Membentuk Keluarga Ulama, Suatu Keharusan

Ilustrasi. (Foto : pixshark.com)

Ilustrasi. (Foto : pixshark.com)

Syahida.com – “Betapa tinggi Islam memandang keluarga yang berlandaskan iman dan ilmu. Hingga dua keluarga penghulu umat ini selalu kita shalawatkan dalam shalat dan satu keluarga lagi menjadi nama surat dalam Al-Qur’an. Keluarga siapakah itu?”

Mungkin tak semua sadar sepenuhnya bahwa ketika sepenuhnya bahwa ketika duduk tasyahud akhir dalam setiap shalat, kita bukan hanya memanjatkan shalawat pada dua orang nabi, yaitu Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi juga pada keluarga mereka. Sebagaimana kita juga mungkin tidak ambil pusing mengapa keluarga Imran dipilih Allah sebagai nama sebuah surat dalam Al-Qur’an, Ali Imran. Padahal, Imran hanyalah orang biasa.

Mubaligh dan pengajar di Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah Jakarta Dr. KH Ali Akhmadi MA, Al-Hafiz berujar, keluarga-keluarga itu menjadi mulia karena mereka adalah keluarga yang diberkahi. “Salah satu pintu keberkahan adalah bill ‘ilmi (dengan ilmu). Dan ilmu yang paling tinggi adalah ilmu Allah,” ucapnya.

Hakikat dan Urgensi Ilmu

     Proses menuntut ilmu, menurut Ali, memiliki hakikat yag dalam karena berilmu (‘aalim) adalah salah satu sifat Allah. “Jadi, ketika orang itu belajar berarti ia sedang merapat kepada Allah,” jelas alumnus Universitas Islam Madinah ini. Berdasarkan QS. Faathir (35): 28, “Innamaa yakhsyaullaha min ‘ibaadihil ‘ulamaa”, yang artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”, Ali menambahkan, maka orang yang banyak ilmunya juga adalah orang yang takut sama Allah.

Dengan dua hakikat ilmu ini, jelas bagi kita mengapa Allah mengangkat derajat tiga keluarga tadi. Nabi Ibrahim Alaihissalam, bapak Tauhid yang mencari hakikat ketuhanan dengan mentafakuri alam. Dari benihnya lahirlah nasab mulia yang melahirkan banyak nabi.

Kita juga saksikan dalam sirah bagaimana keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam begitu bersemangat mempelajari dan mengamalkan setiap wahyu yang turun. Tak lupa, para sahabat yang menjadi pita perekam ribuan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pun kita lihat bagaiman keluarga Imran dimuliakan dengan hadirnya Maryam yang hidup demi merealisasikan nazar sang ibu untuk mewakafkan diri menjadi ahli ibadah, mendekatkan diri pada Allah di Baitil Maqdis. Dari rahim suci Maryam kemudian lahir manusia mulia, Nabi Isa Alaihissalam.

Generasi Ilmuwan

Spirit yang memandang ilmu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah inilah yang diwarisi oleh generasi pertama sahabat dan para tabi’in. Dengan semangat ini mereka menuntut ilmu begitu bersemangatnya. Dengan basis Al-Qur’an, mereka mengembangkan berbagai macam ilmu untuk kemaslahatan umat.

Al-Qur’an adalah sumber inspirasi mereka. Sebelum mereka menemukan berbagai rumus matematika, geometri, dan kedokteran, para ilmuwan Muslim generasi awal telah lebih dahulu menyimpan Al-Qur’an dalam dada mereka. Mengkhatamkan bacaannya satu, dua kali, bahkan lebih dalam sebelum. Al-Qur’an seperti mendorong-dorong mereka untuk terus belajar. Betapa tidak, seperti dituturkan pakar Al-Qur’an Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA. “Dalam Al-Qur’an disebutkan kata ilmu sebanyak 765 kali dan lebih dari 750 ayat kaunlah meliputi segala macam cabang ilmu pengetahuan.”

Tradisi menghafal Al-Qur’an sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain masih terus dipertahankan oleh beberapa ulama. Tak hanya di institusi pendidikan, aktivitas mengakrabkan Qur’an sejak dini juga intens dilakukan di dalam keluarga-keluarga teladan. Seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi yang dididik oleh ayahnya untuk bisa hafal Al-Qur’an di usia 10 tahun. Kini, beliau adalah salah satu ulama terkemuka di dunia.

Keluarga Ulama

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar semua ilmu menurut Ali setidaknya dari empat ciri manusia dan keluarga ‘ilmuwan’ yang hendak dicapai. Pertama, orang yang berpengetahuan adalah orang yang mengamalkan. “Kalau berpengetahuan tapi tidak mengamalkan, tentu akan mempunyai dampak yang berbahaya,” kata Ali.

Kedua, mukhlis. Orang yang berilmu adalah orang yang mengikhlaskan amalnya untuk Allah. Ketiga, orang berilmu hendaknya memperjuangkan ilmunya untuk dikembangkan dan diajarkan pada orang lain. Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajaknya. Meskipun yang disebutkan Al-Qur’an, tentu inspirasinya bisa kita terapkan pada ilmu yang lain. Karena Al-Qur’an adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Terakhir, ciri orang berilmu adalah dapat menjadi teladan bagi orang lain.

Kerusakan yang terjadi di sekeliling kita saat ini adalah karena sedikitnya orang yang memiliki karakter tersebut. Mereka mungkin menyandang sederet akademik, menulis banyak buku, tapi minim manfaat. “Kadang ada orang banyak ilmunya, tapi tidak takut kepada Allah. Atau sebaliknya, takut kepada Allah (beribadah), tapi tidak ada ilmunya,” tambah Ali.

Mengembailkan karakter keilmuwan yang sejati adalah solusi memperbaiki kerusakan di sekitar kita. Kita membutuhkan orang-orang pintar dengan karakter ulama. Ikhlas, keras bekerja, mengamalkan ilmunya dan memberikan keteladanan. Karakter-karakter harus dibangun mulai dari keluarga.

Ilmu adalah ciri peradaban, maka keluarga yang beradab adalah keluarga yang menghidupkan budaya keilmuan. Dalam skala yang lebih besar, negara adalah kumpulan keluarga-keluarga. Maka ketika keluarga itu berilmu dan berperadaban, negara akan maju dan berperadaban.

Keluarga adalah tiang dan fondasi sebuah masyarakat yang besar. Karena itu, membangun keluarga ulama merupakan sebuah kebutuhan. “Mewujudkan keluarga ulama adalah wajib dari sisi huku, dan perlu dari segi kebutuhan,” pungkas Ali. [Syahida.com]

Sumber: Majalah Ummi No. 6 | XXVI

Share this post

PinIt
scroll to top