Rezeki Allah Bagi Orang yang Mencari Dunia dan Bagi Orang yang Mencari Akhirat

Ilustrasi. (Foto: digaleri.com)

Ilustrasi. (Foto: digaleri.com)

Syahida.com –

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖوَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿٢٠

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)

Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya, dan memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memberi rezki kepada yang saleh atau yang thalih (bejat), dan kepada mukmin atau kafir, karena manusia itu terlalu lemah untuk memberi rezki kepada diri mereka sendiri. Allah-lah yang memberi mereka kehidupan, dan menjamin faktor-faktor utamanya.

Seandainya Allah menghentikan rezeki-Nya kepada orang kafir, fasik, dan thalih, maka mereka tidak mampu memberi rezki kepada diri mereka sendiri, dan mereka pasti mati karena lapar, tidak punya pakaian dan haus, serta tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar. Tetapi, hikmah Allah menetapkan untuk menghidupkan mereka dan memberi mereka kesempatan untuk berbuat di dalam kehidupan dunia apa yang akan dihisab di akhirat. Karena itu, Allah mengeluarkan rezki dari lingkaran kebaikan dan kebejatan, iman dan kultur; mengaitkannya pada faktor-faktor yang diperoleh melalui kondisi-kondisi kehidupan secara umum dan kesiapan-kesiapan individu secara khusus; serta menjadikannya sebagai ujian dan manusia akan memperoleh balasannya pada hari pembalasan.

Kemudian Allah menjadikan akhirat dan dunia sebagai dua ladang, sedangkan manusia boleh memilih mana yang disukainya. Barangsiapa menginginkan ladang akhirat, maka ia harus bekerja untuknya, dan Allah pun menambahkan ladangnya, menolongnya untuk menumbuhkannya, dan memberkahinya karena amalnya. Selain memperoleh ladang akhirat, ia juga memperoleh rezki yang telah ditetapkan untuknya di bumi tanpa terhalang sedikit pun darinya. Bahkan, rezki yang diberikan Allah di bumi ini bisa jadi merupakan ladang akhirat itu sendiri bagi dirinya, ketika ia mengharapkan ridha Allah saat ia mengembangkannya, membelanjakannya, menikmatinya, dan menginfakkannya.

Dan barangsiapa menginginkan ladang dunia, maka Allah memberinya rezki yang telah ditetapkan baginya tanpa terhalangi sedikit pun, tetapi ia tidak punya bagian di akhirat, karena ia tidak berbuat sesuatu di ladang akhirat yang bisa diharapkan untuk memperoleh bagian darinya!

Dengan melihat para pencari ladang dunia dan para pencari ladang akhirat, maka tersibaklah kebodohan orang yang menginginkan ladang dunia! Karena rezki dunia pasti diberikan Allah kepada mereka semua. Masing-masing memperoleh bagiannya dari ladang dunia sesuai yang ditakdirkan baginya dalam pengetahuan Allah. Lalu, tinggal-lah ladang akhirat yang diberikan secara khusus kepada orang yang menginginkannya dan beramal untuknya.

Di antara para pencari ladang dunia itu kita mendapati orang yang kaya dan orang yang miskin; sesuai faktor-faktor diperolehnya rezki yang terkait dengan kondisi-kondisi umum dan kesiapan-kesiapan individual. Begitu juga, kita mendapati kondisi demikian para pencari ladang akhirat. Jadi, di bumi ini, tidak ada perbedaan di antara kedua kelompok itu dalam masalah rezki. Perbedaan itu hanya tampak di sana! Siapa gerangan orang bodoh itu yang meninggalkan ladang akhirat, padahal sikapnya yang meninggalkan ladang akhirat ini tidak mengubah sesuatu pun di dalam kehidupan ini?

Pada akhirnya, perkaranya terkait dengan kebenaran dan timbangan yang dengannya Al Qur’an turun di sisi Allah, karena kebenaran dan keadilan tampak jelas pada takdir rezki bagi semua makhluk hidup, pada tambahan ladang akhirat bagi yang menghendakinya, dan pada kerugian orang-orang yang menginginkan ladang dunia karena tidak memperoleh ladang akhirat pada hari pembalasan. [Syahida.com/ANW]

===

Sumber: Kitab Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an Di Bawah Naungan Al Qur’an (Jilid 10), Karya: Sayyid Quthb, Penerjemah: M.Misbah, Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc., Penerbit: Robbani Press

Share this post

PinIt
scroll to top