh) menjawab, ‘Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang mereka kerjakan. Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak akan mengusir orang-orang beriman. Aku (ini) hanyalah pemberi peringatan yang jelas’.” (Asy-Syu’ara: 11-115). [Syahida.com]

—–

Bersambung….

Sumber : Kitab Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Versi Tahqiq 

Share this post

PinIt
scroll to top