Perhatian Rasulullah SAW Terhadap Tanda-Tanda Hari Kiamat (Bagian ke-1)

Ilustrasi. (Unsplash)

Syahida.com – Tanda-tanda hari Kiamat termasuk salah satu topik yang mendapat perhatian besar dari Rasulullah SAW dalam sunnah beliau. Hal ini tampak jelas dalam berbagai riwayat yang bersumber dari beliau. Berikut ini adalah riwayat-riwayat yang menunjukkan betapa besarnya perhatian beliau dan para sahabatnya terhadap tanda-tanda hari Kiamat.

1. Jibril Mengingatkan Umat Islam Akan Keharusan Mengetahui Tanda-tanda Hari Kiamat dan Pentingnya Menanyakan Hal Tersebut Kepada Nabi Mereka

Dari Umar RA, dia bertutur:

Pada suatu hari kami bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba muncullah seseorang yang berpakaian putih bersih, berambut hitam-legam, dan tidak tampak pada dirinya bekas-bekas melakukan perjalanan jauh. Di antara kami tidak ada satu pun yang mengetahui jati dirinya. Yang jelas dia langsung duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia merapatkan kedua lututnya berhadapan dengan lutut Rasulullah kemudian dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasulullah SAW. Orang tersebut berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam!” Maka beliau menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan haji jika engkau mampu menunaikannya.” Maka berkatalah orang tersebut, “Engkau benar!” (Kata Umar “Kami pun tertegun keheranan, padahal dia yang menanyakan hal tersebut, tetapi dia sendiri yang membenarkan jawabannya”). Kemudian, orang tersebut bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku apakah iman itu?” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta iman kepada takdir, yang baik dan yang buruk.” Laki-laki itu kembali menjawab, “Engkau benar.” Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, “Beritahukanlah kepada apakah ihsan itu?” Beliau menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak dapat melihat-Nya maka (ketahuilah) sesungguhnya Dia melihatmu.” Kemudian, orang tersebut bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Orang yang ditanyai tentang hari Kiamat ini tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Kemudian laki-laki tersebut menukas, “(kalau begitu) beritahukanlah tentang tanda-tandanya!” Beliau menjawab, “Budak wanita melahirkan tuannya sendiri dan apabila engkau melihat penggembala kambing yang bertelanjang kaki mulai berlomba-lomba membuat gedung pencakar langit.” (Umar berkata, “Lalu laki-laki tersebut pergi dan aku pun termenung untuk beberapa saat.”) Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Nabi bersabda, “Ketahuilah, dia itu Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim bab: Al-Iman, hadits no. 8 [Muslim bi Syarh An-Nawawi (1/157)]).

Penjelasan:

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa maksud dari turunnya Jibril adalah untuk mengajarkan kepada umat Islam perihal agama mereka. Dalam redaksi hadits tersebut jelas sekali Jibril hanya menyinggung soal garis-garis besar agama Islam. Maka dari itu Jibril hanya menanyakan perkara Islam, iman, dan ihsan. Perkara ini merupakan aksioma dalam agama Islam. Intinya pertanyaan tersebut hanyalah bertujuan untuk menunjukkan bahwa merealisasikan ketiga hal tersebut dalam kehidupan merupakan tonggak utama agama Islam.

Kemudian pertanyaan tentang perkara ini diikuti dengan pertanyaan tentang hari Kiamat. Dalam pertanyaan terakhir ini terkandung sebuah pengertian bahwa mengetahui perkara hari Kiamat merupakan hal yang amat penting. Terbukti dengan dilontarkannya pertanyaan tersebut setelah pertanyaan rukun Islam dan iman. Jika tidak demikian maksudnya lantas untuk apa Jibril menanyakan perkara hari Kiamat setelah dua pertanyaan sebelumnya atau melontarkan pertanyaan lain yang lebih penting daripada dua hal tersebut jika di sana memang ada hal lain yang lebih penting?

Bahkan bisa jadi lafal-lafal hadits tersebut memberikan isyarat bahwa turunnya malaikat Jibril ini tujuan utamanya adalah memberi penjelasan tentang perkara yang selama ini mereka lupakan, yaitu agar mereka menanyakan kepada Rasulullah tentang pertanda hari Kiamat sebagaimana mereka bertanya tentang rukun Islam dan iman.

Kemungkinan lain adalah jika di kalangan sahabat, mereka semua telah paham bahwa masalah penentuan terjadinya hari Kiamat ini hanya Allah yang tahu, ada semacam rasa segan pada mereka untuk menanyakan perkara yang berkaitan dengan hari Kiamat sebagai perwujudan tata krama mereka terhadap Allah SWT. Maka untuk memperingatkan mereka bahwa yang dilarang itu adalah menanyakan kapan terjadinya hari Kiamat, sedangkan kalau hanya menanyakan pertandanya saja termasuk hal yang dibenarkan, maka datanglah Jibril untuk memberikan contoh kepada mereka.

Bahkan perkara ini harus ditanyakan agar dapat diketahui. Sebab rangkaian dan urutan tanda-tanda Kiamat, sebagai permulaan datangnya hari Kiamat adalah perkara yang harus diperhatikan daripada hari Kiamat itu sendiri. Hari Kiamat, sebagaimana yang diredaksikan Allah sebagai an-naba’ al-‘azhim, oleh mempelajari tanda-tanda permulaannya dengan sendirinya merupakan bagian dari berita agung dan urgen sehingga setiap muslim wajib mengetahuinya.

Demikian juga hadits mengandung sisi yang amat penting, tersebut yaitu terpadunya antara utusan terpercaya dari langit (Jibril dan utusan terpercaya di bumi (Muhammad g) untuk bersama-sama mengingatkan umat Islam akan pentingnya mengetahui tanda-tanda hari Kiamat. Hal ini terbukti dengan cara penyampaian peringatan tersebut yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh para sahabat sebelumnya, yaitu Jibril datang kepada Rasulullah dengan rupa seorang laki-laki untuk menanyakan beberapa perkara. Peristiwa seperti inilah yang membuat para sahabat sulit untuk melupakan peristiwa tersebut lengkap dengan rinciannya.

Pada akhir hadits tersebut ditutup dengan sabda Nabi berikut: “Inilah Jibril yang mendatangi kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.” Redaksi ini menyiratkan bahwa betapa pentingnya untuk menanyakan perkara tanda-tanda hari Kiamat dan mempertautkan urutan kejadiannya, sebab dengan mengetahui hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi urusan agama umat Islam.

Demikian juga hadits tersebut juga mencakup petunjuk Rasulullah kepada para sahabat yang mulia akan keharusan menanyakan tanda-tanda hari Kiamat. Artinya, rangkaian redaksi hadits tersebut menjelaskan bahwa Jibril datang kepada Nabi untuk mengingatkan mereka tentang prinsip yang paling fundamen dan penting dalam agama Islam agar mereka juga menanyakannya, yang termasuk di antaranya adalah pertanda hari Kiamat ini. (syahida.com/ndh)

Sumber: Dr. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh, Ensiklopedi Akhir Zaman, Granda Mediatama, Solo, 2013.

Share this post

PinIt
scroll to top