Istriku, Jangan Biarkan Aku Sendiri dalam Bergerak dan Bertindak, juga dalam Berjuang dan Berpikir

Ilustrasi. (Foto: quotesfunworld.blogspot.com)

Ilustrasi. (Foto: quotesfunworld.blogspot.com)

Syahida.com – Kehidupan adalah sebuah pertempuran besar yang membutuhkan persiapan, perlengkapan, dan sokongan. Benar, sesungguhnya, kehidupan adalah sebuah pertempuran besar yang dimulai oleh manusia semenjak lahir sampai ke penghujung kehidupan.

Pertempuran besar ini memerlukan ilmu, pengetahuan, pengalaman, musyawarah, harta, kesabaran, usaha, perjuangan, dan ketegaran yang berbeda dari satu orang ke orang yang lain, dari satu lingkungan ke lingkungan yang lain, dan dari satu masa ke masa yang lain.

Akan tetapi, semua orang sepakat mengatakan bahwa ini adalah pertempuran besar. Tidak ada seorang pun yang menyalahi pendapat ini. Bahkan, orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan yang kaya dan mewah, yang dirinya tidak disibukkan dengan usaha untuk mencari sesuap nasi dan mengatur berbagai tuntutan nafkah kehidupan serta berbagai kebutuhan primer kehidupan, juga tidak pernah merasakan berat dan sulitnya memenuhi tuntutan kehidupan, mereka juga menyadari hakikat kehidupan ini yang telah disepakati oleh semua manusia.

Jika hakikat kehidupan adalah sebuah pertempuran besar, apakah kaum laki-laki terus berada sendirian untuk menjadi seorang pejuang dan perwira dalam pertempuran ini, tanpa ada peran dan keikutsertaan kaum perempuan dalam menghadapi pertempuran ini, sesuai dengan kadar energi, persiapan dan kemampuannya?

Ataukah kaum perempuan meninggalkan pertempuran ini dan menyerahkannya kepada kaum laki-laki untuk berperang sendirian, sedangkan kaum perempuan terus hidup dalam kehidupan yang marginal, yang jauh sekali dari medan pertempuran ini?

Ataukah dia sama sekali mengundurkan dirinya dari pertempuran dan menyerahkannya kepada kaum laki-laki karena dia mengetahui bahwa pertempuran ini adalah pertempuran milik semua kaum laki-laki, yang terus dia hadapi dan dia lawan, demi mendapatkan dan memperoleh kemenangan?

Bukankah kaum perempuan adalah partner dan saudara sekandung kaum laki-laki dalam menghadapi kehidupan? Lalu, mengapa dia tinggalkan kaum laki-laki sendiri dan kesepian dalam menghadapi pertempuran ini?

Bukankah kehidupan bagi kaum perempuan juga adalah percobaan dan pertempuran besar?

Kaum perempuan harus mempergunakan berbagai senjata yang dapat membuatnya kuat untuk berperang dengan penuh percaya diri dan tegar sehingga dia keluar dari pertempuran dengan membawa kemenangan, insya Allah.

Jika kehidupan adalah sebuah pertempuran besar bagi kaum laki-laki, sebagaimana dia juga adalah pertempuran besar juga bagi kaum perempuan, dan keduanya adalah asas dan fondasi kehidupan, sebagaimana keduanya juga adalah poros kehidupan, kelangsungan dan kesinambungannya, bertolak dari sini kita dapat mengajukan pertanyaan berikut ini.

  • Apakah salah seorang dari keduanya dapat mengundurkan diri dari kehidupan tanpa ada alasan dan tanpa sebab yang tepat?

Hal ini tidak boleh terjadi dan sama sekali tidak mungkin terjadi jika pertempuran kehidupan ini adalah milik kaum laki-laki dan perempuan, yang membutuhkan kerja sama di antara kedua belah pihak dan penyatuan usaha dari kedua belah pihak.

Wahai istriku, apakah kau berhak untuk meninggalkan aku sendirian di medan pertempuran sehingga aku berperang sendiri, berpikir sendiri, dan berusaha sendiri, tanpa keberadaanmu di sisiku hingga kita dapat memperoleh kemenangan? Kita capai kehidupan yang dipenuhi dengan kemenangan, kekuatan, dan ketegaran. Sebagaimana juga dipenuhi dengan rasa sayang, dekat, rukun, cinta, harmonis, dan bahagia.

Sesungguhnya, kehidupan yang kita jalani ini adalah bagian kita berdua. Sebagaimana rumah ini adalah milik kita berdua, yang kita perjuangkan dan usahakan untuk mendapatkannya. Keluarga, betapa pun kecil dan besarnya, adalah keluarga kita. Yang kita sama-sama telah berjuang demi mewujudkan kebahagiaan untuknya dan demi pendidikan anak-anak kita. Lalu, apakah salah seorang dari kita boleh menancapkan tanda kemunduran dan kekalahan dari pertempuran ini yang merupakan sebuah pertempuran kehidupan dan nasib?

  • Apakah salah seorang dari kita rela menyaksikan kondisi yang memalukan di hadapan anak-anak dan keturunannya yang dilahirkan untuk mencari teladan, contoh, dan perumpamaan dari kedua orang tuanya, dari lingkungan keluarga mereka, dan masyarakat sekitar mereka? Jika kita tidak mengintrospeksi diri sendiri, anak-anak kitalah yang akan mengintrospeksi diri kita pada saat tidak ada lagi waktu untuk melarikan diri.

Sesungguhnya, ketika aku menyaksikan hal ini terjadi pada beberapa orang dan menyebar ke banyak orang, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan perhatian, menggerakkan akal dan pikiran, dan berbicara dengan perasaan, hati dan kalbu.

Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri kaum laki-laki berdiri sendirian berperang dengan tegar dalam pertempuran kehidupan. Mereka hidup dalam kesendirian yang mematikan di rumah, dalam pikiran dan dalam perjuangan.

Sementara itu, para istri mereka menjalani kehidupan yang penuh dengan ketidakpedulian, kemewahan, dan keglamoran. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai hal yang sepele. Setelah itu, dia pergi tidur dan beristirahat, tanpa memedulikan kehidupan suami dan keluarga. Mereka tidak pernah memikirkan kehidupan keluarga, keselamatan dan keberadaannya.

Yang mereka pikirkan di dalam kehidupan ini hanyalah kesenangan, perhiasan, dan barang-barang mereka tanpa sama sekali menaruh perhatian terhadap pertempuran besar kehidupan ini. Suaminya bertempur sendirian menghadapi kehidupan sehingga dia berpikir sesuai dengan kemampuannya dan hidup hanya sekedar hidup. Dia hidup di rumahnya dengan penuh keasingan dalam keberadaan dan perasaan, dia merasa ditelantarkan dan kosong tanpa ada seorang pun di rumah yang memerhatikannya.

Si istri dan si ibu rumah tangga telah membuat pagar yang mematikan ketika dia menelantarkan suaminya. Dia tidak perhatikan keberadaan suami dan dia tidak pernah berterima kasih kepadanya. Dia biarkan suaminya menyelam sendiri dalam samudra pikiran, rasa cemas, dan kesepian demi  memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya.

Usaha suaminya tersebut tidak cukup baginya dan tidak menjadi penahan bagi sikap egoisnya serta kedangkalan pikirannya. Bahkan, dia menambah beban suaminya dengan berbagai permintaan dan kebutuhan yang semakin menambah penderitaan dan kesengsaraan suami. Dia biarkan suaminya berada sendirian di sudut, sembari menyelesaikan berbagai perkara kehidupannya atau beberapa persoalannya, tanpa ada seorang pun yang merasa kasihan atau memberikan perhatian kepadanya.

Wahai istriku, sesungguhnya, kehidupan kita adalah satu. Tujuan kita adalah satu. Keluarga kita adalah satu. Oleh karena itu, jangan biarkan aku sendiri menghadapi kehidupan ini. Seorang perwira membutuhkan keberadaan orang di sisinya yang selalu berada dekat dengannya untuk memberikan senjata kepadanya, mengarahkan arah langkahnya, membuat strategi untuknya, memerhatikan pelaksanaan dan arah strategi tersebut, meluruskan langkahnya, melindungi punggungnya, mengamankan jalannya, dan menyuplai bantuan serta makanan untuknya.

Jadilah kau seorang asisten dan partner yang baik dalam pertempuran yang membutuhkan pikiran, kesinambungan usaha, dan perjuangan ini. Ketahuilah dengan seyakin-yakinnya bahwa pertempuran kita adalah satu dan tujuan kita satu, yaitu melindungi dan menjaga keluarga ini dari semua orang yang berusaha menyerang dari dekat ataupun jauh. [Syahida.com/ANW]

==

Sumber: Kitab Istriku Dengarlah Aku Bertutur, Asy-Syawadifi al-Baz. Penerbit; Gema Insani

Advertisements
scroll to top