Kiamat, Akhir Kehidupan

Ilustrasi. (Foto : ruangjuang.wordpress.com)

Ilustrasi. (Foto : ruangjuang.wordpress.com)

Syahida.com – Dunia adalah tempat manusia dan makhluk-makhluk Allah tinggal. Sejak semula, manusia diciptakan oleh Allah SWT agar berbuat kebajikan, mampu berkarya dan dapat memakmurkan bumi dengan potensi-potensi yang ada dengan segala aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Hal tersebut selaras dengan firman-Nya yang berbunyi:

“… Aku ciptakan di muka bumi ini seorang pemimpin …” (Al-Baqarah: 30).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pada dasarnya manusia secara individual membawa misi dan tujuan yang sama dari Tuhannya, yaitu menjadi seorang khalifah (pemimpin) baik secara pribadi, untuk pribadi, untuk keluarga, orang banyak, dan juga menjadi pengaturan potensi-potensi alam semesta. Aplikasi tugas-tugas manusia tersebut merujuk kepada aturan-aturan dan ketetapan Allah yang disebut dalam kehidupan ini dengan istilah syariat.

Syariat atau aturan Allah tersebut merupakan landasan atau pijakan manusia dalam mengaktualisasikan kepemimpinannya di muka bumi ini. Semua totalitas kehidupan manusia dalam segala aspeknya adalah ukiran perjalanan dalam kiprahnya sebagai seorang khalifah.

Konsekuensi tugas-tugas manusia dalam menjalani misinya adalah tanggung jawab kepada Allah SWT. Dengan kata lain, setiap ukiran perjalanan hidup manusia itu akan dipertanyakan oleh Allah SWT. Sedangkan kejujuran, kebenaran, dan keadilan menjadi bukti akan sikap kekhalifahannya. Karena itu, hidup di dunia hanyalah sebagai titian perjalanan dan tempat manusia menanam berbagai benih kebajikan dan pahala, yang disebut dalam sabda Nabi Muhammad SAW. Addunyaa maza’tul akhirah yaitu dunia itu adalah sebagai tempat ladang kehidupan akhirat.

Perjalanan bukanlah tanpa batas, misi kehidupan pun sudah pasti mempunyai tujuan. Manusia hidup di dunia hanyalah sementara. Ia pada akhirnya pun akan lengser meninggalkan kehidupan dunia yang fana. Sedangkan kematian manusia adalah juga bagian dari tanda-tanda akhir kehidupan, yang di dalam bahasa agama dikatakan sebagai kejadian Kiamat Sughra (kecil), yang akan kita paparkan penjelasannya pada bab-bab berikut, sebelum penjelasan mengenai perihal kejadian Kiamat Kubra (besar).

Kiamat paling akhir tersebut (Kiamat Kubra) merupakan akhir bagi seluruh kehidupan makhluk-makhluk yang ada di seluruh alam jagat raya. Tetapi hal tersebut tidaklah berlaku bagi manusia. Meskipun telah meninggal, hancur berkalang tanah, akan tetapi bagi manusia, kiamat itu merupakan awal kehidupan baru, yaitu hidup kekal dan abadi, sebagai perubahan besar bagi kehidupan manusia dari alam “fana” ke alam “baqa”.

Percaya akan datangnya hari Kiamat adalah bagian dari sendi-sendi keimanan yang keenam. Keyakinan tersebut, bagi umat Islam bukanlah sekadar “percaya” atau menjadi “ingatan” bahwa segala apa yang ada di dunia ini adalah “fana”. Melainkan keyakinan tersebut memberi pemahaman bahwa hidup ini walking tool dan “titian panjang” yang menghantarkan manusia kepada kehidupan baqa.



Dengan keyakinan tersebut, “Bagaimanakah nasib kehidupan manusia di alam baqa nanti?” Jawabannya adalah hal tersebut akan sangat bergantung kepada bagaimana kehidupan seseorang di dunia.” Rasulullah SAW selalu mengingatkan kita dengan sabdanya:

“Perbaikilah kapalmu, karena sesungguhnya lautan itu teramat dalam.”

Dengan kalimat yang agak puitis tersebut, sebenarnya Rasulullah SAW berpesan agar manusia mempersiapkan bekal kehidupan mereka yang masih panjang. Persiapkan bekal tersebut tentunya bukanlah bersifat materi, akan tetapi yang lebih dalam maknanya dari yang demikian itu, yaitu berbuat amal saleh dan menjauhkan perbuatan yang salah. Tidak satu pun makhluk-makhluk Allah SWT yang mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi. Termasuk juga Rasulullah SAW diberi hak untuk mengetahui akan tanda-tanda kedatangannya, baik tanda-tanda dekat, maupun tanda-tanda jauh. Oleh karena itu, melalui hadist sebelumnya manusia diingatkan agar selalu mengupayakan diri mengaktualisasi kekhalifahannya dalam totalitas hidup mereka. Hal itu dimaksudkan agar manusia dapat bersikap konsisten dan istiqamah pada ketentuan dan syariat Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga pada gilirannya ketika kiamat itu datang mereka tidak akan merasa menyesal. Hal tersebut sebagaimana disinggung di dalam firman Allah berikut ini:

“… Sehingga apabila kiamat itu datang kepada mereka dengan tiba-tiba mereka berkata: ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!’…” (QS. Al-An’aam: 31).

Akhir kehidupan atau kiamat tidaklah hanya berpengertian “kehancuran total” bagi seluruh alam jagat raya dengan galaksi-galaksi yang ada di sekelilingnya. Kejadian malapetaka kecil pun dianggap sebagai kiamat, walaupun dalam kapasitas mikro, yang ada dalam bahasa agama sering disebut dengan istilah “Kiamat Sughra atau Kiamat kecil”. Sedangkan kiamat kecil tersebut merupakan bagian “Big Bang Kehancuran Total” bagi semua sendi kehidupan makhluk, yang dalam bahasa agama disebut dengan istilah “Kiamat Kubra atau Kiamat Besar”. [Syahida.com]

Sumber : Kitab Fenomena Kiamat, Ikhwan Fauzi, Lc.

Share this post

PinIt
scroll to top