Kisah Abu Hurairah Bersama Ibunda Tercinta

Ilustrasi. (Foto : forum.gondal.de)

Ilustrasi. (Foto : forum.gondal.de)

Syahida.com – Berikut adalah petikan kisah dari Sirah Nabi (Perjalanan Hidup dan Perjungan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) yang bertutur tentang kehidupan Abu Hurairah radhiyallahu anhu bersama ibunya tercinta;

Pemuda dari kabilah ad-Dausi yang amat berbakti kepada ibunya itu tidak lain adalah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Kisah Abu Hurairah bersama ibunya tercantum dalam Shahih Muslim dan kitab hadist lainnya.

Abu Hurairah menuturkan, “Ibuku adalah orang yang menyekutukan Allah (musyrik). Aku menyerunya untuk masuk Islam, tetapi ia malah mencaci-maki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan kata-kata yang amat aku benci. Sambil menahan isak tangis, aku datang menghadap Rasulullah. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai Rasul, aku mengajak ibuku untuk memeluk Islam, tetapi ia ingkar. Hari ini aku menyerunya kembali, tetapi ia malah memperdengarkan kata-kata buruk tentang dirimu dan aku amat membencinya. Berdoalah agar Allah memberikan petunjuk kepada ibuku.’ Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa, ‘Ya Allah, berikan petunjuk kepada ibunda Abu Hurairah’.”

“Aku berlalu dengan penuh sukacita lantaran doa Nabi. Ketika kembali ke rumah, aku mendapati pintu rumahku terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, ia berkata, ‘Diam di tempatmu, Abu Hurairah!’ Ibuku mandi, sesudah itu ia berikrar, ‘Asyhadu alla ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah’. (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak di sembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Sambil menangis bahagia, aku menghadap Rasulullah, ‘Bergembiralah wahai Rasulullah, karena Allah telah mengabulkan doamu dan Dia juga telah memberi petunjuk kepada ibunda Abu Hurairah!” Rasulullah langsung memanjatkan pujian bagi Allah dan mengucapkan kebaikan.” (HR. Muslim)

Di antara akhlak mulia Abu Hurairah yang membawanya pada kedudukan tinggi adalah bakti dan kesetiaannya kepada sang ibu. Ketika ia mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Bagi hamba sahaya yang beramal mendapatkan dua pahala,”[1] Abu Hurairah berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ada pada kekuasaan-Nya. Kalau saja tiada perintah jihad fi sabililllah, haji, dan berbakti kepada orangtu, niscaya aku berharap mati sebagai seorang budak.”

Sa’id bin al-Musayyab menuturkan, “Seseorang memberitahukan kepadaku bahwa Abu Hurairah belum melaksanakan haji hingga ibunya wafat, lantaran kesetiaannya pada ibu.”

Masih berkenaan dengan bakti Abu Hurairah berkata, “Aku makan satu biji dan sisanya kusimpan.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Wahai Abu Hurairah, mengapa engkau tidak memakan kurma itu?” Aku menjawab, “Untuk ibuku!” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Makanlah, aku akan memberikan untuk ibumu dua biji kurma lainnya.” Kemudian aku memakannya, lalu Rasulullah memberiku dua biji lagi.

Abu Murrah, mantan hamba sahaya Ummu Hani putri Abu Thalib menuturkan, suatu hari ia berkendara bersama Abu Hurairah radhiyallahu anhu pulang ke kampung halamannya di al-‘Aqiq. Saat mendekati rumah, Abu Hurairah berseru dengan suara keras, “Salam sejahtera dan rahmat Allah atas dirimu, wahai ibuku!”



“Salam sejahtera dan rahmat Allah atas dirimu, wahai anakku,” jawab sang ibu.

“Semoga Allah menyayangi dirimu seperti engkau menyayangi aku di waktu kecil!”

“Wahai anakku, semoga Allah menyayangimu pula, dan semoga Allah memberikan kebaikan dan keridhaan kepadamu, seperti engkau berbakti kepadaku di masa tua.” [Syahida.com]

Sumber: Musa bin Muhammad Hajjad az-Zahrani (Keramat Hidup: Orang Tua)

  1. Hadist Shahih, lihat al-Albani, al-Jami’i, hadist no. 5185.

Share this post

PinIt
scroll to top