Sungguh Allah Pasti Menolong Orang yang Menolong AgamaNya

Syahida.com

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” (QS. Al Hajj: 40)

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Ini adalah kaidah yang mulia di antara kaidah-kaidah Al Qur’an yang agung, kekuasaan ilahi memancarkan sinar darinya, untuk membantu tentara-tentara keimanan dalam setiap waktu dan tempat.

Kaidah ini datang untuk mengatakan kepada para pembaca Al Qur’an, bahwa hakikat kemenangan adalah dengan melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya, menolong para RasulNya dan para pengikutnya, menolong agamaNya dan berjihad melawan musuh-musuhNya, dan memaksa mereka sehingga kalimatNya menjadi yang paling tinggi dan kalimat musuh-musuhNya menjadi yang paling rendah.  1 Kaidah ini datang di dalam dua ayat yang mulia, yang menampakkan sebab-sebab kemenangan. Allah SWT berfirman,

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿٤٠ الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّـهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“……….Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 40-41)

Pertanyaannya adalah: Bagaimana caranya menolong Allah itu? Apakah Allah perlu ditolong, padahal Dia-lah Yang Mahakaya, Mahakuat, dan Mahaperkasa?

Jawabannya: (Cara) menolongNya adalah dengan menolong AgamaNya, menolong NabiNya SAW ketika beliau hidup, dan menolong sunnah-sunnahnya setelah wafatnya beliau. Lanjutan ayat sesudahnya menyingkap hakikat pertolongan yang dicintai dan diinginkan oleh Allah, bahkan ia merupakan pertolongan yang sudah dijamin dengan terus berkuasa di muka bumi. Allah berfirman,

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّـهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 41)

Oleh karena itu, tidaklah Agama Allah ini ditolong dengan sesuatu yang lebih besar daripada menampakkan syiar-syiar yang agung berikut ini:

  • Shalat: yang merupakan hubungan antara hamba dengan Rabb mereka, dan dengan (melakukan)nya, mereka memperoleh kekuatan lahir dan batin serta ketenangan jiwa.
  • Menunaikan zakat: yang berarti mereka menunaikan hak-hak, memenangkan diri atas kekikiran jiwa, membersihkan diri dari ketamakan, mengalahkan bisikan setan, menutupi celah dalam jamaah, memperhatikan orang-orang yang lemah dan memiliki kebutuhan, serta membuat ia menjadi bagaikan tubuh yang hidup.
  • Menyuruh berbuat kebaikan dan melarang kemungkaran: karena ini mengandung perbaikan bagi orang lain, karena manusia itu bisa jadi tidak tahu atau lalai, maka mereka ini harus disuruh dan diingatkan agar berbuat baik, dan bisa jadi mereka adalah pelaku maksiat atau pembangkang, maka mereka ini harus dilarang berbuat kemungkaran.

Maka kapan pun Allah mengetahui dari salah satu umat atau negara bahwa mereka akan menegakkan keempat pokok ini, yang termasuk di antara pokok-pokok peneguhan kedudukan, niscaya Allah akan memberi taufik dan pertolonganNya kepada mereka, walaupun umat-umat saling bermusuhan demi mendapatkannya. Dan dalam sirah Nabi SAW, Khulafa’ Rasyidin, dan orang-orang yang mengikuti sirah mereka terdapat syahid yang paling jujur dan jelas.

Adapun apabila Allah mengetahui dari keadaan mereka bahwa apabila mereka kembali ke muka bumi dan diteguhkan kedudukan mereka di sana, mereka tidak menegakkan shalat, tidak menunaikan zakat, tidak membela yang ma’ruf, dan tidak memburukkan yang mungkar, maka Allah SWT akan menyerahkan (urusan) mereka kepada diri mereka sendiri, membuat musuh mereka menguasai mereka, atau menjadikan mereka terpecah-pecah dan sebagian mereka merasakan siksa (keburukan) sebagian yang lain; dan dalam sejarah terdapat pelajaran yang jelas mengenai ini!

Para sahabat Nabi SAW bertanya-tanya usai Perang Uhud tentang sebab kekalahan (mereka), maka datanglah jawaban dari langit,

قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ

Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’.” (Ali Imran: 165)

Dalam Perang Hunain, sebagian dari orang-orang yang masuk Islam ketika Fathu (Makkah) merasa bangga dikarenakan jumlah mereka yang banyak, maka tentara (kaum Muslimin) hampir saja kalah. Teguran yang datang mengandung peringatan akan anugerah Allah terhadap mereka dalam banyak tempat.

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At Taubah: 25)

Ketika Al Qur’an membicarakan tentang perang Badar dalam Surat Al Anfal, terdapat penegasan tentang sebab kemenangan yang terpenting dan sebab kekalahan yang paling berbahaya,

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Anfal: 46-47).

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Dan kita juga menemukan penegasan tentang sebab kemenangan yang lain, yang tak lain adalah iman, ketika Allah berfirman,

Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)

Pertanyaannya adalah: Manakah kemenangan bagi kaum Muslimin saat ini? Di banyak negara, kaum Muslimin tertindas dan kalah, mereka hidup dalam keadaan lemah dan tak berdaya!

Manakah kejadian yang selalu berulang (baca: kemenangan) seperti ketika hari Al-Furqan pada saat Perang Badar al Kubra, Perang Ahzab, Perang Yarmuk, Nahawand, atau pada saat kalahnya Tartar ketika mereka menyerang negeri-negeri Islam pada awal abad ke-8?!

Empat Jawaban dari Ulama-Ulama Islam untuk Penyakit Ini dan Obatnya 

  1. Al Qurthubi (wafat 671 H)

Beliau berkata, bahwa untuk menjawab pertanyaan klasik ini dalam bingkai kaidah { وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ } “Sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya”,

“Seperti inilah yang harus kita lakukan (yakni, menolong Agama Allah)!. Akan tetapi amal-amal yang buruk dan niat yang rusak menghalangi hal itu, sehingga jumlah kita yang banyak tidak ada gunanya di hadapan musuh yang sedikit sekalipun, sebagaimana kita saksikan bukan hanya sekali! Dan hal itu disebabkan apa yang dilakukan oleh tangan-tangan kita sendiri. Dalam Shahih al-Bukhari: Abu ad-Darda’ berkata,

“Sesungguhnya kalian memerangi (musuh kalian) dengan amal shalih kalian.”

Maka (sekarang) amal-amal telah rusak, orang-orang lemah diabaikan, kesabaran sedikit, sikap bertumpu (kepada Allah) lemah, dan takwa sudah tidak ada lagi.

Inilah sebab-sebab dan syarat-syarat kemenangan, tapi kita tidak memilikinya dan semua itu tidak ada pada diri kita! Bahkan tidak ada yang tersisa dari Islam selain sebutannya saja, dan tidak (ada yang tersisa) dari agama ini selain tulisannya saja! (Semua ini) disebabkan mendominasinya kerusakan, banyaknya kemaksiatan, dan sedikitnya petunjuk.

  1. Imam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H)

Beliau berkata, menggambarkan penyakit tersebut dan menjelaskan penawarnya,

“Apabila terdapat kelemahan dalam diri kaum Muslimin, dan musuh telah unggul atas mereka, maka hal itu disebabkan dosa dan kesalahan-kesalahan kaum Muslimin sendiri, bisa jadi karena kelalaian mereka dalam menunaikan kewajiban lahir maupun batin, dan bisa juga karena perbuatan melampaui batas mereka dengan melanggar hukum-hukum had yang lahir maupun yang batin.”

  1. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (wafat 1354 H)

Beliau adalah seorang ulama yang hidup di masa kelemahan dan kehinaan yang sangat parah yang pernah dialami oleh umat Islam. Beliau berkata,

“Akan tetapi, di beberapa abad terakhir ini kita melihat orang-orang yang mengklaim bahwa mereka beriman (ternyata) tidak mendapat kemenangan, maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak jujur dalam klaim keimanan mereka itu, atau mereka itu adalah orang-orang zhalim dan bukan yang terzhalimi, mereka membela karena hawa nafsu mereka bukan karena Allah, dan mereka tidak mengikuti sunnah-sunnahNya, dan Allah hanya akan menolong orang Mukmin yang jujur, yaitu orang yang berniat menolong (agama) Allah dan meninggikan kalimatNya, dan senantiasa berbuat yang haq dan adil ketika berperang, bukan orang yang zhalim dan melampaui batas terhadap orang yang haq dan adil dari makhlukNya.

Adapun para rasul dan orang-orang yang bersama mereka yang diberi kemenangan oleh Allah, maka mereka semua adalah orang-orang yang dizhalimi, mereka senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran dan keadilan, menolong (agama) Alah. Dan Allah telah mensyaratkan hal itu dalam pertolonganNya terhadap semua orang-orang Mukmin. Allah SWT berfirman dalam Surat Qital,

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Iman adalah salah satu sebab hakiki di antara sebab-sebab kemenangan maknawi. Ia akan menjadi keunggulan di antara pihak-pihak yang memiliki sebab-sebab yang lain yang sama, maka kemenangan dengannya bukanlah sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan.” 2

  1. Al-Allmah Abdurrahman as-Sa’di (wafat 1376 H)

Beliau mengatakan, “Iman yang lemah, hati-hati yang tercerai-berai, pemerintahan yang amburadul, permusuhan dan kebencian yang menjauhkan hubungan kaum Muslimin, musuh-musuh yang nampak maupun yang tersembunyi yang senantiasa berusaha menghabisi agama ini, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, ilhad dan materialisme, telah menyapu bersih orang-orang tua dan para pemuda dengan pengaruh buruknya dan gelombangnya yang menghantam bertubi-tubi, ajakan-ajakan kepada akhlak yang rusak dan menghabisi sisa nafas terakhirnya!

Kemudian perhatian manusia terhadap perhiasan-perhiasan dunia, di mana ia (dunia) merupakan ujung ilmu mereka dan keinginan terbesar mereka, karenanyalah mereka ridha dan marah, propaganda kotor agar tidak mementingkan akhirat, perhatian penuh untuk memakmurkan dunia dan menghancurkan agama, menghina dan mengolok-olok agama dan sesuatu yang terkait dengannya, membanggakan diri dan congkak, sombong dengan hal-hal modern, yang berdiri di atas sikap pengingkaran, yang mana efek, keburukan dan kejelekan-kejelekannya telah disaksikan oleh para hamba.. Akan tetapi walaupun demikian, orang Mukmin itu tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, tidak putus harapan dari kebaikan Allah.” 3

Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia memuliakan AgamaNya dan menjadikan kita termasuk di antara penolongnya, serta agar Dia memberikan kemenangan kepada wali-waliNya dan menghinakan musuh-musuhNya. [Syahida.com/ANW]

1 Adhwa ‘al-Bayan, 5/265

2 Tafsir al-Manar, 7/317

3 Bahjah Qulub al-Abrar, hal, 230

===

Sumber: Kitab 50 Prinsip Pokok Ajaran Al Qur’an Bekal Membangun Jiwa yang Kuat dan Pribadi yang Luhur, Karya: Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Penerjemah: Abdurrahman, Lc. , penerbit: Darul Haq

Share this post

PinIt
scroll to top