Pengaruh Lintasan Perasaan, Bisikan Hati dan Pikiran

Ilustrasi. (Foto: learning-mind.com)

Ilustrasi. (Foto: learning-mind.com)

Syahida.com – Landasan semua ilmu yang bersifat teoritis dan tindakan yang berdasarkan inisiatif adalah lintasan perasaan dan pikiran, yang kemudian menghasilkan persepsi. Lalu persepsi mengajak kepada kehendak, kehendak menuntut realisasi tindakan, dan pelaksanaannya secara berulang kali akan menghasilkan kebiasaan.

Kebaikan rentetan-rentetan ini bergantung kepada kebaikan lintasan perasaan dan pikiran. Dan, rusaknya bergantung kepada rusaknya lintasan perasaan dan pikiran. Agar lintasan perasaan menjadi baik harus diserahkan kepada pelindung dan penguasanya, diangkat kepadanya, diletakkan di kawasan keridhaannya. Sesungguhnya Allah-lah yang menguasai segala kebaikan, di sisi-Nyalah segala petunjuk, dari taufiq-Nyalah segala yang lurus, dari perlindungan terhadap hamba-Nyalah segala pemeliharaan, dari pengabaian dan keberpalingan-Nyalah segala kesesatan dan penderitaan. Seberapa jauh seorang hamba beruntung mendapatkan segala kebaikan dan petunjuk, bergantung kepada mata pikirannya yang tertuju ke karunia dan nikmat-Nya, bergantung kepada tauhidnya, jalan ma’rifah dan jalan ubudiyahnya, bergantung kepada pada pandangan yang terarah kepada-Nya, bergantung pada perasaan, kehendak dan hasratnya. Pada saat itulah dia akan merasa malu dan sekaligus mengagungkan Allah, karena Allah mengetahui aib dirinya, yang dia merasa kurang suka jika orang lain mengetahuinya.

Selagi hamba menempatkan Rabb-nya seperti ini, maka Allah akan meninggikan derajatnya, mendekat kepadanya, memuliakan dan melindunginya, menjauhkannya dari kotoran, noda, lintasan perasaan dan pikiran yang hina. Selagi Allah menjauh darinya, maka hamba itu akan dekat dengan kotoran dan noda, terputus dari segala kesempurnaan dan berhubungan dengan segala kekurangan.

Manusia adalah makhluk yang paling baik selagi dia dekat dengan Penciptanya, mengikuti perintah dan larangan-Nya, berbuat menurut keridhaan-Nya dan lebih mementingkan-Nya daripada nafsunya. Sedangkan makhluk yang paling buruk ialah yang jauh dari Penciptanya, hatinya tidak tergerak untuk mendekati-Nya, taat kepada-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Selagi dia memilih untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan lebih mementingkan-Nya daripada nafsunya, berarti dia telah memberikan kekuasaan kepada hati, akal dan imannya untuk mengalahkan nafsu dan syetan, memberikan kekuasaan kepada petunjuk untuk mengalahkan kelalaiannya. Selagi dia memilih untuk menjauh dari Penciptanya, berarti dia telah memberikan kekuasaan kepada nafsu dan syetan untuk mengalahkan akal, hati, dan petunjuknya.

Lintasan dan Bisikan Hati

Lintasan dan bisikan hati berkait dengan pikiran. Lalu pikiran mengambil dan menyampaikannya kepada ingatan. Ingatan menyampaikannya kepada kehendak. Kehendak menyampaikannya kepada anggota tubuh dan amal, lalu lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Mengembalikan kebiasaan ini ke dasarnya lebih mudah daripada memutuskannya setelah hal itu menguat dan menjadi sempurna.

Sebagaimana yang sudah diketahui, manusia tidak diciptakan untuk mematikan bisikan hati dan memutuskan kekuatannya. Bisikan hati ini tak tertahankan sebagaimana napas yang tak tertahankan. Hanya saja kekuatan iman dan akal membantunya untuk menerima yang terbaik dan paling diridhai, serta menolak yang buruk dan yang dibenci. Hal ini seperti yang disampaikan para shahabat kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami merasakan di dalam hatinya sesuatu yang berkobar, sampai-sampai menjadi seperti bara api, yang lebih dia sukai daripada dia harus mengatakannya.”

Beliau bertanya, “Apakah kalian juga pernah merasakannya?”

“Benar,” jawab mereka.

Beliau bersabda, “Itulah iman yang jelas.”

Dalam lafazh lain disebutkan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu dayanya kepada bisikan hati.” (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibbad, sanadnya shahih).

Allah menciptakan jiwa, yang serupa dengan alat penggiling yang terus berputar dan tidak pernah dia diam. Harus ada sesuatu yang mesti digilingnya. Jika di atas alat penggiling itu diletakkan biji-bijian, maka ia akan menggilingnya, dan jika yang diletakkan di atasnya tanah atau kerikil, maka ia pun tetap akan menggilingnya.

Lintasan pikiran dan bisikan perasaan yang bergolak di dalam jiwa, sama dengan biji-bijian yang diletakkan di atas alat penggiling. Alat penggiling ini tidak pernah diam dan harus ada sesuatu yang diletakkan di atasnya. Di antara manusia ada yang menjalankan alat penggilingnya untuk menggiling biji-bijian, lalu menghasilkan tepung yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sementara mayoritas di antara mereka menggiling pasir, kerikil dan bata. Jika sudah tiba saatnya untuk memasak, maka terlihatlah apa yang digilingnya itu. [Syahida.com/ANW]

 

===

Sumber: Kitab Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu, Karya; Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah: Kathur Suhardi, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

Share this post

PinIt
scroll to top