Advertisement

Ilustrasi. (Foto: pixabay.com)

Syahida.com“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Maidah: 101).

Ayat tersebut merupakan aturan yang telah dibuat Allah SWT dalam masalah halal dan haram. Banyak orang keliru memahaminya dengan melontarkan banyak pertanyaan dalam urusan yang mubah. Ini mempersulit diri sendiri dan orang lain untuk bertanya sehingga berakibat urusan tersebut ditinggalkan karena banyaknya pertanyaan. Yang demikian itu termasuk ke dalam kategori yang diharamkan. 


Ayat ini menyerukan kepada kita untuk bersikap seimbang (tawazun). Meskipun Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk memenuhi akad (janji), tetapi hal itu tidak lantas mempersulit diri kita sendiri. Dalam ayat tersebut terdapat hubungan yang menakjubkan dengan surat Al- Baqarah tentang kisah penyembelihan sapi oleh Bani Israil.


Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.” (Al-Maidah: 102). 
Ayat ini mengisyaratkan bahwa banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh umat terdahulu justru mempersulit diri mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka tidak mau mentaati hukum yang telah ditetapkan.
Terkait dengan mereka yang disebutkan dalam kisah penyembelihan sapi, Allah SWT berfirman,
“…Dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (Al-Baqarah: 71).


Keadaan seperti itu disebabkan mereka banyak bertanya tentang hakikat sapi itu, termasuk warnanya. Padahal hal semacam itu tidak semestinya mereka pertanyakan, sehingga akhirnya hukum yang luas berubah menjadi sempit. Sehubungan dengan makna di atas, Rasulullah SAW dan para sahabatnya memberikan contoh teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi kita semua.


Suatu ketika, Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian untuk melaksanakan haji.” Apakah ia dilaksanakan setiap tahun wahai Rasulullah?” Tanya para sahabat. Rasulullah SAW diam sejenak, kemudian beliau bersabda, “Kalau aku katakan ya, tentu ia menjadi wajib.”


Dengan demikian, dalam surat Al-Maidah terdapat arahan supaya berlaku tawazun (seimbang). Komitmen dalam menjalankan semua perintah, larangan, dan menepati akad (janji), dengan tidak mempersulit diri dalam hal-hal yang tidak diperintahkan Allah Ta’ala. [Syahida.com/ ANW].

=====
Sumber: Kitab Khowathir Qur’aniyah, Kunci Memahami Tujuan Surat-Surat Al Qur’an, Oleh: Amru Khalid, Penerjemah: Khozin Abu Faqih, Lc. Penerbit: Al I’tishom.



Advertisement
admin

Disqus Comments Loading...
Share
Kontributor:
admin
Keyword: al quran

Recent Posts

Perhatian Rasulullah SAW Terhadap Tanda-Tanda Hari Kiamat (Bagian ke-1)

Tanda-tanda hari Kiamat termasuk salah satu topik yang mendapat perhatian besar dari Rasulullah SAW dalam…

2 tahun yang lalu

Perhatian Al-Quran Terhadap Tanda-Tanda Hari Kiamat

Adapun tanda-tanda peristiwa yang membicarakan dekatnya hari Kiamat, maka ayat-ayat tersebut terkesan membicarakan secara sekilas.…

2 tahun yang lalu

Sikap yang Baik dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

“Ilusi adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah pertama untuk penyembuhan”.…

3 tahun yang lalu

Pandemik, COVID-19, Babi, dan Akhir Zaman

Mengapa Nabi Isa - sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad - malah justru membunuh babi…

3 tahun yang lalu

Antara Samiri dan COVID-19

Sejak mewabahnya COVID-19, kini hampir sebagian besar penduduk bumi dilarang untuk saling bersentuhan, harus menjaga…

3 tahun yang lalu

Antara Doa Nabi Ibrahim AS, Doa Nabi Muhammad SAW, Wabah COVID-19, dan Dajjal

Sejak awal tahun 2020 ini, seluruh dunia dilanda wabah penyakit COVID-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2…

3 tahun yang lalu
Advertisement

This website uses cookies.