Ulama Su’ (yang Buruk) dan Ulama Akhirat

Ilustrasi. (abuthalhah.wordpress.com)

Ilustrasi. (abuthalhah.wordpress.com)

Syahida.com –  Ulama su’ (yang buruk) adalah mereka yang dengan ilmunya ingin mendapatkan kenikmatan di dunia dan mendapatkan kedudukan terpandang di kelompoknya.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda,

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu, yang dengan ilmu itu semestinya dia mencari Wajah Allah, dia tidak mempelajarinya untuk mendapatkan kekayaan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari Kiamat.” (Diriwayatkan Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Dalam hadist lain beliau bersabda,

“Barangsiapa mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau mendebat orang-orang yang bodoh, atau mengalihkan pandangan manusia kepada dirinya, maka dia akan berada di neraka.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

Di antara orang salaf ada yang berkata, “Orang yang paling menyesal saat kematian tiba adalah orang yang berilmu yang merasa kurang ilmunya.”

Yang dituntut dari orang yang berilmu ialah memperhatikan perintah dan larangan, bukan status dirinya sebagai orang zuhud atau meninggalkan hal-hal yang sebenarnya mubah. Tetapi sebisa mungkin dia harus membatasi diri dari urusan keduniaan. Sebab memang tidak semua tubuh manusia tahan menghadapi serangan penyakit.

Diriwayatkan bahwa Sufyan Ats-Tsauri membiasakan makan yang baik. Dia pernah berkata, “Sesungguhnya apabila binatang melata tidak memperhatikan makanannya, maka dia tidak akan bisa bekerja.”

Sebaliknya, Imam Ahmad dan Hambal adalah orang yang sabar menghadapi kondisi kehidupan yang sempit. Memang tabiat manusia berbeda-beda.

Di antara sifat-sifat para ulama akhirat, mereka mengetahui bahwa dunia ini hina sedangkan akhirat adalah mulia. Keduanya seperti dua macam kebutuhan pokok, namun mereka lebih mementingkan akhirat. Perbuatan mereka tidak bertentangan dengan perkataan, kecenderungan mereka hanya kepada ilmu-ilmu yang manfaatnya lebih sedikit, karena lebih mementingkan ilmu yang lebih besar manfaatnya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Syaqiq Al-Balkhi Rahimallah, bahwa dia pernah bertanya kepada Hatim, “Sudah berapa lama engkau menyertai aku. Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”

Hatim menjawab, “Ada delapan macam:

  1. Aku suka mengamati manusia. Ternyata setiap orang ada yang dicintainya. Namun jika dia sudah dibawa ke kuburannya, toh dia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka kujadikan yang kucintai adalah kebaikanku, agar kebaikan itu tetap menyertai di kuburan.
  2. Kuamati Allah yang telah berfirman,

“..dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.” (An-Nazi’at: 40)

Sebisa mungkin aku mengenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat kepada Allah.

  1. Setelah kuamati aku tahu bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu ia pun menjaga. Kemudian kuamati firman Allah SWT.

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl: 96)

Setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga, maka aku segera menyerahkannya kepada Allah , agar ia kekal di sisi-Nya.

  1. Kulihat banyak orang yang kembali kepada harta, keturunan, kemuliaan dan kedudukannya. Padahal semua ini tidak ada artinya apa-apa. Lalu ku amati firman Allah SWT,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kallian.” (Al-Hujurat: 13)

Karena aku beramal dalam lingkup takwa, agar aku menjadi mulia di sisi-Nya.

  1. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kuamati firman Allah SWT,

“Kami telah menentukann anatara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”
(Az-Zukhruf: 32).

Karena itu kutinggalkan sifat iri dan dengki.

  1. Kulihat mereka saling bermusuhan. Lalu kuamati firman Allah SWT,

“Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian).” (Fathir: 6)

Karena itu aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya setan semata yang kujadikan musuh.

  1. Kulihat mereka berjuang habis-habisan untuk mencari rizki. Lalu kuamati firman Allah SWT,

“Dan, tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.” (Hud: 6)

Karena itu aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku dan kutinggalkan sesuatu meskipun memberikan keuntungan kepadaku.

  1. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan, usaha dan kesehatan badan mereka. Tapi aku mengandalkan Allah dengan bertawakal kepada-Nya.

Di antara sifat ulama akhirat, hendaknya mereka membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan penguasa dan bersikap waspada jika bergaul dengan mereka.

Hudzaifah pernah berkata, “Jauhilah beberapa sumber cobaan.”

Ada yang bertanya, “Apa itu?”

Dia menjawab, “Pintu para penguasa. Salah seorang di antara kalian memasuki tempat tinggal seorang penguasa, lalu dia membenarkan dirinya dengan cara dusta dan mengatakan apa yang tidak seharusnya dia katakan.”

Sa’id bin Al-Musayyab Rahimallah berkata, “Apabila kalian melihat seorang ulama mendatangi para penguasa, maka dia adalah pencuri.”

Di antara orang salaf berkata, “Sesungguhnya engkau tidak mengusik keduniaan mereka sedikitpun, melainkan mereka akan mengusik agamamu dengan takaran yang lebih banyak lagi.”

Di antara ulama akhirat, hendaknya mereka tidak cepat-cepat mengeluarkan fatwa, dan tidak mengeluarkan fatwa kecuali setelah yakin akan kebenarannya.

Orang-orang salaf biasa meneliti kembali fatwanya hingga kembali lagi ke bagian awal.

Abdurrahman bin Abu Laila Rahimallah berkata, “Di dalam masjid ini aku pernah bertemu dengan seratus lima puluh sahabat Rasulullah SAW. Tidaklah salah seorang di antara mereka ditanya tentang suatu hadist atau fatwa, melainkan dia juga juga menanyakannya kepada lainnya hingga merasa yakin akan kebenarannya. Kemudian pada zaman sekarang muncul orang-orang yang mengaku sebagai ulama, yang begitu mudah mengeluarkan jawaban  mengenai berbagai masalah, yang seandainya masalah-masalah itu disodorkan kepada Umar bin Al-Khathab, tentu dia akan mengumpulkan orang-orang yang pernah ikut perang Badr dan meminta pendapat mereka.”

Di antara sifat para ulama akhirat hendaknya lebih banyak mengkaji ilmu tentang amal, yang berkaitan dengan hal-hal yang membuat amal-amal itu menjadi rusak, mengeruhkan hati dan menimbulkan keguncangan. Sebab gambaran amal-amal itu dekat dan mudah, tapi yang sulit adalah membuatnya bersih. Sementara dasar agama ialah menjaga diri dari keburukan. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjaga amal jika dia tidak tahu apa yang harus dijaganya?

Di antara sifat ulama akhirat, ialah mengkaji rahasia-rahasia amal syar’iyah dan mengamati hukum-hukumnya. Sifat mereka yang lain ialah mengikuti para sahabat dan para tabi’in yang pilihan serta menjaga diri dari hal-hal yang baru. [Syahida.com]

Sumber : MINHAJUL QASHIDIN “Jalan Orang-Orang yang Mendapatkan Petunjuk” IBNU QUDAMAH

 

Share this post

PinIt
scroll to top