Pemuda Sholeh Ini Tidak Bisa Dibunuh, Kecuali dengan Disebut Nama Allah

Ilustrasi. (Foto: alfahmu.com)

Ilustrasi. (Foto: alfahmu.com)

Syahida.com – Rasulullah telah mengeluarkan beberapa penjelasan tentang kisah Ash-habul Ukhdud (para pembuat parit) yang memuat beberapa informasi tambahan yang bermanfaat dan benar terhadap apa yang ada dalam Al-Qur’an.

Selama hadits ini sahih dari Rasulullah maka kita wajib mengambilnya, mengatakannya, dan menggabungkannya pada apa yang ada dalam Al-Qur’an. Kita juga harus melihat dua sumber ini bersama-sama dan mengeluarkan beberapa petunjuk darinya.

Telah meriwayatkan Muslim dalam kitab shahih-nya dari Suhaib bin Sunan ar-Rumi r.a bahwa Rasulullah bersabda,

“Dulu sebelum kamu, ada seorang raja yang mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah tua, berkatalah ia kepada raja, ‘Aku sudah tua, utuslah kepadaku seorang anak muda yang akan aku ajarkan padanya ilmu sihirku.’ Maka raja itu mengutus seorang pemuda untuk diajarkan padanya sihir.

Di jalan yang sering dia lewati ada seorang rahib. Dia pun duduk dengannya, mendengarkan perkataannya dan mengaguminya. Setiap akan mendatangi tukang sihir, ia melewati rahib itu dan duduk dengannya. Dan jika tukang sihir itu mengetahui, dia dipukul oleh tukang sihir itu.

Kemudian dia mengadukan hal itu pada rahib. Berkata rahib, ‘Apabila engkau takut pada tukang sihir itu katakanlah, ‘Keluargaku menahanku,’ dan apabila kamu takut pada keluargamu maka katakanlah, ‘tukang sihir itu telah menahanku.”

Setelah keadaan seperti ini berlangsung beberapa lama suatu ketika ada binatang besar yang membuat takut manusia. Pemuda itu berkata, ‘Hari ini aku akan mengetahui manakah yang lebih utama, tukang sihir ataukah rahib.’ Kemudian dia mengambil batu dan berkata, ‘Ya Allah, seandainya rahib itu lebih Engkau cintai daripada tukang sihir maka bunuhlah binatang ini sehingga manusia bisa lewat dan selamat.’ Kemudian dia melempar binatang itu dan mati. Lewatlah manusia dan selamat dari tempat itu.

Ketika datang rahib, dia menceritakan peristiwa itu. Rahib berkata, ‘Hari ini engkau lebih utama daripadaku. Aku melihat engkau telah mencapai ilmu yang tinggi, dan engkau akan diuji maka jika engkau diuji jangan engkau tunjukkan padaku.’

Adalah pemuda itu dapat menyembuhkan yang buta (buta sejak lahir), penyakit kusta dan berbagai penyakit lainnya. Kabar keahliannya pun sampai pada menteri raja yang telah buta. Kemudian dia datang pada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak dan berkata, ‘Ini semua untukmu jika kamu dapat menyembuhkanku!’ Berkata pemuda itu, ‘Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jika kamu beriman pada Allah dan berdoa pada-Nya maka Dia akan menyembuhkanmu.’ Berimanlah menteri itu dan Allah menyembuhkannya,

Seperti biasa menteri itu datang pada raja dan duduk di sampingnya. Raja berkata, ‘Siapa yang telah mengembalikan penglihatanmu?’ Dia menjawab, ‘Tuhanku.’ Raja berkata lagi, ‘Kamu mempunyai Tuhan selain aku?’ Dia menjawab, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.’

Setelah itu raja menyiksanya hingga menteri itu menunjukkan si pemuda. Dipanggillah si pemuda dan raja berkata padanya, ‘Hai anakku, sungguh telah termahsyur sihirmu. Engkau dapat menyembuhkan yang buta, kusta dan sebagainya.’ Pemuda itu menjawab, ‘Aku tak bisa menyembuhkan siapapun, Allahlah yang menyembuhkan mereka.’

Kemudian dia disiksa hingga menunjukkan si rahib. Didatangkanlah rahib. Kemudian dikatakan padanya, ‘Kembalilah engkau dari agamamu.’ Tapi dia menolak. Raja menjadi marah. Kemudian dia meminta gergaji yang kemudian langsung dipakai untuk membelah kepalanya hingga mati.

Kemudian didatangkan menteri raja, dikatakan padanya, ‘Kembalilah dari agamamu.’ Tapi dia menolak dan nasibnya pun sama seperti rahib itu.

Pada akhirnya didatangkanlah si pemuda dan dikatakan padanya, ‘Kembalilah kamu dari agamamu.’ Tetapi dia menolak.

Lalu dia diserahkan teman-temannya dan raja berkata, ‘Pergilah kalian dengan pemuda ini ke gunung anu, dan naiklah dengannya. Apabila kalian telah sampai kepada puncaknya dan dia kembali dari agamanya kembalilah, apabila tidak lemparkanlah dia.’ Si pemuda berdoa, ‘Ya Allah, peliharalah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.’ Maka berguncanglah gunung itu hingga mereka semua jatuh kecuali pemuda itu.

Kemudian pemuda ini kembali pada raja. Berkata raja, ‘Apa yang terjadi pada teman-temanmu? Dia menjawab, ‘Allah telah memeliharaku dari mereka.’

Kemudian raja menyerahkannya kembali pada sekelompok yang lain dan berkata, ‘Pergilah kalian dengannya dan bawalah dia dalam perahu kecil kemudian pergilah kalian ke tengah laut. Apabila dia tidak mau kembali dari agamanya, lemparkanlah dia.’ Kemudian pergilah mereka dengannya. Pemuda itu berdoa, ‘Ya Allah, peliharalah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.’ Perahu itu lalu terbalik dan mereka tenggelam.

Setelah itu si pemuda kembali pada raja. Raja berkata, ‘Apa yang engkau lakukan pada teman-temanmu?’ Dia menjawab, ‘Allah telah memeliharaku dari mereka.’

Kemudian si pemuda berkata lagi, ‘Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika mengikuti perintahku!’ Berkata raja, ‘Perintah apakah itu?’ Pemuda itu berkata, ‘Kumpulkanlah seluruh manusia di satu lapangan yang besar kemudian saliblah aku di batang pohon, lalu ambillah panah dari tempatnya dan pasang busurnya serta katakanlah, ‘Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini!’ kemudian panahlah aku. Hanya dengan itu engkau dapat membunuhku!’

Maka dikumpulkanlah manusia di satu lapangan yang besar. Pemuda itu disalib di sebuah batang pohon, kemudian raja menyiapkan anak panah beserta busurnya lalu berkata, ‘Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini,’ kemudian mengarahkan panah pada pemuda itu. Anak panah itu mengenai pelipisnya, si pemuda memegang pelipisnya lalu ia pun mati.

Setelah itu, orang-orang berkata, ‘Kami beriman pada Tuhan pemuda ini, kami beriman pada Tuhan pemuda ini, kami beriman pada Tuhan pemuda ini!’

Datanglah seseorang pada raja dan berkata, ‘Tidakkah kau lihat apa yang engkau takutkan? Sungguh, apa yang engkau takutkan telah terjadi, manusia telah beriman.’

Lalu raja memerintahkan untuk menggali parit di tepi jalan dan dinyalakan di dalamnya api yang besar, kemudian ia berkata, ‘Siapa yang tidak kembali dari agamanya, akan dilemparkan pada lubang ini.’ Atau dikatakan, ‘Hinakanlah!’ Maka mereka mengerjakannya.

Hingga datang seorang perempuan membawa bayi. Dia berhenti ketika sampai di hadapan parit api maka bayi itu berkata, ‘Wahai ibu, bersabarlah. Sesungguhnya engkau ada dalam kebenaran.” (Shahih Muslim). [Syahida.com/ANW]

 

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,

dan hari yang dijanjikan,

dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit

yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,

ketika mereka duduk di sekitarnya,

sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,

(QS. Al Buruuj: 1-8)

====

Sumber: Buku Kisah-Kisah Al’Qur’an, Pelajaran dari Orang-Orang Terdahulu (Jilid-3), DR. Shalah Al-Khalidy, Penerbit: Gema Insani Press.

Advertisements
scroll to top