Kisah Nabi Adam (Bagian Ke-11) : Iblis Terusir Dari Surga

Ilustrasi. (Foto : pmk.itb.ac.id)

Ilustrasi. (Foto : pmk.itb.ac.id)

Syahida.com – Para pengusung pendapat kedua melontarkan sebuah pernyataan yang perlu di tanggapi, mereka menyatakan, “Tidak diragukan, Allah mengusir Iblis dari surga kala enggan sujud kepada Adam. Allah memerintahkan Iblis untuk keluar dan turun dari surga. Perintah yang dimaksud bukan perintah syar’i yang bisa saja disalahi, tapi murni takdir yang tidak bisa disalahi dan ditolak. Itulah kenapa Allah SWT berfirman, “Keluarlah kamu dari sana (surga),” (Al-A’raf: 18). “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.” (Al-A’raf: 13). “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk.” (Al-Hijr: 34)

Mengacu pada pendapat manapun, tetap bisa disimpulkan bahwa Iblis tidak ditakdirkan untuk berada di tempat dimana ia diusir dan dijauhkan dari sana, bukan sebagai tempat menetap, ataupun hanya sekedar melintas saja. Mereka menyatakan, “Melalui tekstual serangkaian ayat bisa diketahui, Iblis membisikkan pikiran jahat dan berkata kepada Adam, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Thaha: 120).

“Rabbmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya ‘Sesungguhnya, aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,’ dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Rabb menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’ Keduanya berkata, ‘Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’ (Allah) berfirman, ‘Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.’ (Allah) berfirman, ‘Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan di sana kamu di bangkitkan’,” (Al-A’raf: 21-25). Secara tekstual, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Adam dan Iblis sama-sama berada di surga.

Tanggapan:

Bisa saja Adam dan Iblis bersama-sama di surga namun hanya sebatas melintas saja dan bukan menetap di sana dan Iblis membisikkan pikiran jahat kepada Adam di dekat pintu surga atau di bawah langit. Hanya saja ketiga pendapat ini masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Wallahu a’alam.

Di antara dalil yang menjadi pijakan pengusung pendapat ini adalah riwayat Abdullah bin Imam Ahmad dalam Az-Ziyadat ‘alal Musnad dari Hudbah bin Khalid, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Hadan Al-Bashri, dari Yahya bin Dhamrah As-Sa’di, dari Ubai nin Ka’ab, ia menuturkan “Saat sekarat, Adam menginginkan setandan buah anggur surga, anak-anaknya kemudian mencairkan buah anggur untuknya, mereka kemudian berpapasan dengan para malaikat. Para malaikat bertanya, ‘Kalian hendak kemana, anak-anak Adam?” Mereka menjawab, ‘Ayah kami menginginkan setandan buah anggur surga.’ Para malaikat berkata, ‘Pulanglah, kalian sudah tidak perlu lagi mencari buah itu.’

Mereka semua pulang, lalu para malaikat mencabut nyawa Adam, memandikan, memberi kamper, dan mengafani jenazahnya. Jibril menyalatkan jenazahnya dan para malaikat shalat di belakangnya, setelah itu mereka mengubur jenazah Adam. Para malaikat selanjutnya berkata, ‘Inilah syariat kalian dalam mengurus jenazah’.” Sanad dan matan hadist ini secara lengkap akan disampaikan pada bagian kematian Adam.

Menurut para pengusung pendapat ini, jika untuk sampai ke surga yang pernah di tempati Adam dimana ia menginginkan sebagian buahnya dimungkinkan, tentu anak-anaknya tidak perlu repot-repot mencari. Ini menunjukkan surga tersebut adanya di bumi, bukan di langit. Wallahu a’alam.

Mereka menyatakan, “Tertera dalam firman Allah SWT, ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,’ (Al-Baqarah: 35), mengacu pada sesuatu yang telah diketahui oleh akal pikiran. Yang benar, penjelasan yang Allah sampaikan mengacu pada rangkaian kalam, karena Adam diciptakan dari unsur bumi, dan tidak ada riwayat atau nash yang menyebutkan bahwa Adam dipindahkan ke langit. Adam diciptakan untuk berada di bumi. Inilah yang Allah beritahukan kepada para malaikat melalui firman-Nya, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Al-Baqarah: 30).

Ini selaras dengan firman Allah SWT, “Sungguh, Kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik  (hasil)nya pada pagi hari.” (Al-Qalam: 17).

Mereka menyatakan, “Turun tidak harus menunjukkan pindah dari langit ke bumi, seperti disebutkan dalam firman Allah SWT berikut, ‘Difirmankan, “Wahau Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu.’ (Hud: 48) Maksud ayat ini, kala bahtera telah berada di atas gunung Judy dan air sudah surut. Nuh dan kaum mukmin yang ikut bersamanya untuk turun. Sama seperti firman berikut, “Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” (Al-Baqarah: 61). Juga firman-Nya, “Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah.” (Al-Baaqarah: 74). Dan masih banyak contoh lain terkait penggunaan kata seperti ini dalam hadist dan bahasa.

Mereka juga menyatakan, “Tidak menutup kemungkinan bahkan inilah faktanya bahwa surga yang ditempati Adam adalah sebuah dataran tinggi di bumi, penuh pepohonan rindang, buah-buahan, kenikmatan, dan kesenangan, seperti disebutkan dalam firman Allah SWT, ‘Sungguh ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang.’ (Thaha: 118). Yaitu sisi batinmu tidak terhina karena kelaparan, dan sisi lahirmu karena telanjang. ‘Dan sungguh, disana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.’ (Thaha: 119). Yaitu, sisi batinmu tidak tersentuh oleh panas dahaga dan sisi lahirmu karena sengatan terik matahari. Untuk itu keduanya disebut secara berdampingan, karena adanya sisi kesamaan pada keduanya. Namun, karena Adam memakan buah yang dilarang untuk dimakan, akhirnya Adam diturunkan ke bumi yang penuh kesengsaraan, keletihan, kekeruhan. Harus berusaha dan bekerja keras, penuh dengan ujian, cobaaan, perbedaan agama, akhlak, perbuatan, niat, kehendak, tutur kata, dan perbuatan diantara seluruh penduduk yang ada, seperti yang Allah sampaikan, “Dan bagi kamu ada tempat dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (Al-Baqarah: 36). Firman ini bukan berarti menunjukkan manusia berada di langit, sama seperti firman-Nya, ‘Dan setelah itu Kami berfirman kepada Bani Israil, ‘Tinggallah di negeri ini, tetapi apabila masa berbangkit datang, niscaya Kami kumpulkan kamu dalam keadaan bercampur baur.’ (Al-Isra’: 104). Seperti diketahui, Bani Israil berada di bumi, bukan di langit.”

Mereka juga menyatakan, “Pendapat ini bukan bagian dari pendapat yang mengingkari adanya surga dan neraka saat ini, dan kedua pendapat ini sama sekali tidak memiliki kolerasi satu sama lain, karena sumber pendapat ini, baik dari kalangan salaf ataupun khlaf, menegaskan surga dan neraka sudah ada saat ini, seperti ditunjukkan oleh sejumlah ayat dan hadits-hadits shahih. Wallahu a’lam bish shawab. [Syahida.com]

– Bersambung…

Sumber : Kitab Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Versi Tahqiq  

Share this post

PinIt
scroll to top