Suamiku Jarang Menghibur dan Berbicara Romantis…

Ilustrasi. (Foto : becomegorgeous.com)

Ilustrasi. (Foto : becomegorgeous.com)

Syahida.com –Jarang sekali ia menghibur dan berbicara romantis. Bahkan, sekedar bercengkrama dengan keluarga pun ia tak pernah.”

Seorang suami harus memahami bahwa kebahagiaan istri tidak hanya terletak pada pemenuhan nafkah dan harta yang melimpah. Namun, ada faktor penting yang memiliki andil besar dalam membahagiakan dan menyenangkan istri, yakni sikap mesra.

Sikap mesra kepada istrinya dapat dilakukan dengan cara bercengkrama penuh kerinduan dan menceritakan kisah-kisah lucu.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan untuk bersikap mesra. Beliau senang kepada istri-istrinya dan berbincang dengan mereka pada malam hari sebelum tidur. Itu semua beliau lakukan di sela-sela kesibukan dan beratnya dakwah dan negara yang beliau emban.

Sa’id bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu pernah meminta izin kepada Rasulullah untuk masuk menemui beliau. Saat itu, ada beberapa wanita Quraisy yang berbicara dengan beliau dan banyak meminta.[1] Suara mereka tinggi.[2] Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu  meminta izin, para wanita itu pun segera berdiri dan bersembunyi di balik hijab. Rasulullah mengizinkan Umar masuk, sementara Rasulullah tertawa.

“Semoga Allah membuat Anda bergembira wahai Rasulullah,” kata Umar heran.

“Aku heran dengan para wanita yang ada di dekatku itu. Ketika mendengar suaramu, mereka cepat-cepat bersembunyi,” jawab Rasulullah.

“Anda, wahai Rasulullah, lebih berhak untuk mereka segani,” kata Umar, “Wahai musuh-musuh diri mereka sendiri, apakah kalian segan kepadaku dan tidak segan kepada Rasulullah?!” kata Umar.

“Ya, karena engkau lebih keras dan kasar,” jawab mereka.

Lalu Rasulullah bersabda kepada Umar:

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ketika setan bertemu denganmu di jalan, ia pasti akan menempuh jalan selain yang kamu lewati.”[3]

Begitu juga di dalam hadits Ummu Zur, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Ketika itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan sebelas orang wanita. Masing-masing dari mereka berjanji menceritakan perihal suaminya. Itu terjadi setelah isya’.

Imam Al-Bukhari juga membuat bab di dalam Kitabnya, Bab “As-Samru ma’al ahli” (bercakap-cakap setelah isya bersama istri). Renungkanlah wahai saudaraku, betapa indah pergaulan Nabi dengan istri-istri beliau. Betapa mulia akhlak beliau terhadap mereka. Bagaimana pula beliau masih menyisihkan waktu untuk bercakap-cakap di malam hari dengan istri beliau.

Hal itu di simpulkan dari perhatian Rasulullah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ia menceritakan kisah yang terjadi pada masa jahiliyyah tentang beberapa wanita yang berkumpul dan saling bersepakat menceritakan perlakuan suaminya kepada dirinya.

Qadhi Iyyadh berkata, “Dalam hadits ini terdapat tuntunan bolehnya bercakap-cakap dengan kisah lucu, cerita-cerita unik, dan hikayat sebagai hiburan untuk diri sendiri dan menerangi hati.”

Imam Tirmidzi juga membuat satu bab di dalam Kitab beliau: Bab “Ma ja’a fie kalami Rasulillahi fissamr” (Bab: penyebutan tentang sabda Rasulullah mengenai percakapan malam hari).

Sungguh, keakraban suami istri dan perasaan diperhatikan suami sangat membahagiakan dan menenangkan istri. Hal itu juga dapat menghilangkan kepenatan karena kesibukan harian seperti pekerjaan rutin di dalam rumah dan mendidik anak.

Sedangkan meremehkan semua itu berbahaya. Jika seorang wanita hanya tinggal di dalam rumah. Sementara suaminya jauh darinya selama berjam-jam, kebosanan, kepenatan, dan kesedihan akan menjalar ke dalam diri seorang istri.

Karena itu, seorang suami harus menyadari bahaya yang akan terjadi dengan bersikap mesra kepada istri, menghiburnya, dan berdialog dari hati ke hati. Bisa juga dengan membicarakan kabar terkini, peristiwa yang mengesankan, atau realitas dakwah. Atau, apa pun yang dapat menambah kemesraan suami istri.

Selain itu, suami harus meyakini istri tentang kuatnya ikatan pernikahan dan besar perhatiannya kepada istri. Dan hal itu harus benar-benar berasal dari relung hatinya yang terdalam.

Suami jangan sampai melupakan istri karena banyaknya pekerjaan. Baik itu urusan bisnis, dagang, menuntut ilmu, atau urusan dakwah. Jangan sampai semua itu membuatnya lupa akan hak istri, yakni hak untuk mendapatkan kemesraan dan hiburan.

Bagaimana mungkin ia sampaii melupakannya, padahal ada orang yang lebih sibuk dan lebih berat bebannya tetapi tetap memerhatikan urusan ini. Itulah keagungan (jiwa) yang menyeimbangkan antara tuntutan dan hak, sehingga satu pihak tidak melanggar pihak yang lain. Tapi, hak mesti diberikan kepada setiap yang berhak secara adil dan seimbang, tanpa menambah dan mengurangi.

Pada kondisi demikian, barulah bahtera kehidupan rumah tangga berjalan dengan aman di puncak ketenangan dan terjaga dari badai dan mara bahaya.

Saudaraku, berhati-hatilah, jangan sampai kehidupan dan perbuatan Anda menjadi teka-teki bagi istri. Libatkan ia dalam beberapa urusan Anda, tentu saja dalam batas-batas tertentu. Perlihatkan keadaan Anda secukupnya. Berikan waktu untuk membahagiakannya. Dengan begitu, Anda pasti mendapatkan cinta dan kepercayaannya.

Contohlah sosok suami terbaik, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Renungkan dan hayatilah petunjuk beliau dengan sungguh-sungguh dan amalkanlah. Milikilah buku-buku kisah lucu dan cerita unik karena di dalamnya terdapat bekal yang baik.[4]

-“Bercanda dan bergurau adalah contoh sikap yang dapat menghibur dan menyenangkan istri. Dari canda dan gurau inilah cinta suami dapat terjalin. Kemesraan pun bertambah dan kebahagiaan datang memenuhi seluruh penjuru rumah.”-

Bercanda dan bermain dengan istri telah diajarkan Nabi sejak dulu. Beliau juga mengajurkan hal itu kepada shahabatnya.

Jabir radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Kami pernah bersama Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam suatu peperangan. Ketika kami pulang dan mendekati Madinah, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku baru saja menikah.’

Beliau bertanya, ‘Benarkah kamu sudah menikah?’

‘Ya,’ jawabku.

Beliau bertanya lagi, ‘Perawan atau janda?’

‘Janda.’ Jawabku.

Beliau bertanya, ‘Kenapa kamu tidak menikahi perawan sehingga kamu bisa bermain-main dengannya?”

Dalam riwayat lain berbunyi, “Kenapa kamu tidak menikahi gadis supaya kamu bisa bermain-main dengannya dan ia juga bisa bermain-main denganmu?” atau bersabda, “Kamu bisa tertawa dengannya dan ia juga bisa tertawa denganmu?”[5]

Nabi tidak mengingkari seorang suami yang mengajak bercanda istrinya atau mengajaknya tertawa bersama, bahkan beliau menganjurkan hal itu, meskipun beban berat dakwah dan negara beliau pikul.

Sering kali para suami salah memahami wujud khauf (takut), komitmen, dan takwa dengan bermuka masam dan selalu serius kepada istri.

Perilaku yang mulia, tindakan yang bijaksana, dan selalu serius kepada istri.

Perilaku yang mulia, tindakan yang bijaksana, dan perasaan yang peka memiliki bahasa yang berbeda. Ia adalah bahasa perasaan yang mulia dengan sentivitas yang kuat.

Kita sangat membutuhkan bahasa ini dan melatih diri untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita secara umum dan kehidupan berkeluarga secara khusus.

Memahami bahasa ini adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan. ‘Ketika bahasa ini digunakan di rumah, siapa saja yang berada di dalam maupun di sekitarnya akan merasakan kebahagiaan.

Ketika melihat istrinya, suami langsung bisa merasakan apakah istrinya sedang bahagia atau bersedih. Ia tidak bertanya mengapa, tapi mencoba memahami istrinya bersikap seperti itu, kemudian menjadi pijakan dalam bersikap. Ia hibur istrinya dan membuatnya merasa diperhatikan. Dari sinilah kecintaan bertambah, perasaan menguat, dan ikatan semakin erat.

Sedangkan seorang istri yang melihat suaminya sedang dalam keadaan tertekan, ia tidak akan menanyakan peyebabnya karena tertekan, ia tidak akan menanyakan penyebabnya karena ia sudah tahu. Bila penyebabnya adalah penampilannya maka ia segera memperbaiki. Demikian pula penyebab yang lain ia akan segera memperbaikinya. Istri seperti ini tidak perlu menunggu suaminya mengatakan, “Kenapa kamu mengerjakan ini, atau kenapa kamu tidak mengerjakan ini?” ia sudah terlatih dengan bahasa hati dan perasaan. Ia sudah paham cukup dengan melihat isyarat. Dengan begitu, tidak ada celaan, hardikan, pertengkaran, ucapan-ucapan yang melukai dan saling tuduh.

Anak yang terlahir di tengah suasana saling pengertian juga akan hidup dalam cinta, kejernihan, etika, dan rasa malu.

Mari kita coba berbicara dengan bahasa ini. Kemudian, coba lihat bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan kita dan masyarakat kita. Mari kita mulai dari diri kita terlebih dahulu.’[6]

Aisyah berkata, “Aku pernah keluar bersama Rasulullah dalam salah satu perjalanan beliau. Ketika itu aku masih muda dan belum gemuk. Beliau bersabda kepada manusia, ‘Majulah kalian.’ Mereka pun maju. Kemudian beliau bersabda, ‘Kemarilah wahai Aisyah, aku akan mengalahkanmu dalam lomba lari.’ Lalu aku berlomba lari dengan beliau dan aku menang. Beliau terdiam.

Dan ketika aku telah gemuk, aku keluar bersama beliau dalam salah satu perjalanan beliau. Beliau bersabda kepada orang-orang, ‘Majulah kalian.’ Mereka pun maju. Kemudia beliau bersabda (kepadaku), ‘Marilah (berlomba lari), aku akan mengalahkanmu.’ Aku berkata, ‘Bagaimana mungkin aku berlomba dengan Anda wahai Rasulullah, sedangkan keadaan saya seperti ini?’ lalu beliau bersabda, “Kamu harus mau.’ Kemudian aku pun berlomba dengan beliau. Ternyata, beliau mampu mengalahkanku. Beliau pun tersenyum dan bersabda, ‘Ini sebagai balasan dari yang dulu.’[7]

Aisyah berkata, “Aku sedang bermain boneka di dekat Rasulullah. Tiba-tiba kawan-kawanku datang. Mereka segan karena wibawa Rasulullah. Kemudian beliau menyuruh satu persatu dari mereka menemuiku. Mereka pun akhirnya bermain denganku.”[8]

Aisyah berkata, “Aku pernah minum dari bejana Rasulullah. Ketika itu aku sedang haid. Beliau lalu meletakkan mulut beliau di tempat mulutku menempel pada bejana tersebut, setelah itu beliau minum. Aku juga pernaah menggigit daging dengan mulutku ketika sedang haid, kemudian aku memberikannya kepada Rasulullah. Beliau meletakkan mulutnya di tempat gigitan mulutku.”[9]

Masih dari Aisyah, ia berkata, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dari satu bejana. Aku dan beliau saling bergantian menciduk air. Ketika giliran beliau (menciduk air) aku berkata, ‘Sisakan untukku, sisakan untukku.’” Aisyah berkata, ketika itu kami sedang junub.”

Wahai para suami, koreksilah diri Anda. Lihatlah apakah Anda tipe suami yang bisa bergurau dengan istri ataukah suami yang kaku di dalam rumah.

Alkisah, ada seorang anak kecil yang berlari ke pasar. Ia ingin cepat menyampaikan kabar gembira kepada teman-temanya bahwa ia melihat ayahnya tertawa. Pasalnya, ia mengira bahwa semua ayah tidak bisa tertawa. “Ini pertama kalianya setelah tiga lebaran, aku melihat gigi-gigi ayahku (tertawa) di dalam rumah,” kata sang anak.[10]  [Syahida.com]
Sumber: Buku Suamiku, Dengarkanlah Curahan Hatiku. Isham Muhammad Syarif.

 

[1] Imam An-Nawawi berkata, ‘Makna banyak meminta adalah terhadap ucapan dan kawaban Rasulullah dengan kebutuhan-kebutuhan dan fatwa-fatawa mereka.

[2] Suara mereka meninggi. Qadhi Iyyadh berkata, “Bisa jadi ini tejadi sbelum turunya larangan untuk meninggikan suara diatas suara Nabi dan bisa jadi juga bahwa tingginya suara mereka dikarenakan perkataan mereka diucapkan secara bersama-sama, bukan masing-masing dari mereka suaranya lebih tinggi dari suara Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

[3] Muttafaqun alaih.

[4] Lihat Kaifa Tus’idu Zaujatak, karya Muhammad Abdullhalim Hamid, hlm 31-33.

[5] Muttafaqun alaih.

[6] Koran Ataqun Arabiyyatun, Mesir.

[7] HR. Ahmad dan Abu Dawud.

[8] Muttafaqun alaih.

[9] HR. Muslim.

[10] HR. Muslim.

Share this post

PinIt
scroll to top