Khadijah Binti Khuwailid, Shohabiyah yang Dijamin Masuk Surga (Bagian ke-10): Seorang Ibu dan Pendidik yang Baik

Ilustrasi. (Foto : all-free-download.com)

Ilustrasi. (Foto : all-free-download.com)

Syahida.com – Meninggalnya Khadijah radhiyallahu ‘anha, membuat Rasulullah merasa sangat kehilangan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, sangat sedih. Ketika Khaulah binti Hakim berkata: “Ya Rasulullah, sepertinya engkau sangat sedih dengan meniggalnya Khadijah.” Beliau menjawab, “Benar, karena dia seorang ibu dan pendidik yang baik.”

Sungguh benar apa yang dikatakan dalam sebuah syair:

“Seandainya semua wanita seperti wanita yang meninggal saat ini. Pasti wanita lebih mulia dibandingkan pria.”

Ibnu Ishaq menyebutkan dalam bukunya, “Khadijah dan Abu Thalib meninggal pada tahun yang sama, sehingga kesedihan Rasulullah menumpuk. Sebelumnya Khadijah adalah wanita yang bisa menghilangkan kesedihan Rasulullah.”[1]

Imam Nawawi menyebutkan bahwa Khadijah radhiyallahu ‘anha, hidup bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam selama 24 tahun dan beberapa bulan, kemudian meninggal dunia.[2]

Sanjugan untuk Khadijah radhiyallahuanha,.

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Khadijah memiliki sifat mulia yang tak terhitung. Dia wanita sempurna, cerdas, terhormat, dan taat beragama. Dia sudah mendapat jaminan surga. Nabi sering menyanjung dan mengistemawakan Khadijah dibandingkan Ummul Mu’minin lainnya. Hingga ‘Aisyah berkomentar, ‘Aku tidak pernah iri kepada wanita seperti rasa iriku kepada khadijah, karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sering menyebut namanya.’” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)[3]

Namun sangat sayang, hormat dan kagum kepada: Khadijah radhiyallahu ‘anha, beliau bersabda, “Banyak laki-laki sempurna, tetapi wanita yang sempurna hanya tiga: Maryam binti Imran, Asiah istri Fir’aun, dan Khadijah binti Khuwalid radhiyallahu ‘anha, kemuliaan Aisyah radhiyallahu ‘anha, dibandingkan wanita lain, seperti keistemewaan roti dibandingkan makanan lain.”



Seorang ulama mengulas hadits ini dan mengatakan, “Diantara kesitimewaan yang dimiliki tiga wanita ini adalah ketiga-tiganya menanggung kehidupan seorang Nabi, memperlakukan Nabi dengan baik, dan beriman seorang Nabi tersebut. Asiah adalah wanita yang mengasuh Musa ‘alaihis salaam dengan baik, dan beriman pada kenabiannya. Maryam mengasuh dan mendidik Isa ‘alaihis salaam. dengan baik lalu beriman pada kerasulannya. Dan, khadijah radhiyallahu ‘anha meminang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyerahkan diri dan hartanya untuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dialah mukmin pertama ketika Muhammad diangkat menjadi Nabi.”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, sering menyebut nama Khadijah radhiyallahu ‘anha, beliau bersabda, “Cintanya adalah anugerah yang diberikan kepadaku.” (HR. Muslim)

Rasulullah juga bersabda, “Wanita langit paling mulia adalah Maryam binti Imran, dan wanita bumi paling mulia adalah Khadijah.” (HR. Bukhari Muslim dan Tirmidzi)

Rasulullah menjalani hidup bersama Khadijah cukup lama, hingga dia meninggal dunia di usia 65 tahun. Saat itu, Rasulullah berusia 50 tahun. Bersama Khadijah, Rasulullah merasakan hidup yang sangat indah, hingga Khadijah menempati ruang khusus di hati beliau. Semakin hari, kekaguman beliau terhadap Khadijah semakin bertambah.

Diantara keisimewaan Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah dia istri pertama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, semua anak beliau dari pernikahan dengan Khadijah radhiyallahu ‘anha, kecuali Ibrahim bin Maria. Beliau tidak menduakannya hingga Khadijah meninggal dunia.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetap setia kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha, beliau sering menyanjungnya; sayang kepada orang yang disayangi Khadijah. Satu waktu, saudara perempuan Khadijah yang bernama Halah datang berkunjung kepada beliau. Mendengar suara Halah, sudah cukup mengingatkan Rasulullah akan Khadijah dan membuat raut wajahnya berseri-seri.

[Syahida.com]

——

Bersambung….

Sumber : Kitab 20 Sirah Shohabiyah yang Dijamin Masuk Surga, Ahmad Khalil Jum`ah

 

[1] Sirah Ibnu Hisyam 1/416 Sirah Ibnu Hisyam 1/416. Tarikhul Islam, karya Adz-Dzahabi 1/236. Al-Ishabah, karya Ibnu Hajar 2/341.

[2] Tah-dzibul Asma’ wal Lughat 2/341.

[3] Sirah a’lamin Nubala 1/110.

Share this post

PinIt
scroll to top