Melimpahnya Harta Benda Bukanlah Tanda Adanya Ridha Allah

Syahida.com

وَلَوْلَا أَن يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِالرَّحْمَـٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ ﴿٣٣وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ ﴿٣٤﴾ وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْآخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

Ilustrasi. (Foto: blacktomato.com)

Ilustrasi. (Foto: blacktomato.com)

“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. (QS. 43: 33) Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. (QS. 43: 34) Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. 43: 35).

Kemudian Allah SWT berfirman; وَلَوْلَا أَن يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً “Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran),” yakni, sekiranya bukan untuk menghindari keyakinan kebanyakan manusia bodoh (bahwa melimpahnya harta kekayaan adalah bukti kecintaan Allah SWT kepada mereka), lalu mereka berkumpul di dalam kekafiran demi harta kekayaan, لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِالرَّحْمَـٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ  “Tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Rabb Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga.” Makna ini adalah perkataan Ibnu ‘Abbas r.a, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan as-Suddi 1

Yang dimaksud dengan “loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga,” adalah meliputi juga yang lainnya, yakni terbuat dari perak. Demikian yang dikatakan Ibnu ‘Abbas r.a, Mujahid, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid, 2 dan yang lainnya.

Firman Allah SWT, عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ “Yang mereka menaikinya.” Lafazh يَظْهَرُونَ berarti yash’aduun yakni menaikinya وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا “Dan Kami buatkan pula pintu-pintu bagi rumah-rumah mereka,” yakni kami jadikan kunci-kunci pada pintu-pintu rumah mereka, وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ “Dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan di atasnya.” Dan semua itu terbuat dari perak. وَزُخْرُفًا “Dan perhiasan-perhiasan.” Yakni emas. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid. 3

Kemudian Allah SWT berfirman; وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا “Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia,” yakni, yang semu, segera sirna, dan hina menurut pandangan Allah SWT. Dia menyegerakan kebaikan-kebaikan yang mereka (orang-orang kafir) usahakan di dunia, meliputi makanan minuman, dan lain-lain, sebagai pengganti dari balasan akhirat yang disegerakan kepada mereka di dunia. Dengan begitu, tidak ada satu kebaikan pun yang mereka miliki di sisi Allah SWT yang akan dibalas oleh Allah dengan pahala akhirat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih. 4 Dan disebutkan pula dalam hadits yang lain;

Sekiranya dunia itu setara dengan berat sayap nyamuk di sisi Allah [menunjukkan betapa hinanya dunia], tentu Dia tidak memberi minum seorang kafir pun, meski seteguk air.” 5

Imam al-Baghawi menyebutkan hadits ini dengan sanadnya. 6

Kemudian Allah SWT berfirman; وَالْآخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ “Dan kehidupan akhirat itu di sisi Rabb-mu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” Yakni, kehidupan akhirat itu khusus bagi mereka, tidak ada seorangpun selain mereka.

Rasulullah SAW meng-iilaa’ (bersumpah untuk tidak mencampuri) istri-istri beliau selama sebulan. Lalu ‘Umar bin al-Khaththab r.a memberikan bejana tempat minum kepada beliau. Ketika itu ‘Umar melihat bekas tikar pada tubuh beliau, sehingga segera saja kedua matanya menangis. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) berada dalam (kemewahan) yang meliputi keduanya, sedangkan engkau adalah manusia pilihan Allah, (namun kondisinya seperti ini).”

Ketika itu beliau bersandar, kemudian duduk tegak dan bersabda;

“Apakah kamu berada di dalam keraguan wahai ‘Umar?” Kemudian beliau bersabda; “Mereka itu adalah suatu kaum yang disegerakan kebaikan mereka di dalam kehidupan dunia.” 7 Di dalam satu riwayat; “Tidakkah kamu ridha apabila dunia itu menjadi milik mereka dan akhirat menjadi milik kita.” 8

Dalam Shahiih al-Bukhari dan Muslim dan kitab yang lain juga disebutkan, bahwa beliau SAW bersabda;

Janganlah kalian meminum dengan menggunakan cangkir emas dan perak, dan janganlah makan dengan menggunakan piring dari keduanya, sebab keduanya adalah diperuntukkan bagi mereka (orang-orang kafir) di dunia dan diperuntukkan bagi kita di akhirat.” 9

Adapun Allah memberikan kenikmatan kepada mereka di dunia, karena kehinaan dunia itu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari jalan Abu Hazim, dari Shal bin Sa’d, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda;

“Sekiranya dunia itu setara dengan berat sayap nyamuk di sisi Allah, tentu Dia tidak memberi minum (yang diambil) dari dunia ini kepada seorang kafir pun, meski seteguk air selama-lamanya.” At-Tirmidzi berkata, ini hadits hasan shahih.” [Syahida.com/ANW]

——

1 Ath-Thabari (XXI/595)

2 Ath-Thabari (XXI/600)

3 Ath-Thabari (XXI/601, 602)

4 Muslim (IV/2162) [Muslim (No. 2808). Dari hadits Anas r.a].

5 At-Tirmidzi (VI/611). [At-Tirmidzi (No. 2320). Shahih; lihat Shahihul Jaami’ (No. 5292)]

6 Al-Baghawi (IV/138)

7 Muslim (II/110) [Muslim (No. 1479)]

8 Muslim (II/113) [Muslim (No. 1479)]

9 Fat-hul Baari (IX/465). Muslim (III/1637). [Al-Bukhari (No. 5426) dan Muslim (No. 2067)]

==

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 8, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Share this post

PinIt
scroll to top