Anda Sering Berbuat Dosa Diam-Diam? | Baca Ini | Waspadalah

Ilustrasi. (Foto: flickr.com/Japanexperterna.se)

Ilustrasi. (Foto: flickr.com/Japanexperterna.se)

Oleh: Ali Hammuda

Syahida.com – Pada abad 21, ada satu lagi amanah yang akan kita diskusikan sejenak. Sebuah amanah yang berteriak kepada kita berkata: “Tolong beri perhatian padaku.” Sebuah amanah lain, yang banyak Muslim mungkin melanggarnya hampir setiap hari. Ini adalah amanah terhadap akses, kemampuan untuk mendapatkan hal-hal yang haram dengan mudah.

Kamu akan tahu hubungan antara topik tentang amanah dan akses, dengan ayat ini. Allah SWT berfirman:

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّـهُ بِشَيْءٍ مِّنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّـهُ مَن يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٩٤

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.” (QS. Al Maidah: 94).

Hewan buruan adalah hewan darat yang biasanya diburu untuk dimakan. Apa arti ayat tersebut? Kita tahu bahwa ketika seseorang sedang dalam keadaan ihram, dalam perjalanan untuk haji atau umrah, ada hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan. Salah satunya adalah menangkap hewan buruan atau berburu. Tidak boleh memburu hewan darat untuk orang yang sedang ihram.

Ada sekelompok sahabat Rasulullah SAW yang sedang dalam keadaan ihram,  mereka sedang berjalan, dan tiba-tiba hewan darat yang bisa diburu mulai datang berduyun-duyun ke arah para Sahabat. Dan hewan-hewan ini sekarang berada dalam jangkauan. Yang perlu mereka lakukan cukup berburu binatang-binatang itu dan makanan terbaik dan termahal pun siap dihidangkan, terlebih lagi para Sahabat kelaparan, terlebih lagi para Sahabat kekurangan uang, jadi ini adalah fitnah (ujian) yang berat. Tapi hewan-hewan ini bergerak mendekati mereka dan tidak butuh senjata untuk memburu mereka. Meski begitu, tidak satu Sahabat pun yang berburu hewan. Jadi Allah menurunkan ayat ini.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.” (QS. Al Maidah: 94).

Kenapa Allah menguji mereka dengan fitnah (ujian) ini? “Agar terlihat siapa yang takut kepada-Nya, meskipun ia tidak melihat-Nya.”

10 tahun lalu, untuk mendapatkan hal yang haram, memerlukan usaha. Kita perlu berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang haram, kita perlu berjuang untuk itu, kita memburunya dan mengejarnya. Tetapi sekarang, dengan hadirnya teknologi dan komunikasi massal, kita tidak perlu berusaha keras lagi. Tanganmu bisa memperolehnya. Sekarang, dengan beberapa klik, kita dapat mengakses gambar dan video paling kotor via internet. Dan sekarang, untuk berkomunikasi dengan lawan jenis, kamu tidak perlu melempar sebuah pesawat kertas dan berharap pesan itu jatuh di balkon rumah si gadis. Kamu tidak perlu melakukan hal itu lagi. Sekarang, kamu tinggal menggunakan HP, dengan 11 digit nomor atau melalui profil orang tersebut di sosmed, kamu punya akses pribadi dengan orang ini kapanpun! Sebuah fitnah (ujian).

Kenapa Allah SWT membiarkan ujian ini hadir di rumah kita?  “Supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya.”

Ini adalah fitnah yang sama, fitnah yang bisa dengan mudah kau peroleh. Sekarang kita membahas tentang amanah terhadap kemampuan menggunakan akses. Akses untuk berbuat dosa. Allahu Akbar!

Salah seorang salaf akan berkata, “Ketakutan yang timbul di hatimu, ketika pintu mulai bergerak terbuka, sedangkan kau sedang berbuat dosa, itu lebih besar dan buruk di mata Allah dibanding dosa itu sendiri karena Allah lebih pantas untuk ditakuti.”

Ada saudara kita, semoga Allah mengampuni dia dan kita, saat dia berkata, “Aku pernah berbuat dosa dibalik laptopku, dan aku mulai mendengar suara pintu bergerak, jantungku serasa melompat ke kerongkonganku. Dengan cepat kumatikan komputerku, dan aku berlari ke pintu. Aku buka pintu itu dan ternyata hanya seekor kucing.” Ketakutanmu pada manusia saat itu, lebih buruk di mata Allah daripada dosa itu sendiri, yang mungkin salah satu dari kita pernah melakukannya, Allahu Akbar!

Ilustrasi. (Foto: phonedog.com)

Ilustrasi. (Foto: phonedog.com)

Hati-hati bagi saudaraku yang menjadi teman Allah di depan publik, tetapi menjadi musuh Allah ketika sedang sendirian. Kontradiksi inilah yang ada pada kepribadian dari banyak Muslim. Mungkin tidak akan pernah diketahui sekarang. Berpuluh tahun berlalu, dan mungkin tidak ada seorang pun tahu kalau kau memiliki kontradiksi seperti ini di dalam kepribadianmu, di antara urusan publik dan pribadimu. Tapi di hari kiamat, hal ini mungkin akan diekspos dan akan berdampak serius seperti diriwayatkan Ibnu Majah di dalam sunannya, dengan riwayat yang shahih Syeikh Nasiruddin berkata, dari Thawban, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Dengan kata lain, amanah dari mudahnya akses terhadap dosa, tidak dipegang teguh, telah dikhianati!

Karenanya saudara/saudari, kesimpulannya adalah… Aku sadar bahwa ujian akses di zaman sekarang itu serius dan merupakan tantangan, dan ini perjuangan yang melelahkan untuk setiap dari kita tanpa terkecuali. Kita mendengar saudara/saudari kita mengeluhkan fitnah dan hal-hal haram yang tersedia hari ini, sangat mudah diakses melebihi sebelumnya. Tapi kenapa kita tidak bersikap optimis dan menganggap ini sebagai kesempatan yang lebih besar untuk lebih dekat kepada Allah dengan meninggalkan yang haram! Ini sebuah kesempatan. Ini hak istimewa. Ada risiko yang besar, tapi terdapat pula pahala yang besar bagi orang yang menegakkan amanah ini.

Akan saya tutup dengan pertanyaan: Jika aku adalah orang yang berjuang untuk menegakkan amanah ini, amanah dari mudahnya akses terhadap yang haram, jika aku terus melanggarnya secara diam-diam, apa yang kau nasihatkan agar aku menjaga diri, dan untuk membantu menegakkan amanah ini di mata Allah? Ada 3 hal untuk mengingatkan diriku dan orang lain:

Yang pertama dan mungkin ini yang paling efektif, adalah Muraqabatullah, dengan mengingat bahwa Allah mengawasi. Dia Maha Melihat dan malaikat-Nya mencatat. Allah yang mendengar langkah kaki dan melihatnya, meski langkah kaki seekor semut hitam di kegelapan malam, yang berjalan di batu hitam, Allah Maha Melihat dan mendengarnya.

Al-Shinqiti sang ulama berkata, “Ulama-ulama Islam telah sepakat bahwa tidak ada sesuatu hal yang lebih efektif dalam membantu seseorang untuk melindungi dirinya dari dosa, daripada muraqabah, yaitu mengingatkan diri sendiri bahwa Allah Maha Melihat.

Yang kedua, Membaca Al Qur’an dan merenungkan maknanya, itulah syaratnya. Imam Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitab Majmu’ul Fatawa, “Jika seseorang membaca Al Qur’an, dengan merenungi maknanya, ini akan menjadi salah satu cara paling efektif dalam melindungi dirinya dari semua dosa, atau setidaknya beberapa darinya.” Membaca Al Qur’an dan berhenti sejenak, merenungi maknanya. Itulah perlindungan dari terlanggarnya amanah dari mengakses yang haram.

Ketiga, beribadah secara diam-diam. Maksimalkan shalatmu ketika orang lain tidak melihat. Doa dan sedekahmu secara sembunyi. Ketika tidak ada mata dan telinga yang bisa melihatmu atau mendengarmu, Ibnu Qayyim berkata, “Dosa yang dilakukan secara sembunyi, adalah alasan utama mengapa mereka tersesat. Dan kebaikan yang dilakukan secara sembunyi adalah alasan utama mengapa seseorang tetap teguh di jalan Islam.”

Inilah tiga nasehat singkat bagi orang yang ingin menegakkan amanah dari kemudahan akses pada yang haram, yang semakin berat untuk dilaksanakan di abad 21 ini. [Syahida.com/ANW/Youtube]

Advertisements
scroll to top