Menuju Surga-Mu

Ilustrasi. (pulautidungnevi.com)

Ilustrasi. (pulautidungnevi.com)

Syahida.com – “Aku naik sebuah kapal. Angin topan menghempas kami ke sebuah pulau. Ternyata di sana ada seorang pria yang menyembah berhala,” kisah ‘Abdul Wahid bin Yazid.

“Kisanak, siapa yang kamu sembah?” tanya ‘Abdul Wahid kepadanya. Ia memberi isyarat ke berhalanya.

“Di kapal kami ada orang yang mahir membuat benda seperti ini, namun ini bukanlah Tuhan yang disembah?” tambah ‘Abdul Wahid.

“Lalu apa yang kalian sembah?” tanya pria itu.

“Allah.”

“Siapa Allah?” tanyanya.

“Dzat yang dilangit ‘Arsy-Nya dan di bumi kekuasaan-Nya, dan di makhluk hidup dan benda mati takdir-Nya!”

“Bagaimana kalian mengetahui-Nya?”



“Tuhan ini mengutus untuk kami seorang rasul mulia yang memberitahukan hal itu.”

“Apa yang dilakukan Rasul itu?

“Menyampaikan tugas kerasulan lalu Allah mewafatkannya.”

Apa tanda yang ditinggalkannya di tengah-tengah kalian?”

“Ia meninggalkan di tengah-tengah kami Kitab Tuhan.”

“Perlihatkan kepadaku! Sudah sepantasnya Kitab Tuhan itu baik..”

‘Abdul Wahid memperlihatkan mushaf kepadanya.

“Aku tidak paham ini!” seru pria itu.

‘Abdul Wahid pun membacakan untuknya satu surah al-Qur’an. Ia terus membacanya sementara pria itu menangis, hingga ‘Abdul Wahid menyelesaikan bacaannya.

“Pemilik firman ini sudah sepatutnya tidak di durhakai!” jawab pria itu. Ia lalu masuk Islam. ‘Abdul Wahid membawanya dan mengajarinya hukum-hukum Islam serta beberapa surah al-Qur’an.

Ketika malam tiba dan sudah bersiap-siap tidur, tiba-tiba pria itu bertanya, “Tuan-tuan, jika malam tiba apakah Tuhan yang kalian tunjukan kepadaku ini tidur?”

Tidak, wahai hamba Allah! Dia Maha Mulia dan Berdiri sendiri serta tidak tidur!” serunya.

“Seburuk-buruknya hamba adalah kalian; kalian tidur dan tuhan kalian tidak tidur.”

‘Abdul Wahid bersama rombongannya sangat kagum pada perkataannya. Sesampainya mereka di Ubbadan, ‘Abdul wahil berkata kepada rekan-rekannya, “Orang ini baru saja masuk Islam…” Lalu mereka mengumpulkan uang dan memberikannya kepada pria itu.

“Apa ini?” tanyanya ketika di sodorkan uang.

“Pakailah untuk belanja..!”

La ilaha illallah, kalian telah menunjukan jalan yang kalian sendiri tidak menempuhnya! Sebelum ini aku di sebuah pulau di laut menyembah berhala selain Allah dan Dia tidak menyia-nyiakanku, lalu apakah Dia akan menyia-nyiakanku sedang aku telah mengetahui-Nya?!”

“Beberapa hari kemudian pria itu tengah sekarat. ‘Abdul Wahid datang ke tempatnya. “Apa yang diperlukan?”

“Keperlukanku telah di pernuhi oleh Dzat yang telah membawa kalian ke pulauku.”

‘Abdul Wahid tak kuasa menahan kantuk, sehingga ia pun tertidur di dekat pria itu. Dalam tidurku ia bermimpi melihat kuburan Ubaddan berubah menjadi taman yang berisi bangunan kubah. Dalam kubah itu ada sebuah ranjang yang menjadi tempat duduk seorang gadis yang sangat cantik dan belum pernah terlihat tandingannya.

Gadis itu berkata, “Aku berdoa kepada Allah agar menyegerakanmu ke sini, sebab kerinduanku kepadanya telah memuncak.”

‘Abdul Wahid terbangun. Ternyata pria di dekatnya telah meninggal dunia! Ia pun memandidikan, mengafani, dan menguburnya.

Kala malam tiba ‘Abdul Wahid kembali bermimpi. Ia melihat pria itu dalam bangunan kubah bersama si gadis sambil membaca, “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang  yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab  yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya., mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya dengan orang-oang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tampat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan: ) ‘Salamun’alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu!” [syahida.com]

Sumber : Kitab At-Tawwabin, Menuju Surga-Mu

Share this post

PinIt
scroll to top