Antara Samiri dan COVID-19

Ilustrasi. (getroman.com)

syahida.com – Kini hampir sebagian besar penduduk bumi dilarang untuk saling bersentuhan, harus menjaga jarak fisik, terutama jika keluar rumah. Hal ini gara-gara mewabahnya coronavirus yang menyebabkan penyakit COVID-19. Jika saling bersentuhan maka berisiko tertular COVID-19, yang salah satu gejalanya adalah demam.

Nah, dulu, di saat zaman Nabi Musa AS, ada seorang manusia yang diberi hukuman berupa diusir dan tidak bisa disentuh oleh manusia selama hidupnya. Orang itu bernama Samiri. Kisah nyata ini terekam dalam Al-Quran sbb:

Berkata Musa: Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku). (QS. Ta Ha: 97)

Samiri dihukum demikian karena telah membuat patung anak sapi yang dijadikan sebagai sesembahan di tengah-tengah kalangan Bani Israil. Bani Israil pun menyembah anak sapi itu.

Dalam tafsir Jalalayn dijelaskan tentang hukuman bagi Samiri, yaitu sbb:

(Berkata Musa) kepada Samiri, (“Pergilah kamu) dari kalangan kami ini (maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini) selama kamu hidup di dalamnya (hanya dapat mengatakan) kepada orang-orang yang kamu bertemu dengannya, (‘Janganlah menyentuhku’) janganlah kamu mendekat kepadaku. Dan disebutkan bahwa sejak saat itu Samiri mengembara tanpa tujuan dan jika ada seseorang menyentuhnya atau dia menyentuhnya, maka semuanya kena penyakit demam.

Dulu, mungkin belum terbayang bagaimana mekanismenya sehingga Samiri tidak bisa disentuh. Sekarang kita mulai bisa membayangkannya, yaitu bisa jadi Samiri menjadi carrier penyakit menular, entah karena virus atau karena bakteri. Sehingga kalau ada yang menyentuhnya, akan menular, lalu demam.

Sementara itu, hukuman bagi Bani Israil adalah harus bertobat dan saling membunuh satu sama lain. Hal ini terekam dalam Surat Al-Baqarah ayat 54 sbb:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzhalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 54)

Dulu, mungkin kita berpikir bahwa hukuman bagi Samiri itu lebih ringan jika dibandingkan dengan hukuman bagi kaum Bani Israil. Padahal Samiri-lah yang menginisiasi pembuatan patung sapi betina, dialah pencetusnya. Kini mungkin kita bisa merasakan, betapa beratnya tidak bisa saling bersentuhan, tidak bisa saling berdekatan, agar tidak tertular, agar tidak demam, agar nyawa tidak hilang. Dan itu mungkin akan berlaku dalam jangka waktu yang cukup lama. Mungkin sehari akan terasa seperti berhari-hari. Hidup, tapi terasa seperti tidak hidup. Roda ekonomi tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya, situasi hubungan internasional cenderung berubah, pendapatan menurun, potensi gejolak sosial, dan seterusnya. (syahida.com/hdn)

Share this post

PinIt
scroll to top