Sifat dan Karakter Hebat dari Ulama Besar, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari

Ilustrasi. (Foto: hikmawansp.wordpress.com)

Ilustrasi. (Foto: hikmawansp.wordpress.com)

Syahida.com – Imam Ibnu Jarir memiliki sejumlah sifat dan karakter yang hebat. Ia merupakan tipikal ulama besar umat yang menjalani pola hidup mereka. Akan tetapi, Ibnu Jarir begitu istimewa dengan berbagai karakter yang hanya dimiliki segelintir ulama saja; antara lain:

1. Sifat zahid (enggan terhadap dunia).

Ibnu Jarir Ath-Thabari bersifat zahid dan wara’ luar biasa. Ia menolak secara total, di berbagai tempat, pencarian harta dengan cara menjual ilmunya; juga menghindari perolehan rezeki melalui ilmu dan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya. Hampir sepanjang hidupnya, ia mendapatkan makanan dari uang yang dikirimkan sang ayah dari kampungnya di Thibristan. Bahkan, ketika biaya yang dikirimkan sang ayah datang terlambat, ia terpaksa menjual sebagian pakaiannya.

Menteri Al-Khaqani pernah menawarinya harta dalam jumlah besar, namun ia menolak dengan tegas. Ibnu Jarir lebih memilih bekerja mendapatkan upah dari mendidik anak-anak. Suatu ketika, Khalifah Al-Muktafi pernah bermaksud mewakafkan sesuatu berdasarkan kesepakatan para ulama. Untuk itu, ia menghadirkan Ibnu Jarir kemudian ia mendiktekan kepadanya akte wakafnya, lalu sejumlah uang dikeluarkan sebagai hadiah bagi Ibnu Jarir. Akan tetapi ia menolak menerimanya. Lantas dikatakan kepadanya, “Ambil saja harta itu, lalu sedekahkanlah.” Ibnu Jarir tetap tidak mau menerimanya seraya berkata kepada mereka, “Kalian lebih berhak terhadap harta-harta kalian. Lagi pula, aku tahu siapa yang akan kalian beri sedekah.” Ibnu Jarir sering ditawari jabatan hakim sekaligus administrator Al-Mazhalim (semacam lembaga pengaduan atas tindakan-tindakan zalim), namun ia selalu menolaknya dengan tegas, walaupun mendapat banyak desakan, bahkan dari para murid dan rekan-rekannya.

2. Bersemangat tinggi.

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari merupakan salah seorang ulama Islam dengan jumlah karya dan tulisan terbanyak. Rahasia di balik hal itu adalah semangatnya yang tinggi melampaui puncak-puncak gunung menjulang sekalipun. Selama 40 tahun lamanya, ia konsisten menulis setiap hari sebanyak 40 halaman. Setiap kali hendak memulai suatu karya, ia senantiasa melakukan istikharah kepada Allah SWT. Tidak ada orang pada masa setelahnya yang mempunyai semangat luar biasa dalam menghasilkan karya tulis seperti Imam Ath-Thabari.

Sampai-sampai ia bertanya kepada para murid-muridnya, “Apakah kalian sanggup mencatat sejarah alam semesta dari mulai Adam hingga zaman sekarang?” Mereka balik bertanya, “Berapa jumlah halamannya?” ia berkata, “Sekitar 30 ribu halaman.” Mereka menukas, “Umur akan habis sebelum menamatkannya.” Imam Ath-Thabari pun berseru, “Innalillahi! Semangat telah padam.” Kemudian Ath-Thabari meringkasnya menjadi 3 ribu halaman saja. Ketika hendak mendiktekan tafsir, ia juga mengajukan pertanyaan serupa, kemudian mendiktekannya sebanyak jumlah halaman kitab sejarah tadi.

3. Ketegasannya dalam kebenaran.

Ibnu Jarir Ath-Thabari termasuk orang yang tidak takut di jalan Allah terhadap celaan para pencela. Kendati didera penderitaan dan kejahatan berat yang ditimbulkan orang-orang dungu, pendengki, dan atheis, ia tetap teguh berpegang pada as-Sunnah dan pokok-pokoknya. Sampai-sampai, ia berani mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi siapa saja yang mencela Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Selain itu, sangat banyak lagi kisah masyhur yang menceritakan ketegasannya dalam kebenaran. [Syahida.com /ANW]

===

Sumber: Kitab Cobaan Para Ulama, 29 Kisah Ulama Besar dalam Menghadapi Ujian Dakwah, Karya: Syaikh Syarif Abdul Aziz, Penerjemah: Ganna Prydharizal Anaedi, Penerbit: Pustaka Al Kautsar

Advertisements
scroll to top