Ayah dan Ibu, Dua Pintu Surgaku (Bagian ke-2)

Ilustrasi. (Foto : bbc.co.uk)

Ilustrasi. (Foto : bbc.co.uk)

Syahida.com – Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak. (QS. An-Nisa [4]: 36)

Jika engkau memiliki pandangan dalam persoalan cinta dan benci dan sedang dalam kebimbangan, maka selama engkau menimbang kerelaan orang dengan neraca pribadimu, dan engkau mengukur ridha orangtua hanya berdasarkan praduga, maka engkau akan celaka, hai As’ad! Tidakkah engkau mengamati bagaimana seekor burung merapatkan sayap ketika ia hendak turun? Seperti itulah mestinya engkau merendahkan dirimu di hadapan orangtua dengan penuh kasih sayang! Pengertian itulah yang difahami oleh para ulama salaf yang shaleh. Bukankah engkau pernah mendengar kisah seorang laki-laki yang menggendong ibunya untuk melaksanakan ibadah haji. Di saat tawaf ia berkata, Aku adalah kendaraan yang tunduk padanya. Kendaraan mereka kelelahan, tapi aku tidak pernah lelah.

Kemudian laki-laki itu berpaling pada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhu dan berkata, “Wahai ‘Abdullah bin ‘Umar, tidakkah engkau melihatku telah membalas budi baiknya?’ ‘Abdullah bin ‘Umar menjawab, ‘Tidak, tetapi engkau telah berbuat baik, dan Allah akan memberi pahala yang banyak atas amal baik yang sedikit.’

Sang ibu melanjutkan kata-katanya, ‘Anakku! Betapa aku amat berharap dapat melihatmu berterimakasih dengan hati dan perbuatan nyata. Aku merasa seringkali kehilangan dirimu, tidak melihatmu, kecuali satu atau dua hari, karena engkau sibuk mengurus istri dan anak-anakmu. Aku amat merindukan sosok seorang anak yang taat dalam pengertian yang sesungguhnya, seperti yang dicontohkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ketika ia tinggal tidak dalam satu rumah dengan ibunya.

Setiap kali hendak pergi, ia tidak pernah lupa untuk lewat di depan rumah sang ibu, lalu berdiri di depan pintu rumahnya dan mengucapkan salam, “Salam sejahtera dan rahmat Allah atas dirimu, wahai ibuku!” “Salam sejahtera dan rahmat Allah atas dirimu, wahai anakku”, jawab sang ibu. Abu Hurairah membalas, ‘Semoga Allah menyayangi dirimu seperti engkau menyayangi aku di waktu kecil!’ Sang ibu berkata, ‘Wahai anakku, semoga Allah menyayangimu pula dan semoga Allah memberikan balasan baik untukmu dan ridha kepadamu, seperti engkau berbakti kepadaku di masa tua.’ Demikian pula halnya yang ia lakukan saat pulang.

Demi Tuhan, dapatkah engkau meninggalkan istri dan anak-anakmu barang sehari atau dua hari? Sama sekali tidak!’

Pemuda itu berkata, ‘Memang, aku banyak bicara wahai ibu, tetapi engkau adalah ibu yang baik hati!”

Ibunya menjawab, ‘Tetapi aku tidak tahu apa ketentuan Tuhan esok, sehingga aku bisa memaafkanmu terlebih dahulu. Sebab, hari di mana kita akan bertemu nanti adalah hari yang amat dahsyat; seorang pergi meninggalkan saudaranya, dari ibu dan ayahnya, dari istri dan anak-anaknya. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Hari ketika aku tidak mengenal selain diriku sendiri!

Sang anak yang tidak lain adalah pemuda dari Syam itu berkata, “Aku berfikir sejenak tentang apa yang hendak kukatakan dan aku menangis seraya berucap,

Aku telah berbuat sia-sia karena kebodohanku dan kini aku menyadari, masa yang singkat terasa sangat panjang. Celaka bagi orang berakal, namun ia tunduk pada hawa nafsu dan celaka bagi yang buta hati, meski ia melihat namun semuanya tiada guna.”    

Aku sungguh tidak tahu apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan aku beramal shaleh, yang dapat memudahkan aku meraih taufik dalam hidup dan memohon ampunan dosa, ataukah aku akan tertimpa musibah lantaran kelalaianku dalam memenuhi hak kedua orangtuaku saat mereka masih hidup. Seringkali aku menyaksikan beragam pelajaran hidup dan kekuasaan waktu atas diri manusia. Allah Maha Memberi balasan dan Allah Maha Mengawasi!
Wahai orang yang lalai, bapakmu masih ada, ibumu masih hidup, tidakkah engkau mengambil pelajaran dari kisah hidupku?

Simaklah wahai saudaraku sesama muslim, demi Allah, aku khawatir atas dirimu, keluarga dan anak-anakmu dari kehancuran. Waspadalah dan sadari sedalam-dalamnya makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,  “…maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’…(QS. Al-Isra’ [17]: 23). Cukuplah ayat tersebut menjadi pelajaran bagiku. Pandangan sang ibu tertuju ke langit seraya berkata,

Apakah kedua mata memandang ke langit

Maka waspadalah agar jantungmu tidak terhembus panah

Pada ayat larangan itu ada bukti yang cukup

Namun tidak semua orang tahu

Takutlah akan doa ibumu

Karena engkau amat membutuhkan doanya

Taat dan berbakti kepada orangtua melalui perkataan dan perbuatan nyata, bukanlah sekedar bermuka manis atau perbuatan yang tidak berguna. Kata-kata tidak akan cukup dan tidak membuat perut kenyang! Tidak tahukah engkau siapa sesungguhnya ashhabul a’raf (orang-orang yang berada di tempat yang tinggi)?’ Beberapa kitab Tafsir menjelaskan bahwa mereka adalah kaum yang gugur di medan perang demi membela agama Allah, tetapi mereka pergi berperang tanpa seizin orangtua mereka, sehingga mereka termasuk dalam golongan ashhabul a’raf.

Lantas siapa yang mengatakan kepadamu bahwa engkau akan mati sebagai seorang syahid, sementara engkau berjuang mengharap pamrih dan demi mendapat kesenangan dunia?

Orang yang berbahagia adalah mereka yang tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk berbakti kepada orangtua, sebelum kelak menemui penyesalan ketika keduanya telah tiada.

Saudaraku sesama muslim, jangan pernah mengira bahwa taat pada ibu dan bapak dapat terwujud dengan menuruti keinginan pribadimu, melainkan berdasarkan keinginan kedua orangtua. Sebab jika tidak, tentu persoalannya amat mudah!

Aku mengira ayahku berperangai buruk, sedang ibuku sebagai wanita yang rakus dan pengadu domba. Sekarang, setelah lama merenung, aku bisa berkata bahwa laki-laki (bapak) yang dihadirkan Allah dalam kehidupan dunia ini, dan akhirnya tersisih dari kehidupan, yang menderita dan terhina sepanjang hidupnya, adalah orang yang mendapat jaminan dari Tuhan. Ia tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang. Allah berjanji akan memberikan mahkota yang menjadi hak baginya, untuk ditaati dan dihormati oleh anak-anaknya saat ia telah lanjut usia!”

Si pemuda dari Syam itu berkata pada dirinya, “Dengan alasan apa engkau merebut hak itu dari tangan ayahmu?  Tidak lain karena engkau menuruti hawa nafsu dan keinginan pribadi! Celaka engkau pemuda Syam saat engkau menghadapi timbangan amal perbuatan yang adil!

Saudara muslimku, yang mencintai istri dan bersukacita karenanya dengan bersikap masa bodoh pada ibumu! Yang menyayangi harta benda, anak-anak, dan sahabat dengan mengesampingkan ayahmu! Merenunglah bersamaku bagaimana seharusnya seseorang taat pada orangtua! Tidakkah engkau teringat akan kisah tiga orang laki-laki yang terperangkap dalam gua?

Laki-laki pertama berkata, ‘Ibu bapakku telah lanjut usia. Setiap hari aku selalu mendahulukan diri untuk mengantarkan susu sebagai makanan mereka, sebelum aku berurusan dengan keluarga atau mencari nafkah. Suatu hari, aku berada di tempat yang jauh untuk mencari kayu bakar, sehingga aku tidak sempat datang hingga sore hari, sampai kedua orangtuaku tertidur. Aku perahkan air susu dan kubawakan untuk ibu dan ayahku, tetapi keduanya masih tidur dan aku enggan membangunkan mereka. Aku menanti mereka bangun, sedang susu dalam cawan masih aku pegangi. Hingga fajar menyingsing mereka terbangun dan meminum susu yang kubawa untuk mereka. Ya Allah, seandainya aku melakukan hal itu semata-mata demi mengharap ridha-Mu, maka selamatkan kami dan singkirkanlah batu yang menutup pintu gua ini!”

Perhatikan dengan seksama wahai saudaraku, apa yang dijadikan laki-laki pertama sebagai perantara untuk memohon dikabulkannya doa oleh Allah? Dengan ketaatannya yang sungguh-sungguh pada orangtua! Adakah di antara kita yang meneladani perbuatan mereka? Betapa banyak suami-istri yang bergaya hidup mewah dan glamour! Namun, apakah mereka pernah mendahulukan ibu atau ayah mereka agar makan terlebih dahulu?!

Saudaraku sesama Muslim, jangan mengira bahwa saya ingin mengajak Anda melalaikan kewajiban pada istri dan anak, tetapi berikanlah setiap orang hak masing-masing! Jangan sekali-kali Anda meniru perbuatanku, manfaatkanlah kesempatan hidup kedua orangtuamu. Sungguh celaka orang yang mendapati ayah dan/atau ibunya masih hidup, tetapi ia tidak dapat menjadikan mereka sebagai perantara masuk surga! Itulah kepahitan dan penderitaan yang tidak akan mungkin terlupakan dan tak akan terhapus dari catatan amal perbuatan di lauhul mahfizh, yang akan diperlihatkan kepada setiap orang di hari ketika masing-masing dihadapkan pada kebajikan dan kejahatan yang dilakukan di dunia. Masing-masing menginginkan andaikan  antara dirinya dengan hari itu terbentang, masa yang amat jauh dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-nya!

Kemudian engkau akan berkata kepadaku, ‘Akan, tetapi aku tidak pernah melakukan perbuatan seperti yang kau lakukan! Aku tidak pernah mengutamakan istri daripada ayahku dan tidak pernah pula aku berkata besar pada ibuku.’ Aku katakan padamu, ‘Perkataanmu benar, tetapi jika engkau benar-benar lurus, maka bersiap-siaplah dan jangan hanya sekedar bicara. Itulah ikatan di mana dan memeliharanya. Berjuang keraslah untuk memenuhi janji itu agar engkau bahagia.”[1] [Syahida.com]

  1. Ustadz ‘Adnan bin Salim al-Fahd, Majalah al-Bayn, edisi 11 tahun 1408 H.

Sumber: Kitab Keramat Hidup : Orang Tua, Musa bin Muhammad Hajjad az-Zahrani  

 

Share this post

PinIt
scroll to top