Kisah Nabi Nuh (Bagian Ke-12 – TAMAT) : Wasiat Nabi Nuh untuk Anaknya

Ilustrasi. (Foto : tattoopins.com)

Ilustrasi. (Foto : tattoopins.com)

Syahida.com –  Imam Ahmad menuturkan, “Sulaiman bin Harb bercerita kepada kami, Hammad bin Zaid bercerita kepada kami, dari Shaq’ab bin Zuhair, dari Zaid bin Aslam, Hammad berkata, ‘Aku kira riwayat ini dari Atha bin Yasar, dari Abdullah bin Amr, ia menuturkan, ‘Suatu ketika kami berada di dekat Rasulullah SAW, kemudian ada seorang Badui datang, ia mengenakan jubah panjang dengan manset sutera, beliau kemudian berkata, ‘Ketahuilah! Kawan kalian ini telah mengalahkan semua jagoan keturunan jagoan atau beliau katakan, ‘Ingin mengalahkan semua keturunan jagoan dan mengangkat semua pemimpin keturunan pemimpin.’

Rasulullah SAW kemudian meraih kerah jubahnya lalu berkata, ‘Kau terlihat mengenakan pakaian orang yang tidak berakal.’ Setelah itu beliau mengatakan, ‘Menjelang kematian, Nabi Allah Nuh A.S  berkata kepada anaknya, ‘Sungguh, aku akan menyampaikan wasiat kepadamu. Aku perintahkan dua hal kepadamu dan aku melarangmu melakukan dua hal; aku memerintahkanmu untuk (mengucapkan dan mengamalkan) ‘La ilaha illallah,’ karena andaikata tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan di sisi lainnya, tentu ‘La ilaha illallah’ lebih berat darinya, karena dengannya segala sesuatu terhubung, karenanya seluruh makhluk diberi rezeki, dan aku melarangmu berbuat syirik dan sombong.’

Abdullah bin Amr mengatakan, ‘Aku bertanya, atau beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah, syirik sudah kita ketahui, lalu apa itu kesombongan? Apakah jika salah seorang dari kami mengenakan dua sandal bagus pula (disebut sombong)?’ ‘Tidak,’ jawab beliau. ‘Apakah jika salah seorang di antara kami mengenakan baju bagus (disebut sombong)?’ tanyanya kembali. ‘Tidak,’ jawab beliau. Aku berkata, atau dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, lalu apa itu kesombongan?’ ‘(Sombong adalah) menolak kebenaran dan meremehkan orang lain,’ jawab beliau.”

Sanad hadist ini shahih, hanya saja tidak ditakhrij Imam Bukhari dan Muslim.

Juga diriwayatkan Abu Qasim Thabrani dari hadist Abdurrahman bin Sulaiman dari Muhammad bin Ishaq, dari Amr bin Dinar, dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda, “Di antara wasiat Nuh untuk selamanya; ‘Aku wasiatkan dua hal padamu, dan aku melarangmu melakukan dua hal,’ Thabrani menyebutkan lanjutan seperti riwayat di atas.

Juga diriwayatkan Abu Bakar Al-Bazzar dari Ibrahim bin Sa’id, dari Abu Mu’awiyah Adh-Dharir, dari Muhammad bin Ishaq, dari Amr bin Dinar, dari Abdullah bin Umar bin Khaththab, dari Nabi SAW, dengan matan serupa. Sepertinya, riwayat ini bersumber dari Abdullah bin Amr bin Ash, seperti yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani. Wallahu a’lam.

Ahli Kitab menyatakan, saat naik kapal, Nuh berusia 600 tahun. Riwayat dari Ibnu Abbas terkait hal ini sudah kami sebutkan sebelumnya. Dalam riwayat ini ditambahkan; setelah itu Nuh hidup selama 350 tahun. Pernyataan ini harus dikaji lebih dalam. Selanjutnya, jika tidak bisa disinkronkan dengan petunjuk nash Al-Qur’an, berarti pernyataan tersebut jelas sekali keliru. Karena, nash Al-Qur’an menunjukkan bahwa Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama seribu tahun kurang 50 tahun setelah diangkat sebagai nabi dan sebelum banjir bah terjadi, setelah itu kaum Nuh tertimpa banjir bah, dan mereka berada dalam keadaan zalim. Namun setelah itu Allah tidak menyebutkan, berapa lama Nuh hidup.

Jika riwayat di atas terjaga dari Ibnu Abbas, maksudnya Nuh diangkat sebagai nabi dalam usia 480 tahun, atau ia hidup selama 350 tahun setelah terjadi, berarti usia Nuh 1780 tahun.

Terkait makam Nuh A.S, Ibnu Jarir dan Al-Azraqi meriwayatkan dari Abdurrahman bin Sabith, atau tabi’in lain secara mursal, bahwa makam Nuh ada di Masjidil Haram.

Riwayat ini lebih kuat dan valid dari penuturan sebagian besar kalangan ahli sejarah kontemporer yang menyebut makam Nuh berada di sebuah kawasan yang saat ini disebut Kurk Nuh, dan di sana ada sebuah Masjid Jami’ yang didirikan karena hal tersebut. Wallahu a’lam. [Syahida.com]

– TAMAT

Sumber : Kitab Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Versi Tahqiq

 

Share this post

PinIt
scroll to top