Tabi’at Orang-Orang Munafiq adalah Mengangkat Orang-Orang Kafir Menjadi Pemimpin

Syahida.com –

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿١٣٨﴾ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّـهِ جَمِيعًا ﴿١٣٩

Ilustrasi. (Foto: mebiso.com)

Ilustrasi. (Foto: mebiso.com)

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’: 138-139)

‘Serangan’ dimulai dengan sindiran yang jelas sekali dengan menggunakan kalimat بَشِّرِ (kabarkanlah) menggantikan kalimat “andzir” yang berarti peringatkanlah. Kemudian menjadikan siksaan yang pedih yang sedang menanti orang-orang munafiq sebagai berita gembira! Kemudian penjelasan mengenai penyebab siksaan yang pedih ini. Yaitu tindakan mereka yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman penolong dan meninggalkan orang-orang yang beriman, sangkaan mereka yang buruk terhadap Allah dan pandangan mereka yang salah mengenai sumber kemuliaan dan kekuatan.

Orang-orang kafir yang disebutkan di sini, menurut pendapat yang paling kuat, adalah orang-orang Yahudi yang menjadi tempat berlindung dan bersembunyi bagi orang-orang munafiq ketika itu. Di situlah mereka bersama-sama merancang berbagai macam makar untuk menghadapi umat Muslim.

Dengan nada kecaman Allah mempertanyakan:

Mengapa mereka mengambil orang-orang kafir sebagai teman penolong sementara mereka mengaku beriman? Mengapa mereka memposisikan diri mereka pada posisi ini? Mengapa mereka mengambil sikap ini? Apakah mereka mencari kekuatan dan kemuliaan di sisi orang-orang kafir? Allah semata yang memiliki kekuatan tersebut sehingga tidak akan bisa didapatkan kecuali oleh orang yang menjadikan Allah sebagai penolongnya, meminta kekuatan tersebut dari Allah dan bersandar kepada perlindungan-Nya.

Demikianlah sentuhan pertama ini menyingkap tabi’at orang-orang munafiq dan sifat mereka yang pertama. Yaitu mengambil orang-orang kafir sebagai teman penolong dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Sentuhan pertama ini juga menyingkap kesalahan persepsi mereka mengenai hakikat kekuatan dan ketidakpunyaan orang-orang kafir akan kemuliaan dan kekuatan yang dicari di sisi mereka oleh orang-orang munafiq itu. Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan itu hanya kepunyaan Allah semata. Kekuatan hanya bisa didapatkan di sisi Allah. Sementara yang lain tidak punya kekuatan dan kemuliaan!

Ketahuilah bahwa hanya dengan satu sandaran bagi jiwa manusia, maka dia akan mendapatkan kekuatan. Jika ia bersandar kepada sandaran tersebut, maka dia akan menjadi lebih tinggi dari yang lainnya. Ketahuilah bahwa hanya dengan satu ‘ubudiyah (penghambaan), jiwa manusia akan terhormat dan hidup bebas. Yaitu penghambaan kepada Allah semata. Jika batin seseorang tidak mantap menyembah Allah, maka dia akan diperhamba oleh berbagai macam nilai, berbagai macam tokoh, berbagai macam pertimbangan, dan berbagai macam ketakutan. Padahal penghambaannya kepada seseorang, kepada sesuatu dan kepada pertimbangan  tersebut tidak akan bisa melindunginya dari apa-apa. Tidak ada pilihan selain menyembah Allah yang berarti ketinggian, kemuliaan, dan kebebasan. Atau menyembah hamba Allah yang berarti kehinaan, dan keterbelengguan. Silahkan pilih mana yang Anda senangi.

Tidak mungkin seorang Mu’min mengharapkan kemuliaan dari selain Allah sementara dia Mu’min. Tidak mungkin dia meminta kemuliaan, kemenangan dan kekuatan dari sisi musuh-musuh Allah sementara dia Mu’min. Orang-orang yang mengaku Islam dan memakai nama Muslim, tetapi meminta bantuan kepada musuh Allah yang paling keras di dunia, sungguh perlu mendalami isi Al Qur’an ini. Jika mereka masih punya keinginan untuk menjadi orang Islam. Jika tidak, maka ketahuilah bahwa Allah tidak membutuhkan apa-apa dari alam semesta ini! [Syahida.com/ANW]

==

Sumber: Kitab Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an Di Bawah Naungan Al Qur’an (Jilid 3), Karya: Sayyid Quthb, Penerjemah: M.Misbah, Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc., Penerbit: Robbani Press

Share this post

PinIt
scroll to top