Kisah Nabi Yusuf (Bagian Ke-5) : Yusuf Diperjual-Belikan Sebagai Budak

Ilustrasi. (Foto : abufahmiabdullah.wordpress.com)

Ilustrasi. (Foto : abufahmiabdullah.wordpress.com)

Syahida.com

وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِن مِّصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَن يَنفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak. ‘Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf  di negeri (Mesir) dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti. Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’.” (Yusuf: 19-22).

Allah menuturkan kisah Yusuf saat diletakkan di dalam sumur, ia duduk menantikan jalan keluar dan kelembutan Allah terhadapnya. Akhirnya, musafir pun datang melintas. Ahli kitab menuturkan; barang-barang yang mereka bawa adalah kacang tanah, biji cemara, dan biji hijau, mereka datang dari Syam menuju Mesir. Mereka mengirim sebagian rombongan untuk mengambil air di sumur tersebut. Saat sebagian dari mereka memasukkan timba di dalam sumur, Yusuf bergantungan pada timba itu.

Saat melihatnya, orang yang menimba mengatakan, “Oh senangnya,” yaitu duhai senangnya, “Ini ada seorang anak muda! Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan,” yaitu mereka mengira Yusuf sebagai bagian dari barang dagangan, “Dan Alla Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan,” yaitu Allah Maha Mengetahui persengkongkolan saudara-saudara Yusuf terhadapnya, Maha Mengetahui rasa senang orang-orang yang menemukannya karena bisa mereka jual sebagai barang dagangan.

Meski demikian, Allah tidak mengubah ketetapan untuk Yusuf, karena dibalik kejadian itu terdapat hikmah agung. Takdir yang telah terdahulu dan kasih sayang terhadap penduduk Mesir melalui takdir yang Allah jalankan melalui sosok Yusuf kecil yang memasuki Mesir sebagai tawanan. Kemudian setelah itu Yusuf memegang kendali urusan-urusan besar, dan melalui sosok Yusuf, Allah memberikan manfaat pada penduduk Mesir, baik manfaat dunia maupun akhirat yang tak terbatas dan terbayangkan.

Setelah saudara-saudara Yusuf merasa bahwa rombongan musafir tersebut telah mengambil Yusuf, mereka segera menyusul para musafir tersebut, mereka berkata, “Dia ini anak budak kami yang melarikan diri.” Mereka kemudian menjual Yusuf dengan harga murah. “Yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.”

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Nauf Al-Bakkali[1], As-Suddi, Qatadah, Athiyah Al-Aufa menuturkan, “Mereka menjual Yusuf seharga 20 dirham, lalu mereka bagi satu orang dua dirham.” Mujahid mengatakan, “20 dirham.” Ikrimah dan Muhammad bin Ishaq mengatakan, “Empat puluh dirham.” Wallahu a’lam.

“Dan orang dari Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik,” yaitu perlakukan dia dengan baik, “Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak,”  inilah salah satu wujud kelembutan, kasih sayang, dan perlakuan baik Allah kepada Yusuf, karena Allah menghendaki untuk mempersiapkan dan memberikan kebaikan dunia akhirat pada Yusuf.

Para mufassir menuturkan, “Penduduk Mesir yang membeli Yusuf adalah pemimpin, tepatnya salah seorang menteri Mesir, seluruh harta simpanan dan kekayaan Mesir diserahkan kepadanya.” Ibnu Ishaq menuturkan, “Namanya Isthafir bin Ruhain. Raja Mesir saat itu adalah Rayyan bin Walid, seseorang berasal dari kabilah Amaliq. Nama istri menteri Mesir tersebut adalah Ra’il binti Ramayil.” Yang lain menyatakan, “Namanya Zulaikha.” Sepertinya, Zulaikha adalah julukannya. Yang lain menyebut Faka binti Yanus. Demikian diriwayatkan Ats-Tsa’labi dari Ibnu Hisyam Ar-Rifa’i.”[2]

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ib, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas; nama orang yang menjual Yusuf di Mesir, yaitu orang yang mendatangkan Yusuf ke Mesir lalu ia jual, adalah Malik bin Za’ar bin Nuwait bin Madiyan bin Ibrahim. Wallahu a’lam.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abu Ubaidah dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Orang yang paling tajam firasatnya ada tiga; penguasa Mesir saat berkata kepada istrinya, ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik,’  wanita yang berkata kepada ayahnya tentang Musa, ‘Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’ (Al-Qashash: 27), dan Abu Bakar Ash-Shiddiq kala menunjuk Umar bin Khaththab sebagai penggantinya’.”

Ada yang menyatakan, penguasa Mesir membeli Yusuf dengan harga 20 dinar. Yang lain menyebut senilai minyak kasturi. Ada juga yang menyebut senilai satu baju sutera. Ada pula yang menyebut senilai sekian perak. Wallahu a’lam.

Anugerah dari Allah yang Diberikan kepada Yusuf

Firman-Nya, “Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir),” yaitu Kami takdirkan penguasa Mesir dan istrinya untuk berbuat baik dan memperhatikan Yusuf, seperti itu pula Kami memberikan kedudukan baik kepadanya di negeri Mesir, “Dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi,” yaitu Kami membuatnya memahami takwil mimpi, “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya,” yaitu ketika Allah menghendaki sesuatu, Allah menakdirkan sebab-sebab dan sejumlah hal yang tidak diketahui manusia. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.”

“Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,”  ini menunjukan, semua kejadian di atas terjadi saat Yusuf belum dewasa, yaitu seumuran 40 tahun, karena dalam usia ini Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi.

Para mufassir berbeda pendapat terkait usia Yusuf ketika menginjak dewasa. Malik, Rabi’ah, Zaid bin Aslam, dan Asy-Sya’bi menyatakan, yaitu ketika Yusuf baligh. Sa’id bin Jubair berpendapat, saat Yusuf berusia 18 tahun. Adh-Dhahhak menyebut 20 tahun. Ikrimah menyebut 25 tahun. Ash-Suddi menyebut 30 tahun. Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah menyebut 33 tahun. Hasan menyebut 40 tahun. Pendapat ini dikuatkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluhan tahun.”  (Al-Ahqaf: 46). [Syahida.com]

  1. Nauf Al-Bakkali; nisbat kepada Bakkal, salah satu keturunan dari Himyar, ia adalah Nauf bin Nadhalah Al-Bakkali, putra istri Ka’ab Al-Ahbar. (Al-Lubab fi Tahdzibi Ansab, l/68).
  2. Tafsir Ath-Thabari (XII/ 99).

===========

Bersambung……

Sumber : Kitab Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Versi Tahqiq

Share this post

PinIt
scroll to top