Di Antara Orang-Orang Mukmin, yang Paling Utama Imannya Adalah Yang Paling Baik Akhlaknya

Ilustrasi. (Foto: kristolog.com)

Ilustrasi. (Foto: kristolog.com)

Syahida.com – Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dipilih oleh Allah dari rumpun yang termulia, dan dipelihara oleh Allah pada masa kecilnya dan masa remajanya, sampai dipilih menjadi seorang pemberi kabar gembira dan peringatan, beliau dipelihara dan dididik dengan sebaik-baiknya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya:

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf: 199).

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS. An Nahl: 90)

Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah.” (QS. Luqman: 17).

Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Kitab suci Al Qur’an adalah sumber akhlak beliau. Saa’ad bin Hisyam berkata: Aku menghadap Aisyah r.a dan aku bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

‘Aisyah r.a berkata: “Apakah kamu membaca Al Qur’an?”

Aku menjawab:  “Ya, aku membacanya.”

Aisyah berkata, “Akhlak beliau adalah Al Qur’an.”

Bagaimana beliau tidak berada di puncak akhlak yang mulia dan kelakuan yang terpuji? Sungguh beliau di atas puncak ini, akan tetapi beliau suka menambah, sehingga dalam doanya beliau mengucapkan, yang artinya:

Ya Allah, sebagaimana engkau menjadikan badanku baik, maka jadikanlah pula akhlakku baik, ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak yang mungkar, ya Allah tunjukkanlah kepadaku akhlak yang terbaik, karena hanya Engkaulah yang menunjukkan kepada akhlak yang terbaik.”

Dan beliau menghubungkan akhlak yang luhur dengan risalahnya, beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Beliau selalu menyeru kepada kaum muslimin agar mereka memiliki sifat-sifat yang utama dan menjauhi sifat-sifat yang rendah. Banyak hadits-hadits yang berhubungan dengan ini di antaranya:

1. “Sesungguhnya orang yang sangat dicintai dan sangat dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang Islam, yang paling baik akhlaknya di antara kamu sekalian, suka menerima tamu, senang kepada orang dan disenangi orang.”

2. “Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik dapat menyusul derajat orang yang puasa yang beribadah di malam hari.”

3. “Kebahagiaan seseorang terletak pada budi pekerti yang baik.”

4. “Sebahagian besar manusia yang masuk surga ialah karena taqwa kepada Allah dan berakhlak baik.”

5. “Sesungguhnya kamu tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia hanya dengan harta benda kamu saja, tetapi cukupilah mereka dengan wajahmu yang ramah dan akhlakmu yang baik.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya:

“Manakah di antara orang-orang mukmin yang paling utama imannya? Beliau menjawab: ialah orang yang baik akhlaknya.”

Dari hadits-hadits terebut dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menghubungkan akhlak yang utama dengan beragama dan bertaqwa dengan hubungan yang kuat. Oleh karena itu ketika ada seorang lelaki datang kepada beliau dan bertanya di mukanya, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah apakah agama itu?” Beliau menjawab, “Agama ialah akhlak yang baik.” Kemudian orang itu menghadap dari arah belakang dan berkata, “ Wahai Rasulullah apakah agama itu?” Beliau menoleh kepadanya dan berkata, “Apakah engkau belum mengerti? Agama ialah engkau tidak boleh marah.”

Dari hadits-hadits tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa akhlak yang buruk bisa menghapus kebajikan dan merusak ketaatan. Ada orang bertanya kepada beliau bahwa si Fulan berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari, tetapi dia berakhlak yang buruk yaitu menganggu tetangganya dengan lisannya, beliau menjawab orang demikian tidak baik, dia termasuk ahli neraka. Dan beliau bersabda, “Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang buruk akhlaknya akan berada di tingkat yang paling bawah di neraka jahanam.”

Beliau bersabda, “Kesialan itu ialah akhlak yang buruk.”

Karena kegemarannya kepada akhlak yang luhur, beliau membebaskan seorang wanita puteri Hatim Ath-Tha’i yang menjadi tawanan, hanya sebagai pembalasan kepada ayahnya yang baik budi pekertinya. Ketika wanita itu datang kepada Nabi bersama para tawanan Tha’i dia berkata, “Wahai Muhammad kiranya engkau membebaskan diriku dan janganlah sampai sebahagian orang Arab bergembira karena aku ditawan. Sesungguhnya aku ini adalah puteri pemimpin kaumku dan sesungguhnya dia adalah pembela rakyatnya, suka membebaskan tawanan, suka memberi makan orang-orang yang lapar, suka memberikan makanan dan tidak pernah menolak permintaan orang-orang yang memerlukan pertolongan. Aku adalah puteri Hatim Ath-Tha’i. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Wahai gadis remaja, inilah sifat-sifat orang mukmin yang sesungguhnya, sekiranya ayahmu seorang muslim maka aku akan mohonkan rahmat baginya.” Lalu Rasulullah memerintahkan, “Bebaskanlah dia, karena ayahnya adalah seorang yang menyukai akhlak yang baik dan sesungguhnya Allah menyukai akhlak yang baik.”

Maka berdirilah Abu Burdah bin Nayyar seraya berkata, “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, apakah Allah menyukai akhlak yang baik?” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Demi Dzat Yang menguasai diriku, tidak ada yang masuk surga kecuali orang yang baik akhlaknya.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai akhlak yang baik sebagaimana kegemaran beliau kepada menyampaikan risalahnya dan taat serta taqwa kepada Allah. Beliau adalah suri tauladan yang tinggi dalam segala sifat-sifat yang utama. Oleh karena itu sudah sepantasnya beliau memperoleh pujian dari Allah SWT dalam kitab suci Al Qur’an: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. AL Qolam: 4).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” (QS. Al Haqqah: 38-40).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Kiranya cukuplah penghormatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia bersumpah dengan umur beliau seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an, “Demi umurmu (Muhammad) sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).” (QS. Al Hijr: 72).

Allah tidak pernah bersumpah dengan kehidupan seseorang selain Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kiranya cukuplah bagi kita mengutip kata-kata Ali bin Abi Thalib ketika memberi sifat kepada beliau: Sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling pemurah, hatinya paling berani, kata-katanya paling jujur, paling menepati janji, paling baik pergaulannya, orang yang baru kenal dengan beliau akan merasa segan dan orang yang telah bergaul dengan beliau tentu mencintainya. [Syahida.com /ANW]

Sumber: Kitab Akhlak Nabi Muhammad SAW Keluhuran dan Kemuliaannya, Oleh: Ahmad Muhammad Al Hufy, Penerjemah: Prof. Drs. K.H Masdar Helmy, Penerbit: Gema Risalah Press

Advertisements
scroll to top