Tips Menghadapi Orang yang Berwatak Pemarah (Bag-1)

Ilustrasi. (Foto : birojerman.berita8.com)

Ilustrasi. (Foto : birojerman.berita8.com)

Syahida.com –  Adalah seorang guru matematika di sebuah sekolah menengah atas. Ia mengajar murid-murid di kelas 3, atau tahun terakhir. Setelah beberapa bulan mengajar mereka, ia melihat kebanyakan siswanya menyepelekan mata pelajaran matematika ini dan tidak pernah ada yang mengikutinya dengan serius. Maka, suatu hari ia ingin memberikan penyadaran keras demi memperbaiki sikap mereka tersebut.

Waktunya pun tiba. Hari itu, seperti biasa ia masuk kelas dan duduk di kursi guru dengan tenang. Lalu, sesaat kemudian ia berkata, “Baiklah anak-anak, sekarang masing-masing harap meletakkan bukunya di samping meja dan keluarkan selembar kertas beserta pulpen!”

Sontak, para siswa pun terkejut. “Memang, ada apa Pak?” tanya salah seorang dari mereka.

Dia menjawab, “Hari ini, ada ulangan. Ya ulangan mendadak.” Suasana kelas pun menjadi gaduh dengan suara-suara keluhan dan berbagai macam alasan keberatan dari siswa-siswa yang merasa belum siap. Mereka pun terlihat saling pandang dan berbisik satu sama lain. Lalu, seorang siswa yang berbadan besar dan selama ini dikenal sangat badung, nakal dan pembuat onar, tiba-tiba bangkit dan berteriak keras. “Pak, pokoknya hari ini kami tidak mau ulangan, titik!” ujarnya dengan nada seperti mengancam.

“Perlu Bapak ketahui, ya, dengan persiapan saja kami belum tentu bisa menjawab dengan baik apalagi dengan tanpa persiapan seperti sekarang ini. Bapak ini bagaimana?” tambahnya dengan nada kesal dan sinis.

Ucapan tersebut membuat si guru tadi terpancing amarahnya. Maka, dengan keras pula si guru menjawab, “Itu bukan urusan saya. Dan ingat, kalian tidak boleh mengatur saya seenaknya. Pokoknya, hari ini harus ulangan, paham!”

Para siswa terdiam tak ada yang menjawab. “Kalau kamu memang tidak mau ikut, silahkan keluar dari kelas!” ujar si guru kepada siswa yang menentangnya tadi.

Karena berwatak kasar dan bengal, si siswa itu balik mengusir si guru. “Bapak saja yang keluar dari kelas ini!” ucapnya dengan nada tinggi.



Keadaan menjadi semakin tegang ketika si guru dengan serta merta bangkit dan berjalan menghampiri si murid sambil terus mencaci makinya. “Dasar murid tak beradab, tidak berpendidikan!” ucapnya berkali-kali sampai ia berada tepat di depan si murid tersebut.

Dan siswa tersebut pun berdiri dari duduknya. Sesaat kemudian, diantara keduanya terjadilah sesuatu yang tidak diceritakan di sini. Yang pasti, peristiwa tersebut sangat memalukan, karena terjadi di dunia pendidikan. Dengan kata lain, saya kira Andapun tidak perlu bertanya lebih tepat bagaimana kejadiannya waktu itu!

Sementara si guru, sejak peristiwa tersebut ia sering menjadi bahan pembicaraan yang memalukan di antara sesama guru dan juga di tengah-tengah para siswa di sekolah tersebut. Selain itu, setiapkali ia berjalan melintas di depan para siswanya, ia mendengar mereka berbisik-bisik sinis mencela dan mengkritik sikapnya. Singkat cerita, karena ia tidak kerasan dengan suasana tersebut, akhirnya ia pun pindah mengajar di sekolah lain.

Sementara itu, ada guru lain yang juga menghadapi masalah yang serupa, murid-muridnya banyak yang tidak serius mengikuti pelajarannya dan cenderung menyepelekannya. Namun, guru yang satu ini memperlakukan dan menyikapinya dengan lebih baik, atau lebih tepat.

Alkisah, dia memasuki kelas. Lalu, setelah beberapa saat mempersiapkan beberapa hal, ia berkata, “Anak-anak, mohon keluarkan selembar kertas beserta pena. Hari ini, kita akan ulangan mendadak.”

Dan sebagaimana dialami oleh di guru pada kisah pertama tadi, guru ini juga mendapati salah satu muridnya berperangai badung, kasar, nakal dan sering membuat onar. Begitu mendengar perintah tersebut, si murid ini pun berontak, “Jangan seenaknya begitu, Pak!”

Ya, si guru ini memang laksana gunung yang senantiasa sabar menahan beban beratnya orang-orang yang tengah berusaha mendaki ke puncaknya. Dia sangat paham dan menyadari bahwasanya perangai yang keras tidak seharusnya dihadapi dan disikapi dengan kekerasan pula. Maka, dia pun hanya tersenyum simpul ke arah murid yang badung tersebut seraya berkata, “Emm, jadi engkau tidak ingin ikut ulangan ini, wahai Khalid?”

“Tidak!” jawab si murid ketus

Jawaban ini ternyata tak membuat si guru terpancing emosinya. Bahkan, ia justru menghadapinya dengan sangat tenang sekali. “Baiklah, tidak apa-apa. Namun, tentu saja yang tidak mau mengikuti ulangan nantinya akan mendapatkan sanksi sebagaimana sudah tercantum dalam tata tertib sekolah,” ujar si guru dengan lembut.

Kemudian, si guru itu mulai membacakan satu persatu soal yang harus dikerjakan oleh para siswa. “Baik, tulislah soal-soal berikut ini: Pertanyaan pertama: X + Y = N + 15…”. Demkianlah, ia terus membacakan soal demi soal. Dan rupanya, si murid pembangkan tadi merasa kesal karena keberatannya tidak diperhatikan. Maka, ia mencoba menghentikan si guru yang tengah membaca soal.

“Pak, saya ‘kan sudah katakan bahwa saya tidak mau ada ulangan hari ini!” ujarnya lantang.

Namun, lagi-lagi si guru tak terpancing emosinya dengan perkataan itu. Bahkan, ia hanya meliriknya, melontarkan senyaman kepadanya, dan kemudian dengan tenang berkata, “Apakah saya memaksamu untuk mengikuti ulangan ini? Engkau adalah seorang laki-laki dan bertanggung jawab atas segala perbuatan dan tindakanmu sendiri.”

Jawaban si guru ini membuatnya tak memiliki alasan lain untuk marah. Walhasil, tidak ada pilihan bagi siswa ini selain terdiam dan kemudian mengeluarkan kertas dan pena, lalu ikut menulis soal seperti teman-temannya yang lain.

Setelah pelajaran selesai, ia dipanggil ke kantor pembinaan siswa dan mendapatkan sanksi atas sikapnya yang kurang sopan di dalam kelas tadi.

Setelah mendengar kisah di atas dan melihat perbedaan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan berbagai macam sikap dan kondisi, saya berpikir tentang kemahiran-kemahiran orang dalam menghidupkan dan mematikan bara api.

Jelasnya, dapat saya simpulkan bahwasanya melawan atau merespon suatu kemarahan (sentimen) dengan kemarahan adalah justru akan menimbulkan masalah baru yang lebih rumit dan memperuncing perselisihan yang tengah terjadi. Karena itu, benar kata orang bijak yang mengatakan bahwa barangsiapa melawan api dengan api maka dia hanya akan menambah api tersebut semakin berbahaya dan menyala-nyala. Demikian halnya dalam menyikapi suatu kebekuan. Artinya, adalah tidak tepat menghadapi sikap yang dingin dengan sikap yang dingin pula. Sebab, tindakan itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dan justru membuatnya semakin melebar.

 

Atas dasar itu, dapatlah kita simpulkan bahwasanya sepasang suami-istri tidak mungkin akan bisa menjalani kehidupan dengan harmonis apabila keduanya sama-sama bersifat keras dan pemarah. Demikian halnya dengan dua orang sahabat yang sama-sama berwatak keras dan tidak yang mau mengalah; hubungan keduanya tidak mungkin bisa bertahan lama.

===

Bersambung….

===

(Sumber : Buku “Enjoy Your Life”)

 

Share this post

PinIt
scroll to top