Risalah Islam dan Universalisme Risalah Islam

Ilustrasi. (Foto: islampaper.com)

Ilustrasi. (Foto: islampaper.com)

Risalah Islam; Universalisme dan Tujuannya

Syahida.com – Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk mengajarkan risalah yang suci, yang penuh kemudahan serta syariat yang lengkap, penjamin kehidupan umat manusia yang bersih lagi mulia, dan menyampaikan mereka pada derajat yang tertinggi dan sempurna.

Selama lebih kurang 2 tahun, Rasulullah SAW menyeru umat manusia ke jalan Allah. Beliau berhasil mencapai tujuan untuk menyebarkan agama dan menghimpun manusia untuk menganutnya.

Universalisme Risalah Islam

Risalah Islam bukanlah risalah yang bersifat lokal yang terbatas ataupun parsial, yang khusus untuk suatu generasi atau suku-bangsa tertentu saja sebagaimana halnya risalah-risalah yang sebelumnya. Namun, ajaran Islam merupakan ajaran universal yang mencakup seluruh umat manusia hingga hari kiamat, yaitu pada saat seluruh makhluk menghadap kepada Allah ta’ala. Ajaran Islam tidaklah terfokus untuk suatu kota tertentu atau terbatas dengan waktu tentu.

Allah SWT berfirman,

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (yaitu Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqaan: 1)

“Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (Saba’: 28)

“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutlah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’raaf: 158)

Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan,

“Setiap Nabi diutus khusus kepada bangsanya, tetapi saya diutus untuk seluruh umat manusia, baik kepada bangsa berkulit putih maupun berkulit hitam.”

Di antara argumentasi yang membuktikan akan universalitas ajaran Islam adalah sebagai berikut.

1. Tidak terdapat permasalahan yang sulit untuk diyakini atau sukar untuk dilaksanakan.

Allah SWT berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Al-Baqarah: 286)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Al-Baqarah: 185)

“… Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (Al-Hajj: 78)

Dalam sebuah hadits, Imam Bukhari dari Abu Sa’id al-Maqburi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sebenarnya agama ini mudah. Tidak seorang pun yang mempersulit agama, melainkan sudah pasti ia akan mengalami kekalahan dan kesukaran dalam masalah beragama.”

Dalam sebuah hadits juga, Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda,

“Agama yang lebih disukai Allah ialah agama yang benar dan penuh toleransi.”

2. Permasalahan yang tidak terkait oleh perubahan tempat dan waktu, seperti masalah aqidah dan ibadah, maka diterangkan dengan sempurna dan secara terperinci. Di samping Islam memberikan keterangan-keterangan lengkap hingga tak perlu lagi penambahan atau pun pengurangan.

Adapun permasalah yang mengalami perubahan yang disebabkan perbedaan situasi dan kondisi, misalnya hal-hal yang menyangkut soal peradaban, urusan-urusan politik dan peperangan, maka diterangkan secara global agar dapat mengikuti kepentingan manusia pada setiap waktu dan tempat. Di samping itu, dapat pula menjadi pedoman bagi para pemimpin dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, sebab perkara tersebut bersifat fleksibilitas.

3. Seluruh ajaran Islam bertujuan untuk menjaga kepentingan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Tentunya keadaan semacam ini lebih sesuai dengan fitrah dan akal, perkembangan zaman dan cocok untuk diaplikasikan di segala tempat dan waktu.

Allah SWT berfirman,

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-A’raaf [7]: 32-33)

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raaf [7]: 156-157)

Sumber: Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Penerjemah: Nor Hasanuddin, Lc, MA, dkk, Penerbit Pena, Jakarta, 2006

Share this post

PinIt
scroll to top