Apa Saja Etika Terhadap Orang Tua yang Harus Diperhatikan?

Ilustrasi. (Foto : insideonemagazine.com)

Ilustrasi. (Foto : insideonemagazine.com)

Syahida.com – Ada beberapa etika yang harus diperhatikan dan sangat baik diterapkan dalam pergaulan kita dengan orangtua. Mudah-mudahan dengan menerapkan etika tersebut, kita dapat membayar sebagian hutang budi pada orangtua, atau dengan etika tersebut kita dapat melaksanakan kewajiban kita pada orangtua. Semua itu agar kita dapat meraih ridha Allah, jiwa kita tentram, hidup bahagia, urusan kita dimudahkan, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi berkah pada umur kita dan melapangkan rezeki kita.

Etika-etika tersebut antara lain;

1. Patuh pada orangtua dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat terhadap orangtua. Setiap musllim wajib taat dan tidak berbuat maksiat pada orangtua. Sikap taat pada kedua orangtua harus didahulukan daripada ketaatan terhadap siapa pun, selama keduanya tidak memerintahkan anaknya untuk berbuat maksiat pada Allah dan Rasul-Nya. Adapun seorang istri, maka ia wajib mengutamakan ketaatan pada suami atas orangtuanya.

2. Berbuat baik pada orangtua, baik melalui perkataan atau perbuatan.

3. Tunduk di hadapan orangtua; dengan berendah diri dan tawadhu’.

4. Tidak bersikap kasar pada orangtua; dengan membiasakan diri bertutur kata yang halus dan berkata yang lembut, tidak bersuara keras apalagi membentak mereka.

5. Memberikan perhatian penuh pada orangtua; dengan menghadapkan muka pada orangtua saat keduanya berbicara, tidak memotong atau menyangkal pembicaraan orangtua, lebih-lebih mendustakan atau tidak menerima perkataan kedua orangtua.

6. Senang dan berlapang dada saat diperintah orangtua, dan tidak berkata ‘ah!’ sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah!’ dan janganlah kamu membentak mereka.” (QS. Al-Isra [17]: 23)

7. Senantiasa menampakkan wajah berseri saat bertemu muka dengan orangtua dan tidak bermuka masam.

8. Berusaha meraih simpati dan kasih sayang orangtua antara lain dengan lebih dulu mengucapkan salam, mencium tangan dan kepala orangtua, melapangkan tempat duduk mereka dalam majelis, dan tidak mendahului mencicipi hidangan saat makan bersama. Membiasakan diri berjalan di belakang orangtua di siang hari, dan berjalan di depan di saat malam hari, khususnya apabila jalan dalam keadaaan gelap atau berbahaya. Jika jalan dalam keadaan terang dan aman, maka tidak ada salahnya seseorang berjalan di belakang orangtuanya.

9. Duduk di hadapan orangtua dengan sopan dan beradab; duduk dengan tegak, menjauhkan diri dari sikap yang dapat dianggap merendahkan martabat orangtua baik secara langsung, seperti menjulurkan kaki, berdehem di depan orangtua, duduk bersandar atau berbusana yang menampakkan aurat, atau melakukan perbuatan mungkar di hadapan orangtua atau hal-hal lain yang bertentangan dengan kesempurnaan etika seorang anak di hadapan orangtuanya.

10. Bercerita pada orang lain tentang kebaikan dan jasa yang diberikannya pada orangtua. Perbuatan ini merupakan akhlak yang buruk, dan akan semakin tampak buruk apabila berkaitan dengan orangtua. Seorang anak hendaknya memberi orangtuanya apa yang mampu ia berikan dan berkata terus terang akan keterbatasan dirinya dan memohon maaf atas ketidakmampuan dirinya menunaikan semua hak orangtua.

11. Mengutamakan hak ibu. Hal lain perlu diperhatikan adalah, kewajiban berbakti dan berbuat baik kepada ibu wajib didahulukan daripada kepada ayah, berdasarkan hadist riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu Ia menuturkan, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku temani?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Orang itu bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ ‘Ayahmu,’ jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

12. Membantu pekerjaan orangtua. Tidak pantas bagi seorang anak berpangku tangan sedang orangtuanya sibuk bekerja.

13. Menghindari perbuatan yang dapat mengusik ketenangan orangtua. Misalnya membuat gaduh atau suara-suara keras pada saat mereka tertidur, atau mengagetkan mereka dengan membawa berita-berita yang menyedihkan dan lain sebagainya.

14. Menjauhi percekcokan di depan orangtua. Hal ini dapat ditanggulangi dengan cara menyelesaikan persoalan dengan sesama saudara atau kerabat secara umum, di tempat yang jauh dari orangtua.

15. Bergegas memenuhi panggilan orangtua, baik ketika sibuk apalagi ketika luang. Acapkali ketika seseornag sedang sibuk dengan satu pekerjaan, lalu orangtua memanggilnya, ia berpura-pura tidak mendengar.

16. Mendidik anak agar berbakti pada orangtua, dengan cara memberi teladan yang baik, berusaha sedapat mungkin untuk mempererat hubungan anak dan orangtua. 

Syahida.com

Sumber: Kitab Keramat Hidup : Orang Tua, Musa bin Muhammad Hajjad az-Zahrani 

Share this post

PinIt
scroll to top