Maksiat, Membuat Manisnya Ketaatan Kepada Allah SWT Menjadi Hilang

Ilustrasi. (Foto: huffingtonpost.com)

Ilustrasi. (Foto: huffingtonpost.com)

Syahida.com – Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang durhaka itu selamanya bila mendengar suara tiupan angin yang sepoi-sepoi, dia mengira suaranya keras.

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.” (QS. Al Munaafiquun (63): 4).

Seperti inilah realita orang-orang yang durhaka. Seandainya pintu bergerak, dia takut; dan seandainya petugas keamanan melihatnya, dia langsung berhati ciut.

Pernah ditanyakan kepada Abu Mu’adz ar-Razi: “Apakah seorang hamba akan merasakan manisnya ketaatan manakala dia berniat melakukan maksiat?” Abu Mu’adz menjawab: “Tidak, demi Allah, hal ini sama sekali tidak akan terjadi. Bahkan seandainya seseorang baru berniat saja untuk itu tanpa mengerjakannya, dia tidak akan merasakan manisnya ketaatan, bahkan yang dirasakannya adalah kerenggangan hubungan.” Kerenggangan hubungan ini mempunyai pengaruh yang besar dalam diri pelakunya.

Sebagian orang ada yang tidak percaya dengan janji Allah, yakni ayat-ayat harapan dan ayat-ayat yang menerangkan janji yang baik. Sebagian di antara kita ada yang tidak percaya dengannya dan tidak pula melakukan hal yang membenarkannya. Oleh karena itu, bila kita membaca mush-haf menyangkut ayat-ayat yang membicarakan tentang surga dan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT seakan-akan bukan ayat, padahal kita diperintahkan untuk berbaik sangka kepada Allah SWT dengan cara memperbaiki amal perbuatan sebagai pembuktiannya.

Demikian pula hendaknya seseorang jangan berburuk sangka terhadap dirinya sendiri dengan beranggapan bahwa hubungan antara dirinya dan Allah terputus, sehingga ada yang mengatakan bahwa latar belakang yang menjerumuskan seseorang ke dalam anggapan seperti ini termasuk ke dalam bab kemunafikan.

Sebagian orang-orang yang fasiq adalah orang yang paling banyak tertawa, tetapi dalam dirinya penuh dengan kefrustasian dan kekalahan. Bahkan seorang ulama ada yang menyebutkan bahwa di sana terdapat 20 manzilah bagi kalbu yang dimulai dengan ketidakpuasan dan diakhiri dengan terkunci mati hatinya. Allah SWT berfirman:

Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.” (QS. An-Nisa: 155).

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Memang kematian kalbu tidak terasa.

Barang siapa yang berjiwa rendah

akan mudahlah melakukan kerendahan baginya

sebab luka yang menimpa tubuh yang sudah mati

tidak akan terasa sakitnya

Sebagian ulama ada yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran: 135).

Bahwa sesungguhnya beratnya darah dan daging berkesudahan akan membuat perasaan dan indera sebagian orang menjadi mati rasa dan rusak fitrah sehatnya. Dengan demikian, Anda menjumpai sebagian orang melakukan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan seperti gunung banyaknya, sedang yang bersangkutan tidak merasakannya.

Anehnya, dia begitu menyukai lagu-lagu, merokok, dan durhaka terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah, meskipun demikian dia tidak merasakannya. Hanya kepada Allahlah kami memohon pertolongan dari hal seperti ini. [Syahida.com /ANW]

==

Sumber: Kitab Hidupkan Hatimu, Karya: Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni. Penerjemah: Bahrun Abubakar Ihsan Zubaidi, LC., Penerbit: Irsyad Baitus Salam

Advertisements
scroll to top