Apa Hikmahnya Tidak Memikirkan Hakikat Allah?

Ilustrasi. (appshopper.com)

Ilustrasi. (appshopper.com)

Syahida.com – Banyak orang, termasuk sebagian ulama, tak pernah mau berhenti menyelidiki hakikat hal-hal yang sebenarnya tak boleh mereka bahas; ruh umpamanya. Allah Ta’ala telah menutupinya dengan firman-Nya, Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhanku” (Q.S.  Al-Isra [17]: 85). Walaupun begitu, orang-orang tersebut tak pernah mau merasa puas dan selalu berusaha mencari tahu hakikatnya, hingga akhirnya mereka tak memperoleh apa-apa dan tak memiliki satu pun dalil yang kuat untuk klaim-klaim mereka.

Demikian juga akal, ia ada, tanpa sedikit pun keraguan, dan seperti halnya ruh, kedua-duanya diketahui lewat bekas-bekasnya, bukan melalui hakikat dzatnya.

Anda mungkin bertanya-tanya apa hikmah dibalik usaha merahasiakan hal-hal seperti tu? Maka jawaban kami adalah jiwa selalu naik dari satu tingkat ke tingkat lainnya. Jika hal-hal seperti itu dibiarkan diketahui hanya secara garis besarnya, tentu jiwa akan bisa segera naik ke Penciptanya. Ini berarti pula bahwa merahasiakan sesuatau yang ada di bawah-Nya secara otomatis sama dengan menambah keagungan-Nya. Sebab, jika sebagian makhluk-Nya hanya diketahui secara garis besarnya pasti dia lebih agung dan lebih tinggi darinya.

Apabila seseorang bertanya: apakah petir? Apakah kilat? Apakah gempa bumi? Maka jawaban kami adalah ia merupakan sesuatu yang mengagetkan. Jawaban kami hanya sampai disitu. Alasan kami tidak menjelaskan secara panjang lebar adalah bila karena bila hakikatnya dijelaskan secara rinci tentu kadar kedasyatannya akan berkurang.

Jika hal seperti di atas berlaku pada makhluk, tentu Khalik lebih utama dan lebih luhur. Oleh sebab itu, kita wajib mencukupkan diri pada dalil wujud-Nya saja, lalu dalil pengutus rasul-rasul-Nya, serta dalil sifat-sifat-Nya dari Kitab rasu-rasul-Nya tanpa menambahinya dengan apa pun.

Banyak orang telah membicarakan sifat-sifat Allah berdasarkan pemikirannya, lalu mereka pun mesti menanggung akibat buruknya.

Jika kita telah mengatakan bahwa Allah ada dan sudah mengetahui lewat firman-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Hidup, Maha Kuasa, maka perkataan dan pengetahuan kita itu telah mencukupi dan tak usah masuk wilayah lain.

Kita juga meyakini bahwa Dia Berbicara dan Al-Qur’an adalah firman-Nya, maka kita tak perlu memaksakan diri untuk melakukan hal lainnya.

Ulama salaf tak pernah mengatakan ‘bacaan dan sesuatu yang dibaca’, ‘Dia bersemayam di atas’ Arsy dengan Dzat-Nya’, dan ‘Dia Turun dengan Dzat-Nya’, mereka cuma mengatakan apa-apa yang diriwayatkan, tanpa menambah-nambahinya.

Kita juga menafikan apa-apa yang layak untuk Allah berdasarkan dalil-dalil yang sahih.

Uraian-uraian di atas sekedar contoh, kiaskanlah dengannya seluruh sifat Allah, anda pasti akan beruntung dan selamat dari Ta’thil (penafian sifat-sifat yang sebenarnya dimiliki Allah) dan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya). [ ]

Sumber : Kitab Shaid Al-Khatir Nasihat Bijak Penyegar Iman, Ibnu Al Jauzi  

Share this post

PinIt
scroll to top