Ketika Wanita Kecanduan Menonton Televisi

Ilustrasi. (wisegeek.org)

Ilustrasi. (wisegeek.org)

Syahida.com – Perilaku yang salah : Menjadikan televisi sebagai sarana yang sifatnya hanya sebatas hiburan bukannya sarana yang berhubungan keilmuan. Perilaku demikian lebih banyak dilakukan oleh orang dewasa dibandingkan anak kecil. Juga lebih banyak dilakukan kaum wanita dibandingkan kaum pria. Mereka betah duduk di depan pesawat televisi berjam-jam lamanya, hanya untuk mengikuti aneka ragam acara, tarian musik nan merangsang, mengamati perkembangan peristiwa yang tak berguna dan kurang berarti, terkagum-kagum dengan aksi-aksi rendahan, meniru jejak langkah aktor dan aktis film, terkagum-kagum dengan pemain-pemain sinetron dan  terpaku dengan semua pertunjukan dan cerita yang ditayangkan.

Sampai-sampai, mereka rela bergadang di depan televisi, duduk bersimpuh, diam tak bersuara, khusyu’ memperhatikan, menonton penari-penari pria dan wanita dan mengikuti dengan seksama sandiwara atau kuis-kuis siang dan malam. Setiap stasiun televisi menyajikan acaranya, baik mulai maupun akhir tayangan pada jam-jam yang sepatutnya diisi untuk ibadah. Mereka sama sekali tidak mempedulikan panggilan Tuhan semesta alam, “Hayya’Alash Shalah” (mari kita sholat) Hayya ‘Alal falah (mari kita menuju kemenangan).”

Pun, tidak menggubris sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam  penghulu para rasul, “Tidak ada samra dan sahra (mengobrol dan tidak tidur setelah shalat Isya’).”

Mereka meyakini benar semua yang mereka lihat di dalam tayangan televisi, baik berupa cinta kasih, gejolak rindu, kekejaman, pemaksaan, pemerkosaan, kebohongan, tipu daya, siksaan, dendam, pencurian, perampasan, pembunuhan, penyerupaan yang dilakukan wanita, pembangkangan anak terhadap orang tua, pemutusan hubungan persaudaraan (silaturrahmi), ketidakacuhan terhadap tamu, penyiaran penyakit malas, kelemahan, percekcokan yang terjadi antara suami-istri, kebencian satu sama lainnya, melahirkan semangat yang tercela, menghilangkan semangat  yang terpuji, mempengaruhi syahwat, mengajak untuk memperlihatkan aurat serta berhubungan antara lawan jenis, mengajak agar terjatuh ke dalam lubang zina dan perbuatan keji dan lain sebagainya seolah-olah hidup hanya diisi dengan ini dan itu dan seolah-olah kita diciptakan hanya untuk bermain-main dan bersenang. Seolah-olah kita tidak mempunyai panutan selain penyanyi si A dan bintang film si B. Kita mengikuti secara membabi buta dalam setiap sesuatunya, dalam cara berjalan, cara duduk, sampai pada gaya rambut mereka, jenis rokok yang mereka hisap dan tentang hal ihwal seni ditanyakan tentang urusan-urusan perasaan mereka ditanyakan, tentang urusan-urusan perasaan mereka dibahas sehingga mempunyai hari raya waktu dan tempat kita menghormati dan memperhatikan mereka. Kita memegang perkataan-perkataan mereka sekalipun perkataan-perkataan mereka itu tak berarti apa-apa. Hanya karena mereka terkenal, isyarat mereka dengan menunjukan jari-jari mereka dan kantong-kantong mereka yang berisi penuh dengan uang, banyak orang yang mengerjakan apa yang mereka perintahkan.

Inilah prinsip-prinsip yang menjadi pijakan mereka dalam hidup dalam menghabiskan waktu, hanya satu saat waktu mereka untuk Allah yang Maha Rahman dan banyak dari waktu mereka yang mereka habiskan dengan syaitan, satu saat untuk Tuhanmu dan banyak saat untuk keinginan hatimu. Sedangkan hari perhitungan adalah waktu dihalalkannya seribu kehalallan, Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah.

Cukup banyaklah kerusakan-kerusakan akibat seorang muslim yang disebabkan TV dengan menayangkan Symbol-simbol orang-orang kafir dan lambang-lambang agama-agama yang batil seperti salib, tempat-tempat ibadah yang disucikan, dewa-dewa cinta, kebaikan dan kejahatan serta dewa-dewa yang lainnya, menyiarkan akan kemampuan sebagian makhluk untuk menyamai Allah Shubhanahu wa Ta’ala dalam hal menciptakan, mematikan, menghidupkan, dan qadha-Nya dalam pemahaman orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang menemukan suatu penemuan ke dalam jiwa-jiwa penonton dan memberikan gambaran hidup bahwasanya ada kesamaan antara Allah  Shubhanahu wa Ta’ala  dengan manusia dan malapetaka yang lainnnya yang tak terhitung banyaknya dan tidak terhitung bentuknya, Innaa Lillahi Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun.

Perilaku Yang Benar

Televisi ditinaju dari aspek dzatnya tidaklah diharamkan. Akan tetapi, apa yang ditayangkan di dalamnya lah yang menyebabkan ada pembatasan dalam kehalallannya atau keharamannya. Dengan berdasarkan itulah, hukum halal atau haramnya itu ditentukan. Apabila kemudhartannya lebih besar dari pada manfaatnya, maka haram hukumnya. Sebaliknya jika tidak demikian, maka hukumnya halal.



Tayangan-tayangan televisi sekarang ini kita dapati, kejelakan dan kemudharatannya lebih besar dibandingkan dengan kebaikan dan manfaatnya, lebih banyak racunnya dibandingkan dengan madunya. Oleh karena itulah bisa dikatakan, lebih baik mematikan  televisi ketimbang menghidupkannnya. Tiadanya TV lebih utama daripada adanya. Keharaman TV bisa dibandingkan dengan keharaman khamar  dan perjudian, dimana keadaan mudharat keduanya lebih besar dibandingkan dengan manfaat keduanya maka menjauhkannya dan menghindarinya merupakan bentuk penjagaan diri dari keduanya. Namun jika televisi itu memang terpaksa harus ada, maka tidak boleh tidak memakainya hanya untuk keperluan yang diperbolehkan saja dan berhati-hati dalam menyaksikannya, menyeleksi tontonan yang ada di dalamnya dan menjauhi tontonan yang haram. Karena dari  televisi, anak-anak kita akan berusaha mencoba kebiasaan yang buruk dan tradisi-tradisi yang memalukan.

Cukup banyak waktu kaum wanita terbuang cuma-cuma, hanya demi tayangan telenovela dan lainnya di televisi. Jika para wanita tidak mempergunakan waktunya secara baik, mereka termasuk ke dalam daftar orang-orang yang berada dalam firman Allah  Shubhanahu wa Ta’ala  ini;

“Katakanlah, ‘Apakah akan kami  beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi: 103-104)

Juga mereka telah melanggar larangan Rasulullah Shalallahu’Alaihi wasallam yang menyatakan, “Tidaklah ada samrah (tidak tidur sambil mengobrol) setelah shalat Isya.” (HR. Muslim)

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam menganjurkan untuk mengerjakan shalat fajar dan qiyamul lail.

Allah Shubhanhu wa Ta’ala  berfirman, “Dan periharalah dirimu (dari adzab yang diberikan) padpa hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 281)

Oleh karena itulah, Allah Shubhanhu wa Ta’ala  telah memberi peringatan kepada kita tentang dunia dan seisinya dan Allah telah menjelaskan kepada kita, bahwa kita diciptakan bukanlah untuk bermain-main dan bersenang-senang saja, akan tetapi, kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya Allah Shubhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala  sebagai peringatan,

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengaggumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan ini tidak lain hanyalah kesesnangan yang menipu.” (Adz-Dzariyat:56)

Firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala  dalam hadits qudsi-Nya sebagai anjuran,

Wahai anak Adam, curahkanlah semua kemampuanmu unutk beribdah kepada-Ku, maka dadam akan diisi dengan kecukupan dan akan dipenuhi kekuranganmu. Jika kamu tidak melakuukannya (tidak beribadah kepadaku).” (HR. At-Tirmidzi)

Sabda Rasulullah sebagai nasihat,”Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain ( shalat subuh dan shalat Ashar) akan masuk surga.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anha mengisahkan bahwasanya seorang laki-laki tertimpa kemalauan lalu ia mendatangi Nabi Shalallahu ‘Alihi Wasallam memberitahukan apa yang menimpanya. Maka Allah Shubhanahu wa Ta’ala   menurunkan ayat berikut ini;

Dan dirikanlah shalat itu pada dua tepi siang (pagi dan sore) dan pada bagian permulaan malam (Huud: 114)

Lalu si laki-laki bertanya, “Untukku kah ayat ini?

Beliau menjawab, “Bukan, tapi untuk semua umatku seluruhnya.” (HR. Mutafaq ‘Alaih)

Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda, “Dua rakaat sahalat fajar lebih baik daripada dunia dan semua isinya.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda, “Allah memberi rahmat-Nya kepada perempuan yang bangun pada malam hari lalu ia mendirikan shalat dan membangun suaminya, apabila suaminya tidak bangun, maka ia memercikkan air pada wajah suaminya.” (HR. Abu Daud)

Hadits-hadits di atas menganjurkan untuk mengerjakan shalat terus-menerus, tetap berusaha keras melaksanakannya, tolong menolong dalam ketaatan daan dalam beramal saleh bukannya tolong-menolong dalam perbuatan maksiat dan bergadang tanpa ada tujuan yang berguna. Pada akhirnya, kalian dicatat sebagai orang-orang selalu berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak dicatat sebagai orang-orang selalu berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai kepada Allah.

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya…’” (An-Nur: 31)

“…sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban” (Al-Isra :36)

Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda,

“Dua nikmat yang seringkali dilupakan oleh manusia yakni nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Apabila kamu termasuk orang-orang yang meniru-niru gaya orang-orang kafir, maka dengarkanlah oleh kalian semua apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam,

“Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad)

Agar hati kalian tidak mati dan mengeras sesungguhnya  Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam telah memberi peringatan kepada kalian dengan bersabda, “Jauhilah oleh kalian semua memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat membuat hati mati, dan sesungguhnya hati yang paling jauh berpaling dari Allah adalah hati yang keras.” (HR. Ibnu Majah)

Anas Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam berpidato kepada kami dengan pidato yang isinya terdengar serupa dengan hadits di atas, beliau bersabda, “Kalau saja kalian tahu apa yang aku ketahui (tentang teror pada hari akhirat), niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Mendengar demikian, para sahabatnya menutup wajah mereka dan mereka bersuara sengau (karena menahan tangis). (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda, “Setiap sesuatu yang tidak merupakan mengingat Allah adalah lalai dan lupa kecuali empat perkara; berjalannya seseorang di antara dua tujuan, melatih kudanya, mencumbui isterinya dan belajar berenang.” (HR. An-Nasa’i)

Wahai wanita-wanita pada yang meletakkan hadits Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bukan pada tempatnya, yang berbicara dengan kebenaran namun yang menjadi tujuannya adalah kebatilan, Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam memang telah bersabda, “Satu saat dan satu saat” , yang dimaksud dengan hadits ini bukanlah satu saat kafir dan satu saat maksiat, melainkan yang dimaksud dengan hadits ini tidak lain adalah satu saat ibadah, satu saat ketaatan dalam urusan-urusan yang diperbolehkan seperti bercumbu rayu dengan pasangannya, bermain dengan anak-anak, dan memenuhi kebutuhan. Karena hidup itu sesungguhnya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala  sebagaimana firman Allah, “Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Apakah kamu beriman dengan sebagian kitab dan mengingkari sebagian kitab yang lain…” (Al-Baqarah:85)

Janganlah kamu menjadikan hawa nafsu mu menjadi tuhanmu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah, dan janganlah kamu mengikuti jejak langkah syaitan karena ia akan membawamu masuk ke dalam adzab Allah, dan kamu wajib berpegang kepada kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha penyayang.” (Al-Imran: 31)

Apakah pembicaraan telah melenceng jauh? Tidak, sama sekali tidak. Bahkan menangislah atas keadaan kita sekarang! [syahida.com]

Sumber : Kitab 40 Kebiasaan Buruk Wanita, Abu Maryam bin Zakaria

Share this post

PinIt
scroll to top