Tempat Penimbangan Amal Merupakan Salah Satu Tempat Paling Mengerikan pada Hari Kiamat

Ilustrasi. (Foto: beritariau.com)

Ilustrasi. (Foto: beritariau.com)

Syahida.com – Sesungguhnya, tempat yang paling mengerikan pada hari Kiamat adalah tempat penimbangan amal, karena seorang hamba akan melupakan keluarga yang dicintainya dan akan sibuk dengan dirinya sendiri. Ini disebabkan rasa takut yang sangat, karena amal perbuatan akan ditimbang dengan penentuan apakah ia masuk surga ataukah neraka.

Menurut Imam Ahmad, Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah. Apakah Anda ingat akan keluarga Anda pada hari Kiamat?” Rasulullah menjawab, “Tidak di tiga tempat: catatan, timbangan (mizan) dan jembatan.”

Yang dimaksud dengan catatan adalah fase ketika manusia diberi catatan amalnya, apakah diambil dengan tangan kanan ataukah dengan tangan kirinya.

Karena tempat penimbangan amal merupakan salah satu tempat paling mengerikan pada hari Kiamat, Rasulullah akan hadir untuk memberikan syafaat kepada umat beliau di sana.

Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, syafaatku untuk umatku yang melakukan dosa-dosa besar. Adapun orang-orang yang berbuat kebajikan, mereka tidak perlu syafaatku.” Ini terjadi karena rahmat Allah terhadap umat Nabi Muhammad dan bukti kecintaan Rasulullah SAW.

Said bin Zubair berkata, “Pada hari Kiamat nanti, manusia akan dihisab. Barangsiapa yang amal kebajikannya terpaut satu saja lebih banyak daripada amal keburukannya maka ia masuk surga. Barangsiapa yang amal keburukannya terpaut satu saja lebih banyak daripada amal kebajikannya maka ia masuk neraka.” Ia kemudian membaca, “Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al Mu’minun: 102-103). Setelah itu, ia berkata, “Sesungguhnya, berat dan ringannya timbangan itu bisa ditentukan hanya oleh sebutir biji saja. Barangsiapa yang bobot amal kebaikannya sama dengan bobot amal keburukannya maka ia termasuk golongan Ashab al-A’raaf.”

Allah SWT berfirman,

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.(‘Abasa: 34-37).



Ibnu Katsir menafsirkan surah ‘Abasa ayat 33-37, “Perbuatan hamba akan ditimbang. Berkuranglah satu kebaikan dan ia harus memberatkan timbangan kebaikannya. Allah berfirman, ‘Wahai, hambaku. Lihatlah ke dalam Mahsyar. Semoga kamu mendapatkan siapa yang akan memberimu kebaikan.’ Dia lalu pergi dan datang kepada saudaranya lalu berkata, ‘Wahai, saudaraku. Kamu adalah saudaraku dan anak ibu dan bapakku. Sungguh, telah kurang kebaikanku dengan satu kebaikan. Berikanlah kepadaku satu kebaikan yang bisa memberatkan kebaikanku.’ Berkata saudaranya, ‘Aku takut terhadap apa yang kamu takutkan. Untuk itu, aku tidak akan memberikan kepadamu.’ Ia lalu meninggalkannya dan berlalu. Kemudian ia mendatangi ibunya dan berkata, ‘Wahai, Ibu. Engkau adalah ibuku dan manusia yang paling baik kepadaku di dunia. Aku sekarang sedang membutuhkan satu kebaikan yang akan memberatkan timbanganku. Berilah aku satu kebaikan.’ Ibunya berkata, ‘Aku takut terhadap apa yang engkau takutkan. Aku tidak akan memberikan kepadamu.’ Dia lalu mendatangi ayahnya lalu meminta seperti yang diminta kepada saudara dan ibunya, tetapi ayahnya menjawab dengan jawaban yang sama. Dia lalu mendatangi istrinya dan berkata, ‘Wahai, istriku. Aku telah lama bersamamu di dunia dan aku rindu kepadamu. Telah berkurang bagiku satu kebaikan yang seharusnya memberatkan timbangan kebaikanku. Berilah kebaikan kepadaku.’ Istrinya menjawab, ‘Aku takut terhadap apa yang kamu takutkan.’ Dia lalu mendatangi anaknya, tetapi jawaban anaknya pun sama, tidak mau memberikan dengan alasan takut terhadap apa yang ditakutkan oleh ayahnya.

Dia lalu datang kepada Tuhannya dengan rasa takut karena tidak membawa satu kebaikan, sedangkan keluarganya yang paling dekat tidak mau memberikan kebaikan kepadanya. Dia berkata, ‘Wahai, Tuhanku. Aku telah meminta kepada saudaraku, ibuku, ayahku, istriku dan anakku, tetapi semuanya tidak ada yang mau memberikan kepadaku.’ Allah berkata kepadanya, ‘Aku lebih pemurah dari mereka. Masukkanlah di ke surga, wahai malaikatku!’”. [Syahida.com/ANW]

==

Sumber: Kitab Ensiklopedia Kiamat, Penulis: Tim Gema Insani, Penerbit: Gema Insani

Share this post

PinIt
scroll to top