Kisah Anak Berbakti, Sulitnya Ujian Ucapkan Perkataan yang Mulia Kepada Orang Tua

Ilustrasi. (Foto : e-qalinsya.blogspot.com)

Ilustrasi. (Foto : e-qalinsya.blogspot.com)

Syahida.com – Kita akan melanjutkan penghayatan kita terhadap ayat Al-Qur’an, mengulang-ulang bacaannya hingga melekat dalam hati, selanjutnya kita terjemahkan dalam kehidupan melalui tangan, kaki dan perasaan. Kami berjanji pada pertemuan mendatang, kami akan menginformasikan penuturan seseorang tentang pengalaman hidupnya bersama firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia.” (QS. Al-Isra [17]: 23).

Permasalahan ini tampak sederhana, tetapi setiap insan memiliki kebiasaan yang tertanam sejak kecil. Ketika seorang menginjak dewasa, kebiasaan tersebut amat sulit untuk diubah. Etika bertutur kata dengan orangtua amat berlainan antara satu orang dengan orang lain. Ada orang yang senantiasa menampakkan roman muka masam setiap kali berhadapan dengan orangtua. Hampir dapat dipastikan, isi pembicaraannya pun bernada masam. Orang lain berbicara pada orangtua dengan cara yang biasa-biasa saja, sedang yang lainnya berbicara dengan nada dingin tanpa basa-basi, tetapi ia tidak menyadari hal itu. Ada pula wanita yang tidak ingat apakah ia pernah mencium tangan ayah atau ibunya. Berikut akan penulis kemukakan beberapa pengalaman pribadi yang dapat memberi gambaran yang lebih jelas.

Salah seorang saudari kita bertutur tentang kisahnya, “Ketika aku mengulang-ulang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra [17]: 23).

“Aku berkata dalam hati, ‘Ayat ini hanya terdiri dari beberapa patah kata, sehingga aku merasa tidak perlu berfikir terlalu jauh untuk mengamalkan ayat tersebut dalam kehidupanku. Simaklah pengalamanku berikut ini!”

“Aku telah mempersiapkan sebaris kalimat indah dalam benakku untuk kukatakan kepada ibuku. Tetapi ketika aku bertatap muka dengan ibu dan ingin mengatakan terus terang, tiba-tiba mulutku terkunci rapat. Sepertinya ada perasaan yang amat tidak mengenakkan, lantaran aku tidak terbiasa mengucapkan ungkapan seperti itu pada ibuku. Usaha pertamaku gagal. Pada kali kedua, aku menghimpun segenap keberanianku. Aku bertekad untuk mengungkapkan pada ayahku rasa hormat dan cintaku, bahwa aku amat membutuhkan mereka. Tapi, untuk kedua kalinya aku merasa dikhianati oleh kata-kataku sendiri. Dalam hati aku berkata, ‘Aku tidak akan mundur, Insya Allah’.”

“Bukankah ini mudah, tetapi ada apa dengan diriku? Aku membayangkan andaikan orangtua mendengarkan kata-kataku, sungguh mereka akan terkejut dan aku akan tertawa, kemudian aku akan menjadi bahan ejekan saudara-saudaraku. Aku berdoa kepada Allah semoga saja aku mendapat kehormatan mengamalkan firman-Nya dalam hidupku. Petunjuk pun datang. Aku berfikir untuk pergi ke toko penjual bunga. Aku membeli dua kuntum bunga, satu untuk ayah dan satu untuk ibu. Ketika aku menghadiahkan bunga itu pada ibuku, aku katakan kepadanya, ‘Ini untukmu wahai ibuku yang manis!’ Ibuku tersenyum, senyuman yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Seolah ibu berkata kepadaku, ‘Benarkah aku demikian manisnya padamu?’ Begitu yakinnya aku pada jawaban yang paling berharga dalam hidup ini. Tanpa dirimu, dunia bagai fatamorgana!”

“Tanpa menunggu reaksi ibu, aku melangkah dengan penuh rasa yakin menghampiri ayah dan kukatakan padanya, ‘Bunga dunia dariku, dan untukmu balasan lebih besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala!’ Dengan nada canda, ayahku berkata, ‘Baik, mudah-mudahan baik. Apakah engkau begitu senang hari ini?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku amat berbahagia karena kalian berdua!’ Aku bergegas masuk ke dalam kamar, bersamaan dengan debar jantungku yang kencang, aku berkata dalam hati , ‘Sekarang engkau tahu, persoalannya amat sederhana!’”

Saat ini aku merasa amat berbahagia. Aku telah menambahkan ungkapan-ungkapan pujian kepada orangtuaku, dan keduanya semakin bisa menerima ucapanku. Bahkan setiap kali akan meninggalkan rumah, aku mencium ayah dan ibuku. Aku kini mengenal arti kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Aku mengajak kalian semua untuk menghayati dan bergerak untuk menerapkan makna ayat tersebut dalam hidup kalian.”

Salah seorang saudari kita yang mendengar penuturan tersebut berkomentar, “Engkau bernasib baik, tetapi aku tidak. Aku masih kikir pada orangtua dengan ungkapan-ungkapan kasih sayang dan penghormatan. Justru adikkulah yang berhasil mempraktekkannya. Setiap kali aku pulang, usai menghadiri pertemuan seperti ini, ia selalu menantikan aku untuk mendengar penuturanku tentang ayat-ayat Al-Qur’an, makna dan latarbelakang turunnya ayat yang kita bahas dalam pertemuan. Rupanya, ia telah mengerti benar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yangmulia.” (QS. Al-Isra [17]: 23).

Seolah ayat tersebut telah melekat di bibir dan menjelma dalam perilaku adikku, jauh berbeda dengan sebelumnya. Dalam setiap tutur kata dan canda, ia meluncurkan ungkapan-ungkapan indah penuh penghargaan kepada orangtua, sehingga aku menduga adikku telah menghafalkan kalimat-kalimat itu terlebih dahulu, sebelum ia mendapat sambutan hangat dari ayah atau ibu kami. Setiap keluar masuk rumah, aku mendengar ibuku selalu saja berdoa untuk adikku. Bahkan, suatu ketika, aku mendengar ibuku berkata, ‘Mudah-mudahan Allah memuliakan diriku sebagai penghuni surga lantaran aku telah melahirkan anak ini!” Aku bingung, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Adikku telah mendahului aku menggapai kebaikan seperti itu!”

Saudari kita yang menuturkan kisah pertama memberi nasihat, “Cobalah berulang kali, sebab kita tengah bersaing untuk bergerak bersama Al-Qur’an!”[1] [Syahida.com]

  1. Makalah tulisan Sumayyah Ramadhan, Majalah al-Mujtama’ edisi 1625, tanggal 30 Oktober 2000 M.

Sumber: Musa bin Muhammad Hajjad az Zahrani (Keramat Hidup: Orang Tua)

Share this post

PinIt
scroll to top