Hujjah Merupakan Senjata Para Nabi dan Pasukan Para Rasul

Ilustrasi. (she27.wordpress.com)

Ilustrasi. (she27.wordpress.com)

Syahida.com – Hujjah adalah raja yang besar dan sultan yang perkasa. Hujjah merupakan senjata para nabi dan pasukan para rasul,

“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata.”(Al-Hadid [57]: 25)

Hujjah dapat menguasai akal  dan merenggut nyawa. Dengan hujjah pertahanan-pertahanan hati dapat ditundukkan, benteng-benteng jiwa dapat dikuasai, dan dengan hujjah hati manusia dapat dikendalikan. Hujjah membuat orang yang sombong menjadi tunduk kepadanya, orang yang diktator menjadi menyerah di hadapannya, dan orang yang ingkar menjadi mengakui. Hujjah memberi kepuasan terhadap jiwa dengan kebenaran berita dan membuat hati ridha dengan kesahihan pandangan. Tandanya adalah cahaya kebenaran dan petunjuknya adalah kekuatan pengaruhnya. Hujjah merupakan harta kekayaan saat dibutuhkan,

Katakanlah, ‘Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami?’” (Al-An’am [6]: 148)

Dan sebagai perbekalan yang dikonsumsi saat dalam perjalanan perdebatan,

“Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.’” (Al-Baqarah [2]: 111)

Hujjah membuat lisan menjadi lancar, perkataan menjadi mudah, meneguhkan hati, dan membuat orang yang berbicara menjadi berani. Sesungguhnya orang yang memiliki kebenaran itu memiliki perkataan. Hujjah itu merupakan perbekalan yang lebih mudah dari pada mengumpulkan harta, lebih mudah dari pada mempersiapkan tokoh, dan lebih mudah daripada mempertajam pedang. Kemenangan dengan hujjah itu lebih kuat dari pada kemenangan dengan pasukan perang. Keberuntungan dengan hujjah lebih membahagiakan dari pada keberuntungan dengan bala tentara. Karena kemenangan tujuh hujjah, berarti dia telah menguasai permasalahan: Bukti yang jelas itu harus dihadirkan oleh orang yang menuduh. Siapa yang kehilangan bukti yang jelas berarti dia telah tidak menuai keberhasilan. Tidak ada yang lebih nikmat dan lebih lezat dari pada beradu hujjah. Karena hujjah dapat menerjang akal, mengusik hati, meresahkan jiwa, dan menyerang keyakinan,

“Setelah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan, sampai perang selesai.” (Muhammad [47]: 4)



Dengan hujjah, Nabi Ibrahim a.s. menyangkal Namrud,

“Maka bingunglah orang yang kafir itu.” (Al-Baqarah [2]: 258)

Dan dengan hujjah pula Musa menentang Fir’aun,

“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberi petunjuk.” (Thaha [20]: 50)

Serta dengan hujjah Nabi Muhammad SAW merobohkan kepala-kepala berhala,

“Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya.” (Al-Anbiya’ [21]: 18)

Hujjah adalah perkataan, tapi dalam menerkam dia lebih kuat dari singa, kalimat-kalimat, tetapi dia lebih deras dalam perdebatan dari pada air bah yang deras, dan hujah adalah lafazh-lafazh, tetapi napasnya lebih cepat dari pada petir yang menyambar. Hujjah merupakan tameng bagi kaum yang lemah, payung bagi orang-orang yang sengsara, pagar yang menjaga kaum yang lemah dari orang-orang yang kuat, dia lebih tulus dari pada fajar, lebih kekal dari pada masa, lebih menentramkan dari pada kesehatan, korban hujjah tanpa ada peperangan, dan yang terkalahkan tanpa ada harapan,

“Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.”(Al-A’raf [7]: 119)

Hujjah membuat lawan berdebat menjadi tercengang hingga berteriak

“Aku percaya bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil.” (Yunus [10]: 90)

Hujjah dapat menahan orang yang menentang hingga berkata dengan lantang,

“Dan aku berserah diri bersama Sulaiman dan Allah, Tuhan seluruh alam.” (An-Naml [27]: 44)

Dan dengan hujjah dapat memaksa orang yang suka menyangkal dengan syubhat-syubhat yang kelam hingga dia menyeru: Kami memasuki waktu pagi dan kerajaan itu hanya milik Allah. Hujjah adalah mengambil dengan nyaman, menampar dengan tenang, dan memaksa dengan lemah lembut,

“Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl [16]: 125)

Hujjah adalah kepercayaan terhadap prinsip, tekad terhadap petunjuk, kesenantiasaan pada kebenaran, dan memberi kepuasan dengan kebenaran. Cahaya diatas cahaya.

Sesungguhnya hujjah itu tidak membutuhkan suara atau gambar, promosi atau pun pengumuman, karena hujjah itu sudah cukup dengan dirinya: Biarkanlah dia karena dia itu diperintah. [Syahida.com]

Sumber : Kitab Demi Masa! Beginilah Waktu Mengajari Kita, Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarny 

Share this post

PinIt
scroll to top