Mengapa Muslim Harus Belajar Bahasa Arab? (Bagian Ke-3)

Nouman Ali Khan

Nouman Ali Khan

Oleh : Nouman Ali Khan *)

Syahida.com – Kita lanjutkan kembali pembahasan kita tentang mengapa muslim harus belajar Bahasa Arab.

Tidak Hanya Membaca dan Menghafal, Tapi Juga Memahami Al Qur’an

Itu tadi beberapa poin dari Al-Qur’an. Sekarang bagian selanjutnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahu kita, mungkin kamu sering mendengarnya di dalam Khutbah. Ada hadits dari shahih  Bukhori r.a. dan juga dari shahih Muslim r.a. :

Yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Kita semua tentu setuju bahwa orang-orang terbaik yang paham kata-kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah para sahabat. Pemahaman saya akan hadits itu terbatas, bila dibandingkan dengan Ibnu Abbas ra, Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. dan para sahabat. Karena mereka hadir di sana ketika sang guru (Nabi Muhammad) sedang mengajar. Ketika kita mengutip hadits ini: ‘Yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.’ Maka kamu berkata: “Saya akan ajarkan anak saya Al-Qur’an”. “Saya akan undang seorang Shaykh, qari ke rumah ini atau di masjid agar anak saya belajar Al-Qur’an”.

Ketika kita katakan: “Anak saya sedang belajar al-Qur’an.” Apa yang biasanya kita maksudkan? Mereka kan mulai belajar membaca buku iqro, lalu kemudian bertahap belajar membaca  Al-Qur’an, iya kan? Apakah konsep mengajarkan Al-Qur’an yang dimaksud tadi sudah termasuk bagian pemahaman Al-Qur’an? Tidak. Rata-rata muslim, bila mereka mengatakan: “Saya akan mengajarkan anak saya Al-Qur’an”, yang mereka maksudkan itu 2 hal: membaca dan menghafal. 2 inilah yang mereka maksudkan. Harap diingat 2 hal ini, karena akan menjadi penting untuk kita bahas. Membaca dan menghafal, tolong ingat 2 hal ini. Ubay bin Kaab r.a. ketika itu sedang menasehati para sahabat. Para sahabat sebagian besar berasal dari mana? Dari Arab, Pakistan, Bangladesh atau dari mana? Mereka itu orang-orang Arab.

Dia menasihati para sahabat “Ajarkan anakmu Bahasa Arab, seperti kamu ajarkan pada mereka cara menghafal Al-Qur’an.” Sahabat nabi dari Arab, menasihati sahabat nabi lainnya yang juga dari Arab, agar mengajarkan anak mereka Bahasa Arab. Sama pentingnya seperti mereka menghafal Al-Qur’an. Ini adalah yang paling diutamakan oleh para sahabat.

Umar bin Khathab mengatakan; “Pelajari Bahasa Arab karena itu bagian dari agamamu.” Itu yang Umar katakan. Pernyataan lain dari Umar r.a. ia berkata: “Tidak boleh seorang pun mengajarkan Al-Qur’an kecuali mereka mengerti Bahasa Arab.” Karena mereka bisa membuat kesalahan. Ini adalah insiden yang terkenal yang terjadi di masa Umar r.a. Tapi satu ini yang paling ‘nendang’ yang akan saya sampaikan, yang ketika saya membacanya, saya sampai harus berhenti dulu membacanya. Di Surat Al-Baqarah, Allah menceritakan suatu kaum sebelum kita yang telah Allah berikan kitab. Allah telah berikan Syariah dan kitab di masa sebelum kita. Mereka memiliki Nabi, punya kitab dan juga ada shariahnya, sama seperti kita. Mereka tidak adil dengan kitab dan Nabi mereka. Bahkan di satu ayat Allah menjelaskan kegagalan mereka atas kitabnya. (QS: 2: 78) “Waminhum ummiyyuuna la ya’lamuunaalkitaba illa amaniyya wa-in hum illayadzhunnuun”. Artinya : “Diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab, kecuali angan-angan belaka dan mereka hanya menduga-duga.” Kata ‘amaniy’ berarti mereka tidak tahu apa yang kitab itu katakan, mereka hanya berfikir mereka tahu apa yang kitab itu katakan. Ini adalah yang umat terdahulu lakukan dengan kitab mereka. Kitab apa yang sedang kita bicarakan? Kitab Taurat.

Sekarang dengarkan ini. Kata yang digunakan oleh Allah, untuk sesuatu yang mereka tidak tahu tapi mereka fikir tahu (angan-angan) adalah kata ‘amaniy’. Salah satu mufasir Al-Qur’an besar (kemungkinan yang terbesar diantara semuanya), Ibnu Abbas r.a. dan Qatadah r.a. Ketika mereka membuat tafsir ayat ini, kamu tahu apa yang mereka katakan? Yang mereka katakan adalah, “Kata ‘amaniy’ pada ayat ini berarti, apa yang kaum itu lakukan saat itu hanyalah tilawah.” Kalian tahu kan tilawah itu artinya apa? Membaca. Kemudian mereka lanjutkan dengan menjelaskan Bani Israil saat itu, apa yang mereka jelaskan? “Yang mereka tahu hanya menghafal dan membaca tanpa pemahaman. Mereka tidak paham apa yang ada di dalamnya. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang ada di dalamnya.”

Ketika saya katakan, kita mengajarkan anak kita, apa 2 hal yang sesungguhnya dimaksudkan? Membaca dan menghafal. Yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas itu siapa? Ia menjelaskan Bani Israil dan kejahatan mereka pada kitabnya. Dan ia berkata, yang mereka lakukan pada kitabnya hanyalah membaca dan menghafal. Hal terburuk yang mereka lakukan adalah mereka tidak paham apa yang dikatakan oleh kitabnya.

Penjelasan ini bisa diterapkan pada umat muslim saat ini. Terdapat suatu kaum yang mencintai kitabnya, membaca kitabnya dan bahkan menghafal kitabnya, tapi kebanyakan dari mereka yang bahkan hafal Al-Qur’an, tidak paham apa maksud dari yang mereka baca. Ini maksudnya sedang menjelaskan siapa? Ini sungguh menakutkan, benar-benar menakutkan. Karena yang dijelaskan oleh ayat ini bukanlah kaum Muslim tapi menjelaskan Bani Israil umat terdahulu yang gagal. Ini benar-benar permasalahan yang serius.

Orang Arab Juga Harus Belajar Tata Bahasa Arab

Lihatlah murid-muridnya As-Syafi’i r.a. Murid-muridnya banyak yang orang Arab. Ketika hendak mengajar Bahasa Arab, muridnya berkata: “Kita tidak perlu belajar bahasa Arab, kami sudah bisa bicara bahasa Arab kok.” Lalu Imam Syafi’i berkata, “Hal yang paling kutakutkan adalah murid yang sedang menuntut ilmu namun mereka menolak belajar tata Bahasa Arab.” Terdapat suatu hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengatakan; “Barang siapa yang mendustai perkataanku dengan maksud tertentu, maka ia telah menjamin tempatnya sendiri di neraka.” Ia berkata, hadits yang ini yang membuatku takut terhadap muridku yang tidak mau belajar Bahasa Arab dengan serius karena mereka mungkin akan membuat kesalahan dalam tata Bahasa Arab pada saat mengkaji hadits.  Oleh karena itu, mereka mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang-orang seperti ini telah menjamin tempatnya di neraka. Mereka ini orang Arab, saling memberi tahu ke sesama orang Arab. Beginilah betapa seriusnya mereka membahas masalah ini. Ini sungguh wajib bagi setiap muslim. Jika kamu perhatikan para sahabat, mereka sangat memperhatikan pentingnya Bahasa Arab.

Dahsyatnya Dampak dari Memahami Al Qur’an

Jika kamu perhatikan para ulama besar, mereka sangat memperhatikan pentingnya Bahasa Arab. Mengapa? Karena itulah yang menjaga agama. Menjaga integritas agama kita. Menjaga pemahaman yang tepat dari agama ini. Dan mungkin yang terpenting dari semuanya adalah Bahasa Arab dapat menjaga sholatmu. Bahasa Arab akan menjaga perilaku kita dalam berdiri di hadapan Allah. Ketika Imam sedang membaca kata-kata dari Allah, kita seharusnya merasakan pengalaman spritual, karena perkataan dari Allah sedang dibacakan. Mukjizat Allah sedang dihadirkan di hadapan kita. Namun, kita malah berdiri sambil menguap. Karena tidak paham apa yang dibacakan imam. Ini kan tragis.

Kata-kata yang sama sering dibacakan pada kita di saat sholat tarawih. Kata-kata yang sama dibacakan juga kepada Umar r.a. ketika ia belum menjadi muslim kala itu. Ketika Nabi Muhammad membacanya, Umar kabur karena takut. Kata-kata yang sama dibacakan juga kepada Tufail Ibnu Amar Ad-Dausi, seorang pemimpin suku yang datang ke Mekah. Ia lihat Nabi Muhammad membaca Al-Qur’an, ia berkata: “Saya dengar orang ini bisa bikin orang jadi gila bila mendengarnya.” Maka ia sumbat telinganya, lalu ia lari. Kemudian ia berhenti dan berkata: “Ngapain saya lari? Itu kan cuma kata-kata, saya bisa tahan kok.” Maka ia lepas sumbat telinganya, kemudian ia kembali dan mendengar yang diucapkan Rasulullah, ia langsung bersyahadat, lalu menceritakan ceritanya ini kepada kita. Ia cuma dengar kata-kata, namun langsung bersyahadat.

Ini (Al Qur’an) adalah kata-kata yang dibenci oleh orang-orang yang membenci Rasulullah, seperti Al-Akhnas bin Syuraiq, Abu Sufyan sebelum ia menjadi muslim, dan Abu Jahal. Apa kamu tahu apa yang orang-orang ini lakukan menurut sejarah Ibnu Ishaq? Mereka biasa mengunjungi rumah Rasulullah setiap malam. Yang satu nguping di satu sisi dinding untuk dengerin Al-Qur’an, yang satu lagi nguping di sisi satunya, dan sisanya nguping dari sisi lainnya. Mereka diam-diam pulang sebelum terbit matahari, tapi kemudian mereka saling berpapasan. Mereka pun saling bertanya: “Kamu lagi apa di sini?”,Lah kamu sendiri lagi ngapain disini?”. Mereka ketagihan mendengarkan Al-Qur’an, mereka saling bersumpah untuk tidak datang lagi, tapi mereka saling berpapasan lagi keesokan harinya. Mereka bikin sumpah lagi, tapi saling berpapasan lagi di hari yang ketiga, mereka diam-diam ingin mendegarkan Al-Qur’an. Mereka berkata: “Jika ada yang lihat kita, maka kita bisa kehilangan wibawa” (karena mereka-lah yang bilang: “Jangan dengarkan orang ini.”)

Orang-orang kafir pada zaman itu, lebih ketagihan untuk mendengarkan Al-Qur’an ketimbang umat Islam di zaman sekarang. Apa gak sedih dengarnya? Ini kan tragis!. Ada yang efeknya lebih hebat lagi, di kisah Utbah Ibn Rabi’ah. Ia mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia itu tukang debat politik, suka menghina lawan bicaranya, sering mengintimidasi lawan bicaranya ketika berdebat. Ia berkata, “Kita tidak bisa mengatasi Muhammad” (ini orang kafir yang berbicara, mereka tidak menambahkan ‘Shallalahualaihi wassalam’ seperti kita). “Gimana kalau kamu saja yang berdebat dengannya, tunjukkan siapa yang lebih kuat?” Ia akhirnya pergi berbicara kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang Quraish menonton dari kejauhan. Ini akan menjadi pertandingan yang seru menurut mereka. Ia akhirnya menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia kemudian mulai menghinanya. “Kamu mau apa? Uang? Perempuan? Kamu ingin kekuasaan? Apa itu yang menyebabkan kamu mengacaukan suku kita?” ia terus menghina Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah hanya diam tenang dan mendengarkan, dan ketika orang itu sudah selesai membentak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berkata padanya: “Apa kamu telah selesai bicara? Bisa saya mulai bagian saya?” Utbah berkata: “Silahkan, coba kita lihat apa yang akan kamu katakan.” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mulai membaca Al-Qur’an dan dalam beberapa detik, Utbah tidak bisa menahan air matanya kemudian ia berusaha menutup mulut Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Berhenti! Saya tidak tahan mendengarnya lagi”, sampai kemudian Rasulullah sampai pada ayat sajadah, lalu beliau pun sujud. Sehingga Utbah bisa pergi, orang Quraisy melihatnya dan berkata “Mukamu ketika pergi berbeda dengan ketika kamu kembali (seperti pasca operasi pembenahan muka).” Dia tidak menjadi muslim, akan tetapi ia sungguh telah ditaklukan oleh Al-Qur’an. Yang seperti itu tidak bisa dilakukan oleh Al-Qur’an terjemahan. Kekuatan al-Qur’an yang seperti itu hanya ada pada Al-Qur’an Bahasa Arab. Yang seperti itu yang seharusnya kita rasakan ketika kita sedang sholat.

Bahasa Arab Dapat Menjaga Sholat

Menurut kamu, khusu’ itu apa? Penuh perhatian dalam sholat? Fokus dalam sholat? Rendah hati ketika sholat? Allah Azza wa Jalla menjelaskan arti ‘khusu’ untuk kita. QS: Al-Hadid: 16….., “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka”. Hatinya harus tunduk karena mengingat Allah. Kemudian Allah menjelaskan, “Maksudnya apa mengingat Allah itu?”. Kemudian Allah menjelaskan, “Mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” Kebenaran apa yang telah turun itu? Al-Qur’an.

Sholat adalah suatu momen ketika hati kita tunduk bila mendengar ayat-ayat Allah. Tapi jika kamu tidak paham apa yang dibacakan dalam sholat dan kamu jadi sungguh-sungguh berusaha untuk fokus.

Ada anak belasan tahun sedang berdiri untuk sholat dan tidak paham arti bacaanya. Ia terus menatap karpet dan ia malah bilang “Jahitannya kurang yang bagian sini, yang satu kesini yang itu malah kesana, gak simetris nih.” Atau mereka berusaha menutup mata sambil membayangkan ada ka’bah di hadapannya. Mereka melakukan hal-hal kreatif semacam ini guna mengejar satu hal. Apa itu? Untuk fokus memperhatikan  ayat yang sedang dibacakan. Allah berbicara kepada kita melalui Al-Qur’an. Ini seperti pengalaman tersendiri bagi orang yang beriman. Kekosongan itu perlu diisi. Demi Allah jika kita bisa lakukan, maka sebagian besar masalah akan terselesaikan. Karena itu artinya, 5 kali sehari kita akan menerima dan mengerti nasihat dari Allah untuk hidup kita. Itulah gunanya sholat, kita memperoleh bimbingan dari Allah. Ketika kita berdiri dan membaca Al-Qur’an, ketimbang kita yang membaca Al-Qur’an, Al-Qur’an lah yang ‘membaca’ diri kita.

Saya beri 1 cerita singkat tentang diri saya. Saya Alhamdulillah memiliki 4 orang anak, yang tertua namanya Husna. Berapa banyak diantara anda yang memiliki anak lebih dari 1 anak? Yang punya banyak anak akan mengalami ini juga. Ketika kamu punya anak pertama, semuanya terlihat mengagumkan. “Ya Tuhan dia ada giginya, Ya Tuhan dia bisa berdiri, Ya Tuhan dia berkata sesuatu.” Padahal bayi itu cuma bilang “Yeah”. Iya kan? Semuanya jadi menakjubkan. “Apa kamu rekam?”. Tapi kalau sudah punya anak yang ketiga atau keempat, “Siapa nama kamu tadi?”. Tapi setiap yang anak pertama lakukan, selalu spesial.

Saya sedang sholat di rumah dan anak perempuan saya di samping saya. Allah memberikan kelebihan pada manusia, Dia tak hanya memberikan penglihatan di depannya saja, tapi juga di samping juga, iya kan? Saya sedang sholat tapi saya bisa lihat anak saya. Dan untuk pertama kalinya, dia meletakkan tangannya di lantai kemudian ia dorong dan kemudian ia berdiri untuk pertama kalinya! Ini anak pertama saya, dia berdiri untuk pertama kalinya dan saya sedang sholat. Maka ketika saya sholat, saya spontan melakukan hal seperti ini (mulut menganga). Ini hal besar. Dan ketika itu terjadi, atas rahmat Allah saya sedang membaca surat Al-Munaafiquun dan ayat selanjutnya yang saya baca adalah (QS: 63: 9)…. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” Subhanallah.

Apa yang membedakan antara kamu tahu apa yang kamu baca dan bila kamu tidak tahu apa arti ayat yang kamu baca? Kalau saya tidak tahu artinya, maka saya akan biasa saja dan selesaikan sholatnya. Tapi kalau saya tahu artinya, maka saya akan lupakan anak saya. Dunia seakan runtuh di hadapan saya karena Allah langsung menegur saya. Ada bedanya kan? Mungkin inilah alasan yang paling utama mengapa Bahasa Arab itu penting. Itu hal terakhir yang bisa saya sampaikan akan pentingnya bahasa Arab bagi muslim. [Syahida.com]

Pembahasan ini akan dilanjutkan di bagian ke-4, Insya Allah….

============

Bersambung….

 

*) Nouman Ali Khan adalah ulama Muslim muda. Di Amerika, ia adalah tokoh Islam yang populer. Ali Khan banyak memberikan ceramah di internet. Ia CEO dan pendiri Bayyinah, sebuah lembaga pendidikan Islam di Amerika Serikat. Ia bersekolah di Riyadh, Arab Saudi dan dilanjutkan di Pakistan. Dia mengajar bahasa Arab klasik modern dengan lebih dari 10.000 siswa nasional. Dia juga sering berbicara di Islamic Circle of North America Conventions tentang Islam, keluarga, dan topik kehidupan lainnya. Meskipun ia berasal dari keluarga Muslim, namun ia pernah menjadi seorang atheis. Ceramahnya banyak tersebar di Youtube, iTunes podcast.

Share this post

PinIt
scroll to top