Di Hadapan Orangtua, Seorang Anak Haruslah Tunduk dan Merendahkan Diri dengan Penuh Kasih Sayang

Ilustrasi. (Foto : proposal-ideas.com)

Ilustrasi. (Foto : proposal-ideas.com)

Syahida.com – Seseorang mengatakan kepada ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu, “Aku mempunyai seorang ibu yang telah lanjut usia dan tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidupnya selain menggantungkan semuanya kepadaku. Apakah dengan demikian aku telah menunaikan hak ibuku?” ‘Umar bin al-Khaththab menjawab, “Tidak. Sebab dulu ketika orangtuamu melakukan hal itu, ia berharap agar engkau bertahan hidup. Sebaliknya, engkau berjuang menghidupi ibumu, sementara dirimu menginginkan agar cepat berpisah dengannya. Namun bagaimana pun, engkau telah berbuat baik dan Allah akan memberi pahal ayang banyak atas perbuatan yang sedikit.”[1]

Pernah Anda memperhatikan burung besar, elang yang ditakuti oleh semua jenis burung? Bukankah ketika melayang di angkasa, ia bentangkan sayapnya yang seolah akan memenuhi cakrawala? Sebaliknya, ketika mendarat untuk memberi makan anak-anaknya atau melindungi mereka dari bahaya, si induk melipat kedua sayap, mendekatkan diri pada anak-anaknya yang masih kecil dengan penuh kelembutan, sehingga ia tampak seperti burung yang amat lemah. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari tabiat burung tersebut.

1. Secara alami, elang adalah burung yang perkasa, tetapi ia lembut di hadapan anak-anaknya. Melihat kelembutan burung tersebut, orang yang tidak tahu mengira bahwa elang adalah burung yang lemah. Demikianlah seyogyanya seorang anak memiliki kekuatan jiwa dan karakter di hadapan setiap orang, namun, tanpa harus menyombongkan diri dan angkuh. Namun di hadapan orangtua, seorang anak harus tunduk dan merendahkan diri dengan penuh kasih sayang, bukan karena merasa hina atau takut, tetapi karena rasa patuh dan kasih sayang.

2. Menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah hakikat sikap bijaksana, dan kebalikannya adalah sikap dungu. Jika anak bersikap keras kepada orangtua, tetapi lemah dan pengecut di hadapan orang. Di satu sisi hal tersebut adalah perbuatan nista dan di sisi lain perbuatan durhaka!

3. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan rasa kasih sayang (ar-Rahm), dari kata ini dibentuk asma’ Allah ar-Rahm (Maha Penyayang). Manusia yang paling berhak dikasihi dan diperlakukan dengan lembut adalah orangtua, sebab kelemahan, kerentaan, kesulitan, dan ketegaran mereka berjuang menghidupi anak di waktu kecil dan di saat dewasa. Selain itu, meski anak telah dewasa, menikah dan mempunyai anak dan anak mereka telah menjadi besar, orangtua tetap memandang mereka sebagai anak-anak. Maka jangan heran, apabila seorang ayah yang telah lanjut usia bersikap keras kepada anaknya yang telah memasuki usia tiga puluhan atau empat puluh tahun.

4. Jika Anda termasuk orang yang mahal memberi senyuman dan Anda hanya bisa tersenyum sekali dalam sehari, maka berikan senyumanmu itu kepada ibumu. Jika ada senyum yang lain, berikanlah kepada ayahmu dan senyum yang ketiga berikan kepada istrimu. Demikianlah. Tahukah Anda bahwa membuat orangtua tertawa merupakan ibadah yang tidak banyak disadari oleh kebanyakan anak, apalagi oleh kalangan yang dikatakan ‘amat taat pada agama’.

‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu anhu menuturkan, “Seseorang datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seraya berkata, ‘Aku datang kepadamu untuk berjanji setia mengikuti engkau berhijrah, tetapi ayah dan ibuku menangisi kepergianku.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kembalilah kepada mereka, buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuatnya menangis.” (HR. Abu Dawud).

#                      #                      #                      #

Seorang teman menuturkan kepada penulis sebuah kisah yang tampaknya biasa-biasa saja dan tidak terlalu istimewa bagi banyak orang; “Dalam sebuah acara keluarga, tanpa sengaja aku bertemu seorang kawan, seorang penjabat dengan pangkat yang cukup tinggi. Di sampingnya, berdiri seorang laki-laki berusia di atas lima puluh tahun yang tidak lain adalah ayahnya. Aku memberi isyarat agar ia menghampiriku. Ia memberi isyarat pula bahwa dirinya tidak bisa berlalu dan duduk di dekatku hingga ayahnya berdiri. Ketika sang ayah berdiri, ia segera menghampiriku dan aku memberikan pujian kepadanya. Dengan penuh sopan santun dan rasa malu, ia berkata padaku, ‘Maafkan aku, Demi Allah, aku tidak bisa berdiri dan melewati ayahku yang sedang duduk. Aku malu kepada ayahku, aku menghormati dan menghargai dirinya. Jika tidak, seperti engkau ketahui bahwa ayahku adalah laki-laki yang banyak disukai orang dan aku tahu dia tidak pernah menyakiti aku sekalipun!’” [Syahida.com]

  1. Dikutip dari khutbah Syaikh Shalih bin Humaid, di Masjidil Haram Mekkah.

Sumber: Kitab Keramat Hidup : Orang Tua, Musa bin Muhammad Hajjad az-Zahrani  

Share this post

PinIt
scroll to top