Dakwah adalah Undangan, Bukan Debat

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Syahida.com – Banyak dari kita yang mendengar bahwa khutbah merupakan cara terpenting berdakwah, bahwa itu adalah tanggung jawab yang diberikan Rasulullah SAW kepada kita, dan bahwa kita harus meneruskan pesan itu seluas-luasnya. Maka kita sebagai umat maupun sebagai perorangan, memikul tanggung jawab untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada siapa saja.

Sehubungan dengan itu, kita melakukan banyak kegiatan di bawah payung dakwah.

Namun sebagian kegiatan dan landasan berpikir yang digunakan, tampaknya sedikit bermasalah.

1. Dakwah bukan debat. Bangun Kredibilitas

Yang pertama, banyak yang berpandangan bahwa dakwah serupa dengan debat. Banyak pemuda melakukannya dengan orang-orang atheis, Kristen, Yahudi, Hindu, Agnost. Mereka bertanya : “Kalau orang Kristen mengatakan begini, saya harus menjawab bagaimana?” “Teman atheis mengatakan begini begini, bagaimana cara membungkamnya? Tolong beri petunjuk cara mengalahkan dia.”

Cara berpikir seperti ini, dengan dua orang terlibat debat dan berusaha saling mengalahkan, itu saja sudah merupakan masalah. Hal itu sudah bertolak belakang dengan prinsip “undangan”. Dakwah dalam Bahasa Arab, artinya adalah undangan. Kita tidak mengundang orang ke rumah kita untuk menyalahkan dia, membuatnya terlihat bodoh, atau menunjukkan betapa salahnya dia. Kalau niatnya begitu, tolong tidak usah undang saya. Karena undangan tidak begitu.

Undangan adalah sikap bersahabat, sikap hormat, sikap hangat. Allah berbicara tentang da’i secara ekstrim dalam Surat Fushilat ayat 34: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” Itulah gaya dakwah yang benar. Kita harus tahu apa itu debat. Tidak ada orang berdebat untuk bisa diyakinkan lawannya. Tidak ada seorangpun. Setiap pihak yang berdebat, pihak A dan pihak B, baik dia Muslim, Kristen, Yahudi, Atheis, Hindu, apa pun itu, ketika berdebat hanya satu yang ada di kepalanya: bagaimana menaklukkan lawan!

Kalaupun tidak dapat menangkis argumen, mereka mengerahkan seluruh energi mentalnya, bukan untuk menilai kebenaran sanggahan lawan, melainkan untuk habis-habisan mencari cara membantah. Kalau perlu, mereka akan berpikir beberapa hari untuk memberi jawaban.

Tidak ada yang mau terima, karena debat adalah pertandingan ego, bukan pencarian kebenaran. Bukan upaya menemukan kebenaran, tetapi upaya mengalahkan. Islam tidak untuk dipertandingkan, bukan untuk diperdebatkan, bukan olahraga, bukan pertunjukan.

Hal lainnya, jangan menyakinkan orang tentang kebenaran Islam hanya dengan nalar/pikiran, misalnya hanya dengan menyebarkan pamflet berisi mukjizat ilmiah, lalu kita berharap orang langsung bersyahadat. Kita berpikir, “Mengapa kalian masih tidak percaya? Semua mukjizat sudah terdaftar dalam pamflet ini yang dicetak berwarna! Apalagi yang kalian tunggu?”. Hal seperti itu, belum cukup sebagai dakwah yang baik.

Satu konsep dasar: Rasulullah SAW mulai berdakwah pada usia 40 tahun. Allah dapat saja membuat beliau menjadi rasul lebih awal, sehingga beliau bisa punya waktu lebih lama menyampaikan pesan-pesan Allah. Allah tahu berapa lama beliau akan hidup. Masa bagi beliau melaksanakan misi Islam adalah 23 tahun. Bukankah bisa saja lama dakwahnya menjadi 43 tahun, kalau dimulai ketika beliau berusia 20. Beliau bisa mulai jadi rasul pada usia 18, atau bahkan 15. Sebelum menjadi rasul, 40 tahun adalah masa membangun fondasi, sesuatu yang jarang kita pertimbangkan. Apakah fondasi itu? Yaitu kredibilitas.

Pada waktu itu, penduduk Mekah, umumnya bukan orang baik, mereka menipu dalam bisnis, pembunuh, gangster, mafia, dsb. Orang-orang tidak baik seperti mereka itu, tidak mudah memberi pujian. Tetapi mereka mengakui bahwa Muhammad SAW sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Siapa yang memberikan gelar itu? Yaitu orang-orang kafir, penjahat, kasar, yang tidak menghargai apapun. Mereka mengakui beliau jujur dan dapat dipercaya. Mereka tahu, “Kalau ada orang yang dapat dipercaya menjaga barang-barang kita, dialah orangnya.” “Kalau ada yang selalu mengatakan hal-hal dengan benar, dialah orangnya.” “Dia dapat dipercaya, dapat diandalkan.”

Allah membuat kredibilitas beliau terlihat di tengah masyarakat, sebelum mengangkat beliau menjadi duta bagi pesan-pesan-Nya yang sempurna. Dari situ kita belajar bahwa dakwah menyangkut dua hal: pesan kredibel, melalui orang kredibel. Dua hal itu.

Tapi sekarang, apa yang sedang terjadi? Muslimin yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang menjadi dokter, guru, pemilik bisnis, rekan bisnis, mahasiswa, atau apapun, bayangkan kalau kita diam tentang Islam, dan kita berperilaku seperti biasa tanpa perubahan, apakah masyarakat di sekitar kita akan melihat kita dapat dipercaya dan jujur, sebelum kita bicara lainnya? Sekalipun tidak kenal agama kita, setidaknya mereka perlu melihat bahwa kita dapat dipercaya dan jujur. Bahwa kita dapat diandalkan, apapun yang terjadi.

Itukah cara menyampaikan pesan yang sedang kita berikan? Melalui perilaku kita, dengan cara kita berbisnis? Dengan cara kerja kita? Bila tidak, jangan bicara dulu! Bangun kredibilitas kita dulu. Itulah yang paling utama untuk dibangun. Kalau tidak, kita hanya beromong kosong. Kalau cara berbisnis kita jelek, tidak etis dalam kehidupan profesional, selalu terlambat 40 menit, lantas kita berdakwah pada rekan-rekan kerja, mereka akan berpikir, “Kamu sendiri digaji penuh tapi selalu datang terlambat, lalu kamu mau mengajari kami pesan-pesan luhur untuk adil dan akuntabel? Kamu bahkan tidak akuntabel pada bos yang terlihat, bagaimana kamu mau mengajari kami akuntabel pada Tuhan yang tidak terlihat? Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Kamu tidak punya kredibilitas.” Ini masalah serius yang harus kita tangani.

Lihat kredibilitas kita dalam keluarga. Islam adalah pesan luar biasa tentang keluarga. Kalau keluarga kita sendiri kacau, lantas pesan kemanusiaan apa yang bisa kita sampaikan? Apa yang kita bicarakan? Kalau kita punya masalah dengan mertua, dengan istri, kalau perbincangan dengan ayah tidak bisa lebih dari 5 menit, pesan Islam apa yang hendak kita sampaikan kepada orang lain? Coba instrospeksi dulu. Coba kembali pada hal yang paling dasar.

Pada para pemuda yang terlibat dalam diskusi tentang Islam, mohon dengan amat sangat, jagalah jangan sampai emosi. Walau tak enak seperti apapun, tersinggung seperti apapun, sekasar apapun kata-kata lawan bicaramu, jangan sampai terpancing ikut menjadi kasar atau marah. Jangan biarkan diri tersinggung.

Membiarkan diri dikuasai emosi, justru akan menjadi bukti bahwa posisi kita lemah, bahwa kita bicara berdasar emosi, dan itulah yang membuat kita kesal. Firaun marah pada Musa, tapi Musa tidak marah pada Firaun. Musa a.s tetap tenang. Firaun lepas kendali dan murka, “Kamu berani lancang! Akan saya penjarakan kamu!”. Firaun yang kehilangan kendali.

2. Dakwah memakai pikiran dan hati

Hal kedua adalah bahwa Islam bukan hanya tentang nalar/pikiran. Anggapan itu tidak adil, tidak layak, bagi kitab Allah. Qur’an adalah sumber spiritual yang tak terhingga. Itu adalah kitab spiritual yang membersihkan hati.

Pada saat yang sama, Qur’an juga sumber kebijaksanaan intelektual yang tak terhingga. Dua hal itu sekaligus. Tidak ada kitab lain yang seperti itu. Kitab spiritual dan intelektual sekaligus. Tapi inilah kitab Allah. Surat 3: 191: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Mengingat Allah (berdzikir) dilakukan dengan hati. Di sisi lain mereka memikirkan secara mendalam tentang penciptaan langit dan bumi. Mereka berpikir tentang penciptaan di sekitar mereka. Berpikir dilakukan dengan nalar/otak. Jadi, hati dan nalar; keduanya disebut dalam kitab ini. Adalah salah kalau kitab Allah disampaikan tanpa unsur spiritual. Kita menyalahi Qur’an bila menyampaikannya secara rasional saja tanpa memperhatikan integritas spiritualnya. Sama salahnya kalau pesan-pesan Al Qur’an disampaikan tanpa memperhatikan integritas intelektualnya. Jangan bicarakan Qur’an secara dangkal. Pahami apa yang kita bicarakan. Kalau perlu, tanya ulama. Pahami kedalamannya.

Qur’an terutama menyeru kita untuk sesuai dengan sifat-sifat alami kita, sesuatu yang tidak asing. Sifat-sifat alami dimiliki semua manusia. Qur’an menyeru kita kembali ke fitrah, sesuatu yang sudah kita miliki, sesuatu yang orisinil/asli, bukan sesuatu yang baru. Banyak orang memandang Islam sebagai sesuatu yang baru, datang dari tempat lain, jahat, asing, bukan dari kita. Allah memberitahu kita bahwa Islam adalah tentang keaslian diri kita. Kita diajak kembali menjadi diri kita yang asli, menemukan kembali kemanusiaan kita yang asli, kembali menjadi manusia yang selaras dengan alam. Dakwah kita harus berubah ke bentuk yang seharusnya. Jangan biarkan pandangan-pandangan yang salah mengotori wacana kita sendiri.

Semoga Allah membuat kita orang-orang yang mampu berdakwah. Semoga Allah memberi kita karakter kredibel, yang bisa dipercaya, sehingga sekalipun mulut tidak bicara tentang Islam, kita sangat lantang menyuarakan Islam melalui karakter kita. Cara kita bergaul di masyarakat, dengan tetangga, keluarga, rekan-rekan bisnis, mitra bisnis, itu saja dapat memperlihatkan pada semua orang, siapa panutan kita, yaitu Nabi Muhammad Rasulullah SAW. [Syahida.com/ANW]

Sumber: Ust. Nouman Ali Khan

Share this post

PinIt
scroll to top