Gerakan Feminisme, Merusak Muslimah

Ilustrasi. (Foto : fathimiah.com)

Ilustrasi. (Foto : fathimiah.com)

Syahida.com – Dra. Syahradzat Syaukat Al-Bahri, Wakil Ketua Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah

Tanggal 21 April diperingati setiap tahun sebagai lambang bahwa pada di Zaman RA Kartini perempuan dikekang, tidak boleh sekolah dan tidak boleh berperan. Antara lain, atas jasa beliau, akhirnya kaum perempuan merupakan bagian dari laki-laki yang bisa memerankan dirinya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, lingkungannya dan masyarakat pada umumnya. Hal itu, sebetulnya sesuai dengan Islam yang mengajarkan laki-laki dan perempuan saling menolong dalam kebaikan.

Sebenarnya Allah Subhanahu  wa Ta’ala menciptakan laki-laki dan perempuan ada hikmahnya. Tidak mungkin laki-laki identik dengan perempuan, atau perempuan sama dengan laki-laki seperti yang diperjuangkan kaum feminisme. Gerakan feminisme melakukan usaha-usaha untuk merusak perempuan, terutama Muslimah. Mereka didukung dana dari asing yang digunakan untuk penelitian tentang perempuan yang maksudnya menjauhkan kita dari Islam.

Contohnya adalah apa yang dibuat oleh Ibu Musdah dengan mendapat dari Asia Foundation. Pemikirannya, antara lain, bahwa kepala keluarga adalah yang mendatangkan uang, laki-laki juga harus menunggu ‘iddah, pembagian waris kenapa perempuan hanya 1(satu) bagian?

Walaupun perempuan hanya mendapat satu bagian tapi harta perempuan itu, punya perempuan itu sendiri. Sedangkan harta laki-laki, sebagian wajib diberikan kepada orangtua, anak dan saudara perempuan yang membutuhkan pertolongan. Banyak kewajiban laki-laki dengan hartanya, sedangkan harta perempuan. Mutlak dia sendiri. Jadi Allah memang Maha Adil.

Kedudukan perempuan dalam Al-Qur’an sangat mulia bahkan ada surat khusus untuk perempuan. Padahal pada zaman jahiliah perempuan tidak dapat warisan sama sekali, perempuan tidak diberi uang mahar dan perempuan dianggap sebagai binatang. Malah ketika suaminya meninggal, kakak atau adik dari suaminya berhak mengambil warisan. Tidak ada artinya perempuan saat itu. Islam mengajarkan perempuan mendapatkan haknya, sehingga perempuan mendapat hak waris, mendapat mahar dan lain-lain. Islam menyuruh perempuan menjaga aurat, menjaga hijab dan tidak bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.

Saya berpesan khususnya kepada para ibu. Mereka harus betul-betul menguasai rumah tangga agar mampu membuat rumah tangga kuat dan kokoh. Seorang ibu harus berkorban dengan niat ibadah untuk merawat suami, anak-anak dan mengatur keluarga.

Sebenarnya saya kasihan kepada remaja putri, karena belum banyak yang memperhatikan mereka. Seharusnya ada lembaga-lembaga perempuan yang lebih senior yang harus memperhatikan agar mereka merasa terlindungi. Remaja-remaja ini sebenarnya baik, hanya tergantung mau kita arahkan ke mana.

Bila kita melihat realitas remaja saat ini, sebenarnya kesalahan bukan pada remaja itu sendiri. Yang ikut disalahkan adalah rumah, sekolah dan lingkungan. Segitiga ini tidak bisa dipisah-pisahkan, harus kompak dan harus diusahakan terus menerus tanpa bosan. Keluarga masing-masing agar menjaga mereka, sedang di sekolah, mereka mendapat peningkatan, selain ilmu juga agar diberikan pengertian tentang permasalahan remaja. [Syahida.com]

Sumber: Sabili No. 21 Th.XII 5 Mei 2005/26 Rabiul Awal 1426

Share this post

PinIt
scroll to top