Subhanallah… Inilah Hak-Hak Seorang Sahabat

Ilustrasi. (hdwallpapers.in)

Ilustrasi. (hdwallpapers.in)

Syahida.com –  Ada beberapa hak sahabat yang harus dipenuhi seseorang karena jalinan persahabatan dan persaudaraan di antara mereka:

  1. Memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, yang bisa dibedakan menurut tiga tingkatan:

a. Memenuhi kebutuhannya, padahal sahabatnya itu mampu dan meminta secara terus terang. Sekalipun begitu kebutuhannya tetap dipenuhi dengan wajah berseri. Ini tingkatan paling rendah.

b. Memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tanpa menunggu dia meminta-minta. Ini tingkatan pertengahan.

c. Mendahulukan kebutuhan sahabatnya daripada kebutuhan dirinya sendiri. Ini tingkatan yang paling tinggi.

Diantara orang salaf ada yang mencari-cari keluarga saudaranya setelah empat puluh tahun sepeninggalnya, lalu dia memenuhi segala kebutuhannya.

  1. Pada saat tertentu lidah tidak boleh berbicara, dan pada saat lain berbicara. Maksudnya ialah dia tidak menyebutkan aibnya saat sahabatnya ada atau saat dia tidak ada, membelanya dengan perkataan, tidak menanyakan sesuatu yang sahabatnya itu tidak suka untuk mengatakannya, tidak bertanya saat bertemu, “Mau kemana?” Karena boleh jadi sahabatnya itu tidak ingin diketahui kemana dia akan pergi, tetap menjaga rahasianya sekalipun persahabatannya sudah putus, tidak mengolok-olok siapa pun yang dicintainya atau keluarganya dan tidak menceritakan aib orang lain kepadanya.
  2. Tidak boleh mengatakan apa pun yang tidak disukai sahabatnya untuk dikatakan, kecuali hal-hal yang memang harus dikatakan karena perkara amar ma’ruf nahi munkar, sebab tidak ada keringanan untuk diam dalam hal ini. Cara ini merupakan gambaran berbuat baik kepadanya. Engkau harus meninggalkan su’uzh-zhan (buruk sangka) terhadap sahabatmu dan menafsiri perbuatannya dengan husnuzhan (baik sangka) sebisa mungkin. Nabi SAW telah bersabda, “Jauhilah prasangka , karena prasangka itu merupakan perkataan yang dusta.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim). Ketahuilah bahwa su’uzh-zhan akan mendorong kepada tindakan memata-matai yang dilarang. Menutup aib merupakan sifat orang-orang yang taat beragama. Di samping itu, iman seseorang belum dianggap sempurna sebelum dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Tingkat persahabatan yang paling rendah ialah memperlakukan sahabatnya dengan cara yang dia suka jika diperlukan seperti itu. Tidak dapat diragukan, engkau pun ingin agar sahabatmu menutupi aibmu dan tidak membuka keburukan-keburukanmu. Jika dia tidak berbuat seperti itu, tentu engkau akan meradang. Lalu bagaimana mungkin engkau menghendaki darinya sesuatu yang tidak ia kehendaki darimu? Jika engkau menginginkan suatu keadilan, padahal engkau sendiri tak memberikan keadilan itu, berarti engkau masuk dalam firman Allah, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Al-Muthaffifin: 1-3)
  1. Lidah harus berbicara. Sebagaimana tuntutan persahabatan yang tertuju kepada lidah untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak disukai, maka begitu pula tuntutan terhadap lidah untuk mengatakan hal-hal yang disukai. Bahkan ini bisa dikatakan sebagai ciri khusus persahabatan. Maksud dari keberadaan sahabat ialah untuk diambil manfaatnya, bukan untuk dihidari apa yang perlu dihindari. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah dia menyatakan padanya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad). Diantara cara menunjukan kecintaan kepadanya ialah dengan memanggil dia dengan sebutan yang paling disukainya. Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu Anhu berkata, “Tiga perkara engkau bisa menunjukkan cintamu kepadanya. Memberi salam jika engkau bersua dengannya, memberinya tempat duduk dan memanggilnya dengan sebutan yang paling dia sukai.” Cara lain ialah dengan memujinya jika dia melihat kebaikan keadaannya, jika memang pujian itu layak untuk disampaikan. Jika dia berbuat baik kepadamu sesuai dengan hakmu, maka engkau harus mengucapkan terima kasih kepadanya. Jika ada seseorang yang hendak menjelek-jelekannya di belakang punggungnya, maka engkau harus menetralisir. Sebab hak persahabatan ialah segera memberi perlindungan dan pertolongan. Dalam Ash-Shahihai disebutkan, “Orang muslim itu adalah saudara orang muslim lainnya, dia tidak menzhalimnya dan tidak menelantarkannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
  1. Mendo’akan sahabat sewaktu hidupnya dan setelah matinya seperti doa-doa yang engkau baca untuk dirimu sendiri. Diriwayatkan dari hadist Abu Darda’ bahwa Nabi SW, bersabda, “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang jauh adalah dipenuhi. Di sisi kepalanya ada seorang malaikat yang diwakilkan. Setiap kali dia mendoakan suatu kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat yang diwakilkan itu menjawab, ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula’.” (Diriwayatkan Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).
  1. Setia dan tulus. Maksud setia ialah tetap mencintai sahabatnya sekalipun sudah meninggal dunia, yaitu dengan mencintai anak-anaknya atau rekannya. Rasulullah memuliakan seorang wanita tua seraya bersabda, “Dia biasa membantu kami selagi Khadijah masih hidup. Sesungguhnya kesetiaan  itu termasuk iman.” Di antara gambaran kesetiaan ialah tidak mengurangi rasa tawadhu’ kepadanya sekalipun kedudukannya sudah tinggi, mapan dan terpandang. Gambaran kesetiaan yang lain ialah tidak mau mendengar omongan-omongan yang tidak baik tentang sahabatnya dan tidak percaya begitu saja terhadap omongan musuh sahabatnya.
  1. Tidak membebani justru memberi keringanan. Terlebih lagi membebaninya dengan hal-hal yang berat dan sulit. Sebaliknya, seseorang harus mendatangkan kegembiraan kepada sahabatnya dengan membebaskannya dari beban dan kebutuhan. Tujuan mencintainya hanya karena Allah semata, menolong agamanya, bertaqarrub kepada Allah dengan memenuhi hak-haknya dan menjaga nama baiknya, agar dia merasa malu karena sesuatu yang juga bisa membuat dirinya malu. Ja’far bin Muhammad berkata, “Sahabat yang paling berat bagiku adalah yang membebaniku dan aku harus mawas diri terhadap dirinya, sedangkan yang paling ringan di hatiku adalah yang jika aku bersama dia, sama saja ketika aku sedang sendirian.”

Untuk melengkapi hal ini, engkau harus bisa melihat keutamaan pada diri sahabatmu atas dirimu, bukan melihat keutamaan dirimu atas dirinya. Kalau perlu engkau harus bisa menempatkan diri seperti pembantunya. [Syahida.com]

Sumber : MINHAJUL QASHIDIN, “Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk”, IBNU QUDAMAH

Share this post

PinIt
scroll to top