Jangan Hiraukan Omongan Orang

Syahida.com –  Saya kagum dengan ungkapan yang diulang-ulang oleh putraku, Abdurrahman, pada suatu hari. Saya yakin kalau dia tidak memahaminya dengan baik dalam usianya yang masih belia itu.

Ilustrasi. (Foto: lovethispic.com)

Ilustrasi. (Foto: lovethispic.com)

Dia mengatakan, “Bersikaplah masa bodoh, hidupmu pun akan tenang.”

Ungkapan ini saya renungkan sambil mengamati kritikan, pendapat, dan perbincangan orang lain. Saya pun mendapati omongan maupun celaan mereka bermacam-macam.

Di antara mereka ada yang jujur memberikan nasihat, akan tetapi tidak menguasai seni memberikan nasihat. Oleh karena itu, penuturannya justru akan membuat Anda bersedih ketimbang bahagia.

Di antara mereka ada juga yang pendengki yang hanya bermaksud membuat Anda bersedih dan sakit hati.

Ada juga yang kurang pengalaman. Dia akan berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahuinya secara pasti. Padahal, jika orang seperti ini memilih diam, niscaya akan lebih baik baginya.

Di antara mereka ada juga yang pada dasarnya memiliki sifat suka mengkritik. Dia selalu melihat kehidupan ini dengan pandangan yang jelek.

Ada pepatah mengatakan, “Kalau selera seluruh orang itu sama, niscaya barang dagangan tidak laku.”



Diceritakan bahwa Juha menunggangi seekor keledai. Anaknya berjalan kaki di sampingnya. Mereka berdua melintas di depan sekelompok orang. Orang-orang itu berkata, “Lihatlah ayah yang biadab ini. Dia menunggangi keledai dengan santai dan membiarkan putranya berjalan di bawah terik matahari.”

Omongan itu terdengar oleh Juha. Dia langsung menghentikan langkah keledainya dan turun lalu menaikkan putranya ke atas keledai.

Keduanya melanjutkan perjalanan lagi. Juha merasa bangga dengan keadaan ini. Mereka lalu lewat di depan kelompok lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Lihatlah anak durhaka itu. Dia enak-enakan menunggangi keledai, sementara ayahnya dibiarkan berjalan di bawah terik matahari.”

Omongan itu didengar Juha. Dia kembali menghentikan keledainya dan ikut naik bersama putranya agar terhindar dari omongan dan kritikan orang.

Setelah itu, keduanya melewati kelompok lain. Mereka berkata, “Lihatlah kedua orang yang tak punya belas kasihan itu. Mereka tidak mengasihani binatang sama sekali.”

Demi mendengar komentar mereka itu, Juha pun langsung turun dan berkata, “Turunlah, Nak !” Anak itu turun dan berjalan di samping ayahnya dan tidak ada yang menunggangi keledai itu.

Keduanya terus berjalan dan melintas di depan kelompok lain, mereka yang melihatnya berkomentar, “Lihatlah dua orang dungu ini. Keduanya berjalan kaki dan keledai mereka tidak ada yang menunggangi. Padahal, keledai itu diciptakan untuk ditunggangi.”

Juha pun memekik kesal sambil menarik anaknya. Keduanya lalu masuk ke bawah perut keledai itu dan mengangkatnya!

Andai saya bersama mereka saat itu, dan melihat langsung kejadian Juha ini, niscaya saya akan berkata kepadanya, “Sobat, bertindaklah sesuai kehendakmu. Jangan hiraukan omongan orang. Sebab, membuat semua orang senang adalah cita-cita yang tidak mungkin tercapai.”

Siapakah yang bisa menghindar dari orang lain,

Meski dia bersembunyi di ujung dunia.

Ada orang yang tidak memikirkan ucapannya terlebih dahulu.

Misalnya, dia mendatangi Anda setelah Anda menikah. Dia lalu berkata, “Kenapa engkau meminang Fulanah? Kenapa pula engkau menikahinya?”

Anda pasti ingin berteriak di depan wajahnya, “Aku sudah menikah, titik! Sudahlah. Semuanya sudah selesai. Lagi pula, tidak ada yang meminta pendapatmu.”

Atau ada yang mendatangi Anda setelah Anda menjual mobil Anda lalu berkata, “Coba engkau memberitahuku sebelumnya. Si Fulan akan membeli mobilmu dengan harga yang lebih tinggi.”

“Sobat, sudahlah. Aku sudah menjual mobilku. Urusanku sudah selesai. Jangan mengusikku.”

Umumnya, tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari penentang meskipun dia berusaha menyendiri di puncak gunung.

Oleh karena itu, Anda tidak perlu menyiksa diri Anda sendiri. [Syahida.com/ANW]

Pengalaman

Seorang ulama salaf mengatakan, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai bahan perdebatan maka dia akan sering berpindah tempat.”

Sumber: Kitab Enjoy Your Life! Seni Menikmati Hidup, Karya: Dr. Muhammad al-‘Areifi, Penerjemah: Zulfi Askar, Penerbit: Qisthi Press

Share this post

PinIt
scroll to top